Setiap orang, pasti pernah merasakan suatu kondisi, dimana masalah yg kita hadapi tak kunjung menemukan jalan keluar. Saat masalah itu muncul, hati kita dilanda kegelisahan, kecemasan, stress hingga depresi. Stress dan depresi, berpotensi memicu berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit fisik hingga penyakit pikiran.
Setiap manusia pasti memimpikan kehidupannya itu bahagia, dan tidak mau menginginkan kehidupan yg sedih atau menderita. Namun, kadang kita sebetulnya tidak tahu tentang apa yg akan kita hadapi esok hari, atau hari demi hari kita jalani dgn penuh kebahagiaan ataupun sebaliknya, karena memang itu rahasia Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, karena itu bisa menjadikan kita kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, atau berprasangka jelek kepada Allah subhanahu wa ta’ala, itu adalah sikap yg harus kita hindari dari dalam diri kita.
Akan tetapi manusia pasti mengalami kehidupan yg kadang bahagia, kadang juga menderita atau sedih karena memang manusia pada hakikatnya tak selamanya terus-menerus bahagia dan terus-menerus menderita karena memang ini adalah kehidupan didunia yg banyak cobaan dan rintangan yg harus dihadapi oleh manusia
Terkadang juga, kita sering sekali merasa gelisah, ketakutan yg berlebihan atau bahkan merasa tidak semangat, karena tidak ada support sistem dari diri kita sendiri. Terkadang, masalah yg kita hadapi tak kunjung selesai, bukan karena tak ada solusinya, melainkan karena kita tidak cukup tenang untuk dapat berpikir jernih. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS Al-Insyirah (94:6) : “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Dengan demikian, kita mesti melakukan usaha2 perawatan dan pemeliharaan badan dan jiwa kita secara seimbang, supaya kita tetap sehat baik secara fisik maupun psikis, supaya kita tetap panjang umur dan terpuji semua perbuatan kita, baik di sisi Allah Sang Pencipta jagat raya ini, maupun di sisi manusia dan makhluk semesta (hablun min Allah wa hablun min al-nas wa hablun min al-‘alam).
Ikuti Ritme sunnatullah
Jadi manusia hidup ini harus mengikuti ritme sunnatullah. Jika kita hidup mengikuti ritme sunnatullah, berarti kita selamat (dunia maupun akhirat), begitu sebaliknya, siapa saja yg menentang sunnatullah, pasti akan binasa, dan tidak ada seorang pun yg mampu merubah sunnatullah, kecuali Allah itu sendiri, Wa lan tajida li sunnatillahi tahwila, tabdila…
Beberapa kunci kedamaian
Untuk ikhtiar menggapai itu, ada beberapa kunci taqarrub ilallah, dalam mencari kedamaian berupa ketenangan yg dianjurkan dalam Islam adalah :
Mengingat Allah
Bersyukur atas yg telah diberikan Allah
Taat kepada perintah Allah
Sholat wajib dan sunnah
Berkumpul dengan orang sholeh
Menghadiri Majelis Ta’lim dan Dzikir
Membaca Al-Quran
Yakin terhadap pertolongan Allah
Dan jalan taqarrub lainnya
Selain amalan2 diatas, perlu dilengkapi dgn amalan batin, yg dapat menjadikan hati kita menjadi tenang, yaitu Sadar dan Sabar.
Dengan bersabar dalam menjalani cobaan dan berusaha menerima apapun ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala, dgn berlapang dada. Hal itu dapat membuat hati kita menjadi tenang dan tidak mudah gelisah.
Jangan lupa, dgn sering membaca atau mendengarkan ayat suci Al-Quran, perbanyak dzikir istighfar dan sholawat misalnya, menjadi obat mustajab bagi orang yg sedang memiliki penyakit hati. Hal ini dipercaya, mampu menenangkan hati bagi orang yg sedang gelisah, dan mencari ketenangan hati. Apabila melakukannya dgn khusyuk, maka hati akan merasa tenang, pikiran jernih, batin tentram dan hidup merasa damai.
Demikianlah, beberapa kunci amalan yg insya Allah subhanahu wa ta’ala mampu memberikan ketenangan dalam Islam. Semua bergantung pada kita, apakah mampu melaksanakan amalan2 diatas, atau justru tetap terfokus pada masalah yg kita hadapi. Intinya, jika kita merasa kesulitan dalam menghadapi suatu masalah, ingatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena, hanya dgn mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, kita akan mendapat ketenangan, dan hanya pada-Nya lah kita meminta pertolongan.”Iyyaaka Na’budu Wa Iyyaaka Nasta’in”.
Wallahu a’lam
from a variety of sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet