Tentang Dalil-Dalil

Dan dalil-dalil yang menunjukkan adanya Wahdatul Wujud itu banyak. Adapun yang berasal dari al-Qur’anul Azhim, maka Alloh berfirman: 

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…” (QS. Al-Baqoroh [2]: 115);

“…dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qof [50]:16); 

“…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al-Hadid [57]: 4);

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS. Al-Waqiah [87]: 85);

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Yadulloh fauqo aidihim” (QS. Al-Fath [48]:10);

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid [57]: 3);

“Dan dalam dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan” (QS. adz-Dzariyat [51]: 21);

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat….” (QS. Al-Baqoroh [2]: 186);

“…dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (QS. Al-Anfal [8]: 17);

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan Allah itu Maha Meliputi segala sesuatu” (QS. an-Nisa [4]: 126), dan yang selain itu dari ayat-ayat yang mulia.

Adapun (dari hadits syarif) dari perkataan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam: “Sebenar-benarnya kalimah, (yaitu) apa yang dikatakan orang Arab adalah kalimat Labid (yang bersyair), “ingatlah setiap sesuatu yang dilepaskan dari Alloh (tidak ada kecuali) adalah bathil, dan setiap kenikmatan tidak ada tempat (kecuali), yaitu hilang (juga)”

“Dan juga sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam: “Bahwasanya seseorang di antara kalian yang sedang mendirikan sholat, maka dia sesungguhnya sedang bercakap-cakap dengan Tuhan-Nya. Sesungguhnya Tuhannya (Allah) itu di antara orang itu dan al-qiblah”

“Dan juga sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam diceritakan dari Allah subhanahu wa taala “…Dan tidaklah hamba-Ku terus menerus mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Apabila aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk medenhgar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi tangnnya yang digunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan”

“Dan juga sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam: “Sesunggiuhnya Alloh berfirman: “Wahai hamba-Ku, apabila aku sakit, engkau tidak mengunjungiku, dan tatkala aku lapar maka engkau tidak memberiku makan” sampai akhirnya.”

“Dan Imam  at-Tirmidzi meriwayatkan di dalam hadits yang panjang: “Dan yang Nafs Muhammad biyadhihi, seandainya kalian mengulurkan tali ke bumi niscaya ia sampai kepada Alloh, kemudian Rosullulloh mermbaca ayat “Dia yang maha awal dan maha Akhir dan maha Dhohir dan maha Bathin, dan Dia dengan segala sesuatu itu maha Mengetahui” (QS. Al-Hadid [57]: 3), sampai (ada juga) hadits-hadits selain itu dari hadits-hadits shahih.

Adapun perkataan para Arif Billah yang menunjukkan atas Wahdatul Wujud banyak sekali, yang tidak bisa dihitung dengan jumlah, dan secara ringkas, karenanya tidak saya sebutkan. Apabila engkau ingin (hal itu) maka pelajarilah kitab-kitab mereka (engkau akan menemukan insya Alloh).

Tentang Wushul dan Muroqobah

Wahai penuntut ilmu (suluk) jika engkau ingin  sampai pada derajat “Wushûl ilallôh Ta`alâ”, maka tetapilah untuk mengikuti Nabi shollallou alaihi wasallam. Pertama dalam perkataan, perbuatan dhahir dan batin; dan kemudian hadirkanlah muroqobah Wahdatul Wujud. Kedua, itu adalah esensi dari makna al-Kalimah ath-Thayyibah (kalimah lâ ilâha illallôh), dengan tanpa disyaratkan wudhu, tetapi apabila engkau mendapatkan air wudhu itu lebih utama. Dan tidak dikhususkan dengan waktu, tanpa waktu; dan tidak disyaratkan dengan menjaga nafas masuk keluar di dalam muroqobah; juga tidak disyaratkan dengan menjaga huruf-huruf kalimah yang baik itu. Sebaliknya, muroqobahnya itu adalah dengan “menjaga ma’na” saja di dalam setiap keadaan, di kala berdiri, duduk,berjalan, berbaring, bergerak atau diam, minum atau makan..

Jalan muroqobah, hendaknya pertama-tama engkau meniadakan niat (kepada selain Alloh). Niat itu ibarat dari haqiqatmu dan batinmu (dibersihkan) selain dari al-Haqq Alloh ta`ala; dan engkau tidak meniadakan kecuali dengan niat ini, (yang sebenarnya adalah esensi dari makna kalimat “lâ ilâha”. Kemudian tetapkanlah al-Haqq subhanahu wata`ala di dalam batinmu sebagai yang kedua, dan ini adalah makna dari kalimat “Illallôh”.

Apabila engkau mengatakan: “Jika al-Wujud itu satu, dan selain-Nya itu bukan wujud, lalu bagaimana engkau akan menafikan (selain-Nya) dan menetapkan (Haqq Alloh).” Saya mengatakan: “Keraguan tentang (adanya) hal lain dan niat yang menumbuhkan adanya ciptaan adalah keraguan yang batil (maka bagimu), pertama nafikan keraguan ini; kedua tetapkan Al-Haqq subhanahu wata`ala di batinmu.

Wahai penuntut ilmu (suluk), apabila keadaan mengalahkanmu dengan sebab fadhal Alloh, engkau tidak kuasa menafikan niatmu yang meragukan; dan sebaliknya engkau tidak bisa menetapkan kekal hal itu di dalam dirimu, (maka tidak ada jalan lain) kecuali engkau (harus) menetapkan Al-Haqq Alloh subahnahu wata`ala, dan Allohlah yang memberi rezki kepada kita. Ingatlah dengan maqom ini sebagai bentuk hormat kepada Baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Kabulkanlah ya Alloh, Dzat subhanahu wata`ala yang menguasai alam ini. Dan dengan memuji-Nya, mahasuci Alloh yang maha agung. Selesei (sempurnalah) kitab ini, dinamakan At-Tuhfatul Mursalah (ilâ Rûhin Nabî) [] Wallohu a’lam.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *