Benarkah setiap agama punya tafsir ekstrim — ofensif dan menyerang siapapun yang berbeda ? Masing-masing punya kutup lancip dan cenderung melukai satu sama lain. Agama lantas berubah fungsi menjadi mesin penggerak untuk saling membunuh atas nama Tuhan. Lantas bagaimana menjinakkan kutup lancip itu ? 

———

Pesan yang dibawa yoga sangat universal; tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga.

Jadi benarkah Islam saja tak cukup sehingga perlu yang lain — apakah Islam tak cukup membawa damai, membawa tenteram, mensejahterakan dan berkeadilan. Kenapa ajaran Islam tak kunjung memberi solusi terhadap masalah kemanusian bahkan umat Islam malah menjadi bagian dari masalah. Doktrin Islam sempurna menagih umat Islam membuktian dan kerja keras. 

Kuntowidjojo menuturkan bahwa Umat Islam dalam tahap uji— Ali Imran 110 setidaknya membawa tiga pesan universal: humanitas, liberasi dan transendensi dalam satu paket: menjadi umat terbaik (humanitas), menyuruh yang ma’ruf dan mencegah munkar (liberasi) dan beriman kepada Allah (transenden). tak mudah memang menjadi umat pada agama yang ideal, kesempurnaan ajaran Islam tak cukup mampu dijalankan dengan sempurna, ini problem besarnya. 

*^^^***

Amirul Mukminin  Sayidina Ali bin Abi Thalib ra berkata : Tidak akan mencapai puncak tujuan kecuali orang yang membersihkan dan menyucikan dirinya serta berjihad melawan hawa nafsunya (Ghurarul Hikam, hadits 5190). Menyucikan diri butuh jihad menghadapi hawa nafsu. Karena hawa nafsu inilah yang menyeret manusia menyertai Iblis jauh dari hak Allah. Allah berfirman : ‘Apakah kamu tidak melihat orang yang mempertuhankan hawa nafsunya? 

Kenapa beragama menjadi beringas — melawan dan menyebar dusta.  Banyak orang sibuk beragama tapi tidak bertuhan, bahkan makin jauh dari sifat-sifat ilahiyah. Karen Amstrong memberi bahyak penjelasan bahwa agama juga membawa watak destruktif—sebagai picu lahirnya perang sabil. 

Perang agama cukup mengerikan dibanding perang  dengan motivasi lain, sama-sama membawa nama Tuhan dalam wilayah marah— demikian Karen Amstrong memberi penjelasan tentang tragedi kemanusian yang lahir dari selisih telogis. 

**^^^**

Dalam irfan amali, mematikan diri sebelum kematian natural punya arti dalam syariat meninggalkan berbuat dosa dan maksiat serta menghilangkan keinginan-keinginan dari hawa nafsu. Sebagaimana urafa katakan,

Dalam fana, mereka meninggalkan semua keinginan-keinginan hawa nafsu. Dalam baqa, mereka menggabung semua sifat-sifat Tuhan’.  

Sebab itu, dalam pencapaian kesucian dan kesempurnaan, sair suluk, mengenal tiga tahapan yang harus dilalui seorang salik; pertama takhalli, yakni mengosongkan diri dari berbagai sifat buruk, kedua tahalli:  mengisi diri dengan berbagai sifat-sifat sempurna, dan ketiga tajalli, mendapatkan manifestasi nama-nama dan sifat-sifat sempurna jamal dan jalal Ilahi. 

Yoga dan Suluk memang tak ada kaitan, keduanya berada diruang berbeda bahkan dalam beberapa bagian terlihat musuhan sebab berasal dari dua agama yang berbeda. Tapi keduanya punya fungsi sama: menjinakkan kutub lancip beragama agar tak memperturutkan hawa nafsu dalam bergama. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *