Penulis : Arnida Dewi Prameswari & Arsyta Dikara Irawadi
Abstrak
Kecemasan selalu menjadi topik yang menarik, bagaimana kecemasan dapat menjadi pintu masuk menuju gangguan kepribadian lainnya dan bagaimana manusia mampu beradaptasi mengatasi kecemasan menjadi tema riset yang tetap hangat untuk dikaji. Penelitian ini mengkaji apa itu kecemasan, bagaimana penelitian terdahulu mampu mengatasi kecemasan. Penelitian ini menggunakan dua sudut pandang, yaitu psikologi secara umum dan psikologi Islam khususnya Psikoterapi Islam. Penelitian ini menggunakan metode literature reviews, untuk dikaji teknik apa saja yang bisa menurunkan kecemasan. Hasilnya diperoleh bahwa selain psikoterapi, psikoterapi Islam juga sudah mulai digunakan untuk menurunkan tingkat kecemasan individu.
Pendahuluan
Kecemasan istilah yang umum kita dengar mengenai kecemasan, yaitu masa atau abad yang penuh kecemasan. Apalagi mengingat pandemi covid19 yang menambah keyakinan kita akan istilah umum tersebut. Covid 19 menimbulkan kecemasan karena masyarakat menyesuaikan dan banyak pola hidup yang baru. Psikologi memandang kecemasan sendiri beraneka ragam, banyak teori dan teknik diteliti serta dikembangkan untuk mengatasi permasalahan kecemasan ini. Kecemasan menjadi topik yang tidak pernah sepi untuk diteliti, karena kecemasan menjadi awal masuk untuk mendiagnosa beberapa gangguan kepribadian lainnya. Kecemasan sendiri seringkali bukan hal yang berat, tergantung pada kondisi yang dialami tiap individu, namun bukan hal yang ringan pula. Seseorang yang sedang mengalami kecemasan bisa mengalami kehilangan konsentrasi dan kurang optimal dalam mengerjakan sesuatu.
Pembahasan
Manusia mempunyai penyebab kecemasannya masing-masing. Ada yang cemas saat akan ujian, akan tampil di depan kelas, ada yang cemas dengan lingkungan yang baru, adapula yang cemas akan apa yang belum dia hadapi. Cemas sering disebut [anxiety] yaitu perasaan khawatir, takut dengan hal yang penyebabnya belum pasti. Kecemasan adalah reaksi yang tepat terhadap suatu hal yang dianggap mengatur, namun cemas menjadi tidak wajar apabila reaksi dan kemunculannya tidak tepat, baik intensitas maupun tingkatan gejalanya. Kecemasan dialami oleh semua orang dalam perjalanan kehidupannya. Kecemasan adalah hal yang lumrah dialami individu, terutama saat ia merasa tertekan dalam hidupnya. Kecemasan dapat timbul dengan sendirinya atau munculnya tergabung disertai gejala-gejala dari berbagai gangguan emosi yang lain. Kecemasan adalah suatu dorongan yang kuat terhadap perilaku, baik perilaku yang kurang sesuai ataupun perilaku yang menganggu. Kecemasan juga berpengaruh pada masyarakat Indonesia pada umumnya menyebut pobhia, fear, dan anxiety menjadi satu kata yaitu ‘takut’, padahal semua kata tersebut memilik makna yang berbeda. Kecemasan adalah yang individu yang sedang mengalami cemas dan objek yang tidak bisa dipastikan dan alasannya pun tidak begitu jelas. Kecemasan juga bisa diartikan sebagai suatu sistem ego dalam diri manusia terhadap suatu situasi yang dianggap membahayakan sehingga manusia bisa mempersiapkan reaksi yang adaptif. Menurut psikologi islam, kecemasan dijelaskan di dalam Al Qur’an sebagai emosi takut (Cahyandari, 2019) menyatakan takut disini adalah takut kepada Allah SWT yang menyebabkan seseorang dengan taat selalu menjalankan segala perintah Allah dan selalu menjauhi larangan Allah SWT. Aspek Aspek kecemassan
Aspek afektif : yaitu perasaan individu yang sedang merasakan kecemasan, seperti tersinggung, gugup, tegang, gelisah, kecewa dan tidak sabar. Aspek Fisiologis: merupakan ciri fisik yang muncul ketika individu sedang mengalami kecemasan, seperti sesak nafas, nyeri dada, nafas menjadi lebih cepat, denyut jantung meningkat, mual, diare, kesemutan, berkeringat, menggigil, kepanasan, pingsan, lemas, gemetar, mulut kering dan otot tegang. Aspek Kognitif: dengan ciri aspek kognitif yaitu rasa takut tidak dapat menyelasaikan masalah, takut mendapatkan komentar negatif, kurangnya perhatian, fokus, dan kurangnya konsentrasi, sulit melakukan penalaran. Aspek Perilaku: respon yang biasanya muncul adalah menghindari situasi yang mengancam, mencari perlindungan, diam, banyak bicara atau terpaku, dan sulit bicara. Bisa kita tarik kesimpulan bahwa aspek perilaku meliputi semua sisi dalam diri manusia, baik sisi afektif, kognitif maupun psikomotorik individu yang sedang mengalai kecemasan.
Kesimpulan
kecemasan yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini memiliki makna takut yang irasional, dan dialami oleh semua individu serta merupakan respon yang alami dari individu atas suatu peristiwa, reaksi emosi takut itu membuat perasaan yang tidak nyaman, sehingga bisa bermanifestasi terhadap perilaku individu tersebut.
Sumber

No responses yet