Dalam lisan para pemberi nasihat, sering terucap sebuah wejangan yang berbunyi: “barang siapa yang faham akan dirinya, maka ia akan faham siapa Tuhannya”. Karena sudah luasnya jangkauan kalimat ini, rasanya perlu diketahui pula asal muasalnya.

Titik pertama yang perlu diketahui adalah kalimat ini bukanlah sebuah hadits. Imam Nawawi pernah ditanya tentang kalimat ini yang tercantum dalam fatwa nya bahwa kalimat ini tidak ditetapkan sebagai hadits. Begitupun Ibnu Taimiyah yang menilai nya sebagai hadits Maudhu’. Imam az-Zarkasyi dalam kitab al-Ahadits al-Masyhurah menerangkan bahwa; Imam as-Sam’ani menyebutkan asalnya kalimat ini dari ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Razi.

Titik kedua adalah tentang makna dari kalam ini. Imam Nawawi menyebutkan dalam fatwa nya:

من عرف نفسه بالضعف و الافتقار إلى الله و العبودية له، عرف ربه بالقوة و الربوبية و الكمال المطلق و الصفات العلى.

Artinya: siapa saja yang faham dirinya dengan kelemahan, dan butuh kepada Allah yang disertai dengan penghambaan kepada-Nya, maka ia akan faham Tuhannya dengan kekuatan dan sifat ketuhanan yang disertai dengan kesempurnaan mutlak dan sifat-sifat Nya yang luhur.

Syekh Taj ad-Din Ibnu Athoillah as-Sakandari pernah mendengar gurunya; Syekh Abu al-Abbas al-Mursi berkata: “dalam ucapan ini ada cara pandang: yang pertama; murid yang memahami tuhan dengan memahami dirinya terlebih dahulu. Yang kedua; murid yang lebih dahulu memahami keluhuran Tuhannya, baru memahami kehinaan dirinya. 

Syekh Abu Thalib Al-Makki dalam kitabnya Qut al-Qulub berkata: “makna dari kalimat ini adalah jika kamu faham sifat dirimu ketika berinteraksi dengan makhluk bahwa kamu tidak senang jika mereka berpaling darimu, atau kamu tidak senang jika mereka mencaci apa yang kamu lakukan, maka kamu akan faham sifat penciptamu, bahwa Tuhanmu tidak senang jika kamu berpaling darinya, dan Tuhanmu pun tak senang jika kamu mencaci apa yang ia perbuat. Oleh karena itu, puaslah dengan ketentuan nya, dan berinteraksi lah dengan-Nya sebagaimana kamu senang diperlakukan”.

Syekh ‘Izzu ad-Din berkata: “aku telah faham dari rahasia kalimat ini yang harus aku ungkapkan. Bahwasanya Allah telah meletakkan ruh dalam jasad yang akan menunjukkan kepada keesaan Allah”.

Imam Suyuthi menyebutkan ada 10 pelajaran yang dapat diambil dari kalimat ini, antara lain:

  • Struktur tubuh manusia membutuhkan pengatur dan penggerak; yaitu ruh. Dengan ini kita pastikan bahwa alam semesta pun membutuhkan zat yang mengatur dan menggerakkan nya.
  • Ketika kita sudah mengetahui bahwa penggerak dan pengatur tubuh manusia hanya satu; yaitu ruh. Kita harus pastikan bahwa pengatur alam semesta ini pun hanya satu. Tidak boleh ada sekutu yang menyertai-Nya dalam mengatur alam semesta ini.
  • Kita faham bahwa ruh sudah ada sebelum adanya jasad, dan ruh akan tetap ada setelah hancurnya jasad. Kita akan faham bahwa Allah sudah ada sebelum adanya makhluk, dan akan tetap ada ketika binasanya makhluk.
  • Kita tidak mengerti bagaimana bentuk dari ruh. Maka kita harus faham, bahwa Allah maha suci dari bentuk.

Sisanya bisa dicek dalam risalah Imam Suyuthi.

Imam Suyuthi berkata:

“Ketahuilah! Bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui hakikat dirimu, lalu bagaimana kamu dapat mengetahui hakikat Tuhan mu? Seakan-akan dalam ucapan: “barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya maka ia akan mengetahui tuhan nya”, disini mengkaitkan sesuatu yang mustahil dengan mustahil yang lain nya.

Karena kamu tidak mungkin akan mengetahui hakikat dirimu, baik kualitas maupun kapasitas. Jika kamu tidak bisa mendeskripsikan diri mu yang begitu dekat dengan dirimu dengan kualitas, keberadaan dan struktural, dan dia juga tidak terlihat. Lalu bagaimana mungkin layak dalam penghambaan mu kamu mensifati ketuhanan dengan ‘bagaimana’ dan ‘dimana’ sedangkan ia suci dari ‘bagaimana’ dan ‘dimana’!”.

Disarikan dari Risalah al-Qaul al-Asybah fi hadits man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu, karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

19 Agustus 2020, Kairo.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *