Penjelasan awal
Teks pendek kitab ini dapat dilacak dari dua naskah: pertama dalam The Gift Addressed to the Spirit of The Prophet oleh AH John (hlm. 128-138); dan kedua, terdapat dalam syarah yang dilakukan Syaikh Abdul Ghoni an-Nablusi dalam kitab al-Qoulul Matîn. Perbedaan dari keduanya, terdapat di bagian awal dan bagian kecil redaksi, tetapi secara utuh isinya tidak berbeda. Saya memakai yang diterbitkan AH. John, tapi tetap juga mencocokkan dengan al-Qaulul Matin. Saya berfikir kitab ini kitab untuk petunjuk muroqobah suluk bagi yang menggunakan model Tuhfah dalam tarekat Syathoriyah, bukan ilmu diskursus.
Meski saya sendiri ikut tarekat Syathariyah dari dua jalur, Giriloyo dan Jejeran yang berporos pada Syaikh Asya’ri dalam rantai masyayikh Indonesia. Akan tetapi dalam hal muroqobah, saya menggunakan tarekat yang saya ikuti juga, dalam gabungan tarekat yang bernama Qodiriyah-Naqsyabandiyah-Syathariyah yang bersumber dari Syaikh Hasan Anwar dari Syaikh Ibrahim Brumbung, yang memiliki penjelasan berbeda dalam soal makna kalimah “Lâ ilâha illlahôh”, meskipun esensinya sama; dan juga membicarakan “lâ maujûda illallôh”.
Tiba-tiba muncul niat untuk tabarrukan kepada mu’allif dan Ruh Nabi Muhammad dan memohon kepada Alloh untuk selalu “ngudaneni” (biji dan meneliti) dalam berbagai ahwal suluk, saya kemudian terdorong untuk membaca. Hal itu diperkuat, dalam teks kitab itu sendiri yang menyebutkan bahwa mereka yang berbicara tentang Wahdatul Wujud, ada yang berada dalam level “Ilmul Yaqin”, belum sampai pada alam syahadah, dan belum fana’ sifat dan dan fana’ fillah (hal ini ada dalam penjelasan bagian fana’ di kitab Tuhfah). Dengan niat tabarrukan itu dan dikuatkan dengan keyakinan bahwa Alloh menunjukkan kepada siapa yang dikehendaki dan menyesatkan siapa yang dikehendaki. Dan, Semoga Alloh memberi petunjuk kepada saya dan sebagian di antara yang bergiat mendiskusikannya meskipun levelnya adalah “Ilmul yaqin”, baru kemudian ke tahap yang lebih dalam, sesuai kesanggupan, jalan suluk dan anugrah Alloh sendiri.
Untuk mereka yang tidak pernah di pesantren, teks Tuhfah ini meski tipis, tetapi banyak istilah teknis yang sulit difahami apabila tidak membaca literatur tasawuf. Bahkan mereka yang belajar ilmu tasawuf, bila tidak membaca pengetahuan yang dituangkan Ibnu Arobi dalam al-Futuhâtul Makkiyah, atau pemikiran murid-muridnya, akan kesulitan memahami istilah-istilah teknis itu. Oleh karena itu, saya membiarkan istilah-istilah teknis itu. Kemudian setelah saya membaca dengan sistem bandongan, lalu saya lanjutkan menerjemahkannya sebagaimana di bawah ini, dengan memberi sub judul dari saya. Semoga memberi manfaat. Wallohu a’lam.
Terjemah Teks Tuhfah
Iftitah
At-Tuhfatul Mursalah Ilâ Rûhinn Nabî
Bismillâhirrohmânirrohîm.
Dengan memohon bantuan Alloh yang Rohman dan Rohim. Segala puji milik Alloh penguasa seluruh alam, yang memberi ganjaran bagi orang-orang yang bertaqwa, dan bagi orang yang mengosongkan (hatinya) dari Kaunaini (dua alam, dunia dan akhirat). Sholawat dan salam teruntuk lokus paling sempurna bagi tajalli Alloh (al-mazharul atam), Nabi Muhammad, keluarganya, sahabatnya semua.
Berkata, seorang hamba, yang banyak dosa, yang mengharapkan syafaatnya Nabi Muhammad, bernama Syaikh Muhammad bin Fahdlullah al-Burhanpuri: “Ini adalah bagian dari kalimat-kalimat di dalam ilmu haqiqat, dan saya mengumpulkannya, dengan kejernihan mengharap keutamaan dari Alloh, dan kemuliaan-Nya. Dan saya menjadikan ganjarannya (dari kitab ini) untuk Ruh Nabi Muhammad shollallôhu `alaihi wasallam, utusan Alloh. Saya menamakannya dengan At-Tuhfatul Mursalah ilâ Rûhin Nabî shollallôhu `alaihi wasallam (Hadiah yang diperuntukkan bagi Ruh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam). Saya berharap ganjarannya disampaikan kepada Baginda Nabi Muhammad, keselamatan dan kesejahteraan baginya. Sesunguhnya Alloh itu berkuasa atas segala sesuatu, dan memberi ijabah adalah pantas/layak (bagi-Nya).
Tentang Al-Wujud
Ketahuilah wahai saudaraku. Semoga Alloh menganugrahi kebahagiaan kepada kalian dan kami. Sesungguhnya Al-Haqq subahanhu wata`ala adalah Al-Wujud. Dan Al-Wujud itu, bukan suatu syakal (bentuk yang dapat digambarkan), tidak ada hadd (tidak masuk batasan-batasan), wa la hashr (dan tidak masuk dalam ringkasan aqal). Dan beserta dalam keberadaan-Nya itu (al-Wujud bukan syakal dan tidak bisa diberi hadd) itu jelas (bagi aql dan indra). Dan al-Wujud itu bertajalli melalui/dengan syakal (bentuk) dan hadd (batasan). Dan al-Wujud tidak berubah dari Ada-Nya (meski) tanpa bentuk dan batasan. Sebaliknya, keberadaan-Nya sekarang sebagaimana Ada-Nya dulu (yaitu dengan tanpa adanya syakal, dan tanpa ada hadd).
Dan sesungguhnya Al-Wujud itu Wâhid (satu) dan al-albâs (pakaian-pakaian dalam tajalli dari Al-Haqq) itu berbeda-beda dan berbilang. Dan Al-Wujud itu haqiqat dari semua al-maujudât (semua ciptaan yang ada) dan batin dari al-maujudât. Dan sesungguhnya semua Ka’inat (yang ada dari ciptaan) hingga dzurroh (yang terkecil sekalipun) tidak lepas dari Al-Wujud itu.
Dan sesungguhnya Al-Wujud itu bukan dengan makna at-tahaqquq dan al-hushul (makna dari hasil perbuatan fi`il dari aujada atau hashshola dan tahaqqoqo, lalu memperoleh hasil Al-Wujud), karena keduannya (at-tahaqquq dan al-hushul) mengandung makna-makna al-mashdariyah (makna bentukan dari hasil perbuatan fi`il hasshola atau tahaqqoqo, karena Al-Wujud-lah yang membuat semua yang ada, bukan sebaliknya). Keduanya (at-tahaqquq dan al-hushul) tidak bisa maujud di luar (di luar aqal: jadi hanya di level aqal). Dan tidak diucapkan lafadz Al-Wujud dengan makna ini (dari dua makna itu atau satu makna darinya) atas al-Haqq yang Maujud (dengan wujud haqiqi) di luar Alloh ta`ala (berarti kata itu digunakan hanya untuk Alloh ta`ala). Maha sempurna Alloh dari hal demikian itu dengan kesempurnaan-Nya yang sangat besar (bila Al-Wujud bentukan dari makna mashdariyah).
Sebaliknya, kami maksudkan dengan Al-Wujud itu adalah haqiqat yang disifati dengan segala sifat-sifat. Dan, saya maksudkan Wujud-Nya itu adalah dengan Dzat-Nya, dan wujud dari segala yang maujud dengan sebab sifat-sifat-Nya. Dan selain-Nya di luar, mengambil manfaat (dari-Nya).
Dan Al-Wujud itu dari sisi Al-Kunhu Subhanahu wata`ala (Dzat Alloh), tidak tersingkap bagi seseorang, aqal tidak bisa menemukan-Nya, juga al-waham (angan-angan) dan al-hawas (indra). Dan (Al-Kunhu) tidak bisa dijangkau dengan qiyas, karena semuanya itu adalah perkara-perkara yang baru; dan yang baru tidak bisa menemukan dengan al-Kunhu, kecuali (yang baru itu) (menemukan) kepada yang baru juga. Maha sempurna Dzat-Nya dan sifat-Nya dari segala yang baru dengan kesempurnaan Yang Maha Besar. Dan barangsiapa ingin mengetahui/mengenalnya dari sudut ini (dari sudut Al-Kunhu) dan memperluasnya di dalam-Nya maka sungguh dia menghabiskan/menyaia-nyiakan waktunya.
Tentang Martabat Al-Wujud
Dan sesungguhnya, karena itu Al-Wujud memiliki banyak tingkatan/level. Martabat pertama adalah “Martabat lâ Ta’yun” atau “Martabat al-ilthlâq” atau “Martabat Adz-Dzat Al-Bakht (Martabat Dzat yang Mutlak). Ini tidak bermakna pembatasan kemutlakan dan pemahaman meniadaan ta’yun (entitas yang ada) ada tetap di dalam martabat itu. Sebaliknya hal itu bermakna bahwa Al-Wujud di dalam martabat itu (martabat lâ ta’yun), suci dari yang ikutan-ikutan dan sifat-sifat, dan suci dari setiap ikatan sampai pada ikatan kemutlakan juga. Dan martabat ini dinamakan “Martabat Al-Ahadiyah”, yaitu Kunhu al-Haqq subahanu wata`ala, dan tidak ada martabat lain di atasnya, sebaliknya setiap martbat ada di bawahnya.
Dan martabat kedua, “Martabat At-Ta’yun al-Awwal” adalah ibarat dari Ilmu-Nya Alloh ta`ala bagi Dzat-Nya dan Sifat-Nya dan semua al-maujudât dalam sudut global dengan tanpa pembedaan sebagian atas sebagian yang lain. Dan martabat ini dinamakan “Martabat al-Wahdah” dan “Al-Haqiqah al-Muhammadiyah”
Dan ketiaga “Martabat At-Ta’yun Ats-Tsani” adalah ibarat dari Ilmu-Nya Alloh ta`ala kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, dan semua al-maujudât dari sudut perincian, dan pembedaan sebagiannya dari sebagian yang lain. Dan martabat ini disebut “Martabat Al-Wahidiyah” dan “Martabat Al-Haqiqah Al-Insaniyah.” Ketiga martabat ini (Ahadiyah, Wahdah, dan Wahidiyah) semuanya adalah qadîm (ada dalam Ilmu Alloh, belum dilahirkan dalam bentuk ciptaan), dan taqdîm dan ta’khîrnya (dalam melihat ini) adalah `aqlî, tidak pada masa (tidak dalam pengertian waktu).
Dan martabat keempat adalah “Martabat `Âlamul Arwah”, adalah ibarat dari sesuatu al-kauniyah (yang dijadikan Alloh), yang mujarrod (tunggal), yang terbentang/simpel, yang tampak pada bagian-bagian dzawatya (dzat-dzat dari kauniyah) dan amtsal-nya. Dan martabat kelima “Matabat `Âlamul MItsal” adalah ibarat dari sesuatu al-Kauniyah yang tersusun, halus, tidak lagi menerima pembagian dan pembedaan sebagian atas sebagian yang lain, tidak menerima pemecahan (al-khorq) dan … (satu kata yang tidak begitu jelas). Dan martabat keenam “Martabat Alamul Ajsam” adalah ibarat dari sesuatu al-Kauniyah yang tersusun, tampak, menerima pembagian dan pembedaan (dengan yang lainnya). Dan martabat ketujuh adalah martabat yang menghimpun keseluruhan bagi semua martabat yang disebutkan, berupa jismâniyah, nuroniyah, Wahdah, Wahidiyah, tajalli Ilahi yang yang akhir dan pakian-pakaian akhir (bagi tajalli Al-Haqq), yaitu al-Insan.
Dan ketujuh martabat ini, yang paling utama adalah “Martabat li Zhuhûrin” (yang menyebabkan yang lain tampak), dan enam yang tersisa adalah martabat-martabat penampakan keseluruhannya. Martabat terakhir, maksud saya adalah martabat al-Insan (dapat terjadi) apabila seseorang mendaki dan tampak di dalam (penyaksiannya) martabat-martabat semua yang tersebut. Dan yang paling sempurna terjadi pada diri Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, dan karena ini beliaiu menjadi Khotaman Nabiyyin.
Dan tidak boleh mengatakan pada “Martabat al-Ulûhiyah” (tiga martabat dalam Ahadiyah, Wahdah dan Wahidiyah) sebagai martabat al-Kaun dan al-Kholq; demikian pula tidak diperbolehkan (menyebut) nama-nama martbat al-Kaun kepada “Martabat Uluhiyah”. Karena sesungguhnya Al-Wujud itu keduanya sempurna, salah satunya adalah disebut “Kamâlun Dzâtiyun” (sempurna Dzat-Nya) dan “Kamâlun Asmâ’iyun” (sempurna Asma-Nya).

No responses yet