Oleh: Dedy Eko Aryanto ( Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Indonesia telah memasuki revolusi industri 4.0 yang dikenal dengan perkembangan teknologi dan penggunaan teknologi secara masif, hampir semua sektor telah menggunakan gadget dan internet. Berbicara tentang manuskrip, di zaman abad ke-21 tentu saja banyak yang asing dengan manuskrip karena gencaran gadget sangat masif menyerang manusia yang hidup pada revolusi industri 4.0 yang sangat padat informasi.
Ahli filologi tentu saja tidak diam dengan zaman yang di mana-mana selalu mengandalkan internet, banyak situs manuskrip yang di mana hal ini bertujuan untuk mengenalkan manuskrip kepada semua masyarakat khususnya Indonesia.
Saat ini sudah banyak situs digitalisasi manuskrip yang digagas oleh ahli filologi, baik dari negara Indonesia maupun negara lainnya. Hal tersebut terjadi sebab kemajuan teknologi sangat pesat dan terus berkembang, jika manuskrip di digitalisasikan hal tersebut dapat membuat rekam jejak di dunia internet dan siapa saja dapat membuka dan membacanya.
Sebagai manusia yang sudah mengenal gadget dan internet kita juga tidak boleh melupakan sejarah, karena tanpa sejarah kita tidak akan mungkin dapat merasakan kesuksesan di masa sekarang. Manuskrip dengan segala keunikan dan kandungan maknanya yang beragam sangat menambah wawasan bagi si pembaca.
Lantas apa itu manuskrip?
Manuskrip atau naskah kuno merupakan salah satu peninggalan budaya yang menjadi harta karun setiap bangsa di dunia. Zaman dahulu dikenal dengan budaya menulis yang kuat dan kental. Hasil dari tulisan-tulisan tangan atau diketik tersebut yang menjadi dokumen yang disebut manuskrip.
Disebutkan dalam UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 Bab 1 pasal 2 yang berbunyi manuskrip merupakan dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih.
Manuskrip atau naskah kuno merupakan koleksi langkah yang dimiliki oleh setiap bangsa di dunia. Setiap bangsa dapat melihat sejarah-sejarah bangsanya melalui naskah-naskah yang telah ditulis. Indonesia yang memiliki banyak budaya dari Sabang sampai Merauke pasti memiliki catatan tentang kehidupan masyarakatnya, sosial budaya, adat-istiadat, pemerintahan dan lain sebagainya. Naskah ini tentu saja harus dilestarikan, hal ini kerena naskah kuno adalah peninggalan masa lampau yang berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan atau kondisi yang berbeda dengan kondisi saat ini.
Naskah kuno juga memiliki berbagai informasi yang luar biasa dari berbagai bidang seperti bidang sastra, agama, hukum, sejarah, adat istiadat dan lain sebagainya. Informasi yang terdapat pada naskah kuno tentu saja sangat membatu para ahli sejarah dalam menemukan informasi dan memperkaya kajiannya mengenai sesuatu yang ditelitinya.
Adanya informasi yang ada di dalam naskah kuno, maka kita sebagai generasi yang melek digital perlu melakukan pelestarian terhadap naskah tersebut untuk mempertahankan informasi yang ada di dalamnya. Dengan melakukan pelestarian naskah, maka informasi yang terkandung didalamnya akan mampu menjadi sumber informasi bagi masyarakat luas yang ingin mengakses naskah tersebut.
Perjalanan Nabi Bertemu Allah SWT
Manuskrip dengan judul Hikayat Nabi Mi’raj yang terdapat pada Khastara Perpusnas dengan Catalog ID 552233 dengan deskripsi fisik 62 halaman; 32 x 20 cm. Tidak disebutkan pengarang dan kapan terbitnya, tetapi manuskrip ini menceritakan tentang perjalanan nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah untuk menentukan waktu sholat.
Aksara yang digunakan ialah aksara arab yang berbahasa arab sedangkan keunikan yang terdapat dalam manuskrip hikayat Nabi Mi’raj terdapat pada warna, bahasa arab tulisannya berwarna merah sedangkan bahasa melayu tulisannya berwarna hitam, hal tersebut memudahkan pembaca dalam mengartikan naskah tersebut.

Gambar di atas merupakan kutipan ayat Al-Isra yang terdapat pada manuskrip halaman pertama. Kutipan ayat ini merupakan sebuah gambaran bahwasannya manuskrip ini membahas mengenai perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad, yang mana ayat ini memiliki arti sebagai berikut; Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat (QS. Al-Isra Ayat 1).
Ayat yang terdapat pada manuskrip hikayat nabi mi’raj menjelaskan bahwasannya Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada nabi Muhammad SAW dengan memperjalankannya di suatu malam; pada perjalanan malam itu nabi Muhammad SAW sempat berkumpul dengan para nabi kemudian naik ke langit dan melihat keajaiban-keajaiban alam malaikat dan bermunajat langsung dengan Allah SWT.
Kemudian dijelaskan dalam manuskrip bahwasannya nabi Muhammad diberi buraq merupakan hewan yang berbulu putih tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal, bila terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanya. Lalu nabi Muhammad SAW dan malaikat Jibril menaikinnya dan membawaku hingga sampai di Baitulmaqdis.

Kutipan manuskrip diatas merupakan surah Al-Ahzab ayat 40, yang terdapat pada halaman kedua manuskrip. Kutipan tersebut menggambarkan bahwasannya Muhammad adalah nabi utusan Allah dan Nabi Muhhamad adalah nabi akhir zaman. Yang mana ayat ini memiliki arti sebagai berikut: Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Ahzab Ayat 40).

Selanjutnya pada manuskrip hikayat nabi mi’raj diceritakan perjalanan Nabi Muhammad dan malaikat Jibril melewati langit pertama hingga ketujuh. Pada setiap langit malaikat Jibril ditanya oleh penghuni langit dengan pertanyaan yang sama “Mengenai siapa laki-laki yang bersamamu itu wahai jibril” dan dijawab juga oleh malaikat Jibril dengan jawaban yang sama “baginda Rosulullah shola allahu ‘alaihi wasallam”.
Di langit dunia, Nabi Muhammad S.A.W. berjumpa dengan Nabi Adam Alaihissallam, di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isa Alaihissallam dan Nabi Yahya Alaihissallam, di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yûsuf Alaihissallam, di langit keempat dengan Nabi Idris Alaihissallam, di langit kelima dengan Nabi Harun Alaihissallam, di langit keenam dengan Nabi Musa Alaihissallam, dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrahim Alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mûr. Kemudian Rasulullah S.A.W.
melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntaha (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam.

No responses yet