Dua Kesempurnaan Al-Wujud

Al-Kamâl Adz-Dzâtî adalah ibarat untuk menyebutkan penampakan Alloh ta`ala atas diri-Nya, dengan diri-Nya, di dalam diri-Nya, dan untuk diri-Nya, dengan tanpa i’tibar yang lain dan tidak ada yang lain. Dan (menetapkan) Al-Ghina’ul Muthlâq adalah wajib dalam “Al-Kamâl Adz-Dzâtî”. Makna dari “Al-Ghinâ’ al-Muthlâq” adalah musyahadah-Nya Alloh di dalam diri-Nya untuk semua hal. Dan I’tibarot al-Ulûhiyah dan alam-alam berserta hukum-hukumnya, serta ketetapan-ketetapan, juga ukuran-ukurannya yang layak (hal ini jelas semua di dalam Martabat Wahidiyah), ada dari sudut “kulliyyun ijmaliyun” (keseluruhannya secara global). Itu adalah masuknya keseluruhan di dalam “Bathin Dzat” dan  kesatuannya, seperti adanya bilangan-bilangan di dalam kumpulan bilangan yang satu (al-wâhidi al-`adadî), satu yang berbilang).

Inilah yang dinamakan “Ghinâ’ul Muthlâq”. Karena sesungguhnya Alloh ta`ala dengan musyahadah-Nya ini, mencukupi bagi semua penampakan alam dari sudut perincian. Alloh tidak memerlukan untuk menghasilkan musyahadah-Nya itu, kepada alam dan apa yang ada di dalam alam. Karena sesungguhnya musyahadah al-Haqq Alloh atas semua al-maujudât itu dihasilkan di dalam jalan keluruhannya di dalam bathin-Nya dan Wahdat-Nya. Dan musyahadah-Nya Haqq Alloh ini adalah “Syuhûdan Ghaibiyan `Ilmiyyân” (penyaksikan yang Ghaib dengan ilmu-Nya), sebagaimana kesaksian al-mufashal (yang terperinci) di dalam al-mujmal (yang global), dan yang banyak di dalam yang satu; dan seperti musyahadahnya pohon kurma dengan berbagai dahannya dan segala yang mengikutinya dalam biji kurma.

Adapun “Al-Kamal Al-Asmâ’i” adalah ibarat dari penampakan Alloh ta`ala atas diri-Nya, syuhud-Nya atas Dzat-Nya, di dalam at-Ta’yinat al-Khorijiyah (entitas luar), yakni alam dan apa yang ada di dalam dirinya. Dan ini adalah syuhud yang musyahadahnya itu adalah “Ain Wujud”, seperti syuhudnya mujmal atas mufashhal (yang global di dalam yang terinci), yang satu di dalam yang banyak,  dan biji  kurma dalam pohon kurma dan yang mengtikutinya. Dan yang disebut “Al-Kamâl al-Asmâ’i” itu dari sisi at-tahaqquq (hasil dari pekerjaan menyatakan) dan az-zhuhur (hasil dari menampakkan) adalah berhenti pada Wujud Alam dan apa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, makna yang terdahulu itu tidak akan hasil kecuali dengan penampakan alam dari sisi terperinci.

Al-Wujud Bukan al-Hal

Dan sesunguhnya Al-Wujud itu bukan hal/keadaan yang ada dalam al-maujudât, dan Al-Wujud tidak dibatasi dengan al-maujudât; karena sesungguhnya al-hulul (ke dalam al-maujudât) dan ittihâd mengharuskan keduanya ada dua wujud, sampai menghalalkan atau membatasi salah satu di antara keduanya atas yang lain. Dan Al-Wujud itu satu, tidak berbilang secara ashli; dan yang berbilang itu hanya ada pada sifat-sifat yang disaksikan oleh dzauqnya para Arifin dan wijdan mereka. Dan sesungguhnya penyembahan, pembebanan, peristirahatan (di dunia), adzab, siksa, semua kembali pada ta’yinat (yang tampak dari Al-Wujud dalam segala alam melalui Sifat-Sifat, Af`al, dan Asma’).

Dan Al-Wujud itu, sebagaimana Al-Wujud dengan i’tibar kejernihan kemutlakannya berada dalam semua dzat maujudât, dengan melihat sisi adanya Al-Wujud itu di dalam semua dzat al-maujudât, (maka itu) adalah “Ainu dzat-dzat” al-maujudât itu. Sebagaimana dzat-dzat al-mujudât itu ada sebelum tampak di dalam keberadaan, (maka itu) adalah “Ainul Wujud” itu sendiri (esensi dari wujud itu). Demikian pula sifat yang sempurna yang diperuntukkan untuk Al-Wujud itu, dengan i’tibar keseluruhannya (dari sifat-sifat sempurna itu) dan kemutlakannya itu ada/mengalir (berada/berjalan) di dalam semua sifat maujudât, dengan melihat sisi sifat-sifat sempurna itu di dalam cakupan sifat-sifat  maujudât, (maka itu) adalah “Ainu Shifat Maujudât” (esensi dari sifat semua yang ada). Sebagaimana juga semua maujudât sebelum tampak (ditampakkan) di dalam sifat-sifat sempurna itu, adalah “Ainu Sifat Kamilah” itu (esensi dari sifat sempurna dari Al-Wujud). Alam dan semua bagian-bagiannya adalah a’rod, dan ma’rudhnya adalah Dia al-Wujud.

Tiga Level Alam

Dan sesungguhnya Alam itu memiliki tiga mawathin, salah satuanya “ta’yun awal” yang dinamakan “syu’un”; dan kedua adalah “ta’yun tsani” yang dinamakan “a’yan tsabitah”; dan yang ketiga adalah “wujud khoriji” yang dinamakan “a’yan khorijiyah”. Yang dinamakan “A’yan Tsabitah” itu tidak merasakan/mencium bau al-Wujud. Hanya saja, penampakan lahir adalah hukum-hukum-Nya dan atsar-atsar-Nya. Dan sesungguhnya yang didapatkan pertama-tama di dalam segala sesuatu itu Dia, adalah al-Wujud, dan dengan perantaraan-Nya ditemukanlah segala sesuatu. Perumpamaannya, sebagaimana cahaya dinisbahkan dengan semua warna, bentuk; dan karena langgengnya/ajeknya penampakan dan sangat terangnya (Haqq Allah ta`ala), tidak akan mengetahaui penemuan ini kecuali oleh para Khowash (orang-orang khusus).

Tentang Al-Qurbu dan al-Fana’

Al-Qurbu (kedekatan) itu ada dua jenis, kedekatan melalui amalan sunnah (qurbun nawâfil), dan melalui amalan fardhu (Qurbul Farô’id). Qurbun Nawâfil adalah (berakibat pada) hilangnya sifat manusia (basyariyah) dan tampaknya/munculnya Sifat-Sifat Alloh ta`ala, dengan kekuasaan-Nya yang menghidupkan dan mematikan melalui idzin-Nya; dan (orang yang sudah fana basyariyahnya) bisa mendengar dan melihat melalui seluruh jasadnya, bukan hanya dengan idzin dan mata saja. Demikian pula, dia bisa mendengar dari  suara-suara yang jauh, dan melihat  apa-apa yang dilihat dari jauh; dan dengan jalan melalui qiyas, maka ini adalah fana’ shifat di dalam sifat-sifat Alloh”, dan itu adalah buah amalan-amalan sunnah.

Dan yang disebut Qurbul Farô’id adalah fana’-nya seorang hamba secara keseluruhan ke dalam semua maujudât, sampai diri hamba itu sendiri juga tidak kekal penglihatannya kecuali yang dilihat/dirasakan hanya al-Wujudl Haqq Alloh ta`ala (dalam semua maujudat). Ini disebut “Fanâ’ul `Abd fillâh Ta`alâ”, dan itu muncul sebagai buah dari melaksanakan amal faro’idh.

Tentang 3 Jenis Orang Membicarakan Wahdatul Wujud

Dan mereka yang berkata tentang Wahdatul Wujud, di antara mereka ada yang mengetahui bahwa al-Haqq Alloh subhanahu wa ta`ala adalah haqiqat dari semua maujudât dan batinnya maujudât dengan “ilmu yaqin”, tetapi tidak mengalami musyahadah atas al-Haqq ta`ala fil kholqi. Di antara mereka juga ada yang musyahadah  terhadap al-Haqq dengan musyahadal hal (atau ahwal) melalui hati, dan ini martabat yang utama; dan yang paling tinggi di dalam martabat yang utama ini adalah mereka yang musyahadah aras al-Haqq fil kholq dan al-kholq ada dalam al-Haqq, salah satu di antara keduanya tidak menolak dari yang lain, dan ini adalah martabah akhir yang paling utama dan paling tinggi, dan lebih tinggi dari dua martabat yang dahulu, dan itu adalah maqomnya anbiya’, auliya’, dan aqthob. Dengan mengikuti mereka, muhal/mustahil untuk berhasil pada martabat menengah di antara berbagai martabat itu, bagi orang yang menyelisihi syariat dan tarekat, juga utamanya pada martabat akhir yang itu adalah martabat tertinggi dari selainnya dari dua martabat yang terdahulu.

Sesungguhnya semua Maujudat dari sudut al-Wujud adalah `Ainul Haqq subahnahu wata`ala; dan dari sudut ta’yun (entitas ciptaan) bukanlah al-Haqq subahanau wata`ala dan bukan hal lain yang bersifat i’tibar; dari sudut haqiqah/esensinya, maka semuanya adalah Subhanahu wataala, seperti halnya buih, ombak, dan salju semuanya itu dari sudut haqiqah adalah “Ainul Ma” (ersensi dari air); dan dari sudut ta’yun (entitas yang terbentuk) bukanlah air. Demikian pula, seperti sarob/fatamoegana dari sudut haqiqah adalah “Ainul Hawa” (esensi dari udara), dari sudut ta’yun bukan udara, dan sarob/fatamorgana di dalam haqiqahnya adalah udara yang tampak dalam bentuk air.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *