Melanjut tulisan tentang Qodho dan Qodar. Saya kasih ilustrasi biar kita lebih memahami bagaimana sih Qodho dan Qodar itu?

Jadi gini, misal dengan irodah Gusti Allah, Sarip dan Siti menikah. Ini qodho namanya.

Nah, ada alternatif asbab yang ditentukan Gusti Allah dalam terpenuhinya qodho : 

1. Nantinya Siti nikah dulu sama Paidi, trus cerai lalu nikah sama Sarip

2. Siti dan Sarip sama2 perawan dan bujang, ketemu dan menikah

3. Sarip menjadikan Siti istri kedua

4. Dan lain-lain

Alternatif asbab yang sudah ditentukan ini dinamakan qodho’. Karena itu, qodho’ disebut konsep global. Apapun jalannya, ketemunya ya Sarip menikahi Siti. Semua jalan qodho’ ini sudah ma’lum, mewajibkan adanya usaha dan kadar yang sudah ditentukan, tidak kurang atau lebih. 

Kemudian realita yang terjadi, ternyata Sarip ketemu Siti pas udah janda. Sarip pas nganter galon ke rumah Siti, langsung kepincut sama Siti. Das des, gak pake lama trus nikah. Lha, ini namanya qodar, detail realita dari qodho’ yang udah ditentukan sebelumnya.

Sehingga, Qodho’ hanya bicara konsep  global dan alternatif-alternatif yang bisa dipilih. Sedangkan qodar merupakan realisasi dari qodho’ tersebut. Apapun realisasi dari qodho dan apapun alternatif yang dipilih manusia, dinamakan qodar dan itu pasti sesuai dengan qodho’. Semua usaha/kasab dhohir batin manusia itupun tidak akan bisa lari dari qodho’ dan qodar Gusti Allah. Makanya dikatakan usaha manusia itu ada walau sifatnya terbatas memilih qodho’ saja. Adanya pilihan usaha dalam mencapai qodho inilah disebut wilayah kasab manusia, mau pilih jalan mana. 

Lalu Qodar inipun ada detailnya lagi yaitu efek samping yang dihasilkan dari kasab. Ini yang disebut hikmah (kebijaksanaan). Hikmah ini nantinya akan menimbulkan hukum. Di sini wilayah dosa dan pahala ada.

Saat Sarip mantab ingin menikahi Siti, maka ada alternatif lagi yang bisa ditempuh Sarip : bisa zina, atau pacaran, atau langsung ngelamar, atau LDR dulu atau lain-lain. Hikmah yang melekat pun beda-beda. Otomatis hukum yang berlaku bisa berbeda-beda, mendapat rejeki, pahala, dosa yang bisa beda2. Di sini nanti pahala dan dosa akan ditimbang menurut bagaimana usaha atau kasab yang ditempuh oleh Sarip dan Siti dalam proses menuju terpenuhinya qodho’.

Makanya, kita wajib ngaji, berusaha dan berdoa agar diberikan petunjuk jalan qodho’ yang benar plus ada ridho Gusti Allah di dalamnya. Tanpa adanya usaha dan doa, walau qodho tetap terpenuhi, namun hukum yang berlaku tidak akan benar dan pastinya tidak ada ridho.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *