Categories:

Pernah KH. Djazuli menugaskan Gus Nurul Huda untuk datang ke Watucongol mewakili KH. Djazuli  untuk menyerahkan adik-adiknya yang mondok ke Watucongol.

Di Watucongol, Gus Huda di samping menyerahkan adik-adiknya kepada KH. Dalhar sebagaimana amanat KH. Djazuli, juga meminta maaf bila bila adiknya, Gus Miek, banyak melakukan kekeliruan di Watucongol.

Tetapi, jawab KH. Dalhar waktu itu justru sangat mengejutkan Gus Huda, “Gus Miek itu difatihahi mental,” jawab KH. Dalhar. Gus Huda hanya tersenyum karena dia sudah paham akan adiknya yang satu itu.

Dalam versi yang lain diceritakan bahwa bukan Gus Huda yang menyerahkan Gus Miek, tetapi kebalikannya. Saat itu, Gus Huda & Gus Fu’ad disuruh KH. Djazuli agar mondok ke KH. Dalhar.

Saat hendak berangkat, Gus Miek masih duduk di teras dengan hanya memakai celana pendek. “Mau ke mana, Mas Dah?” tanya Gus Miek.

“Aku disuruh bapak mondok ke Jawa Tengah dengan Fu’ad,” jawab Gus Huda. Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api.

Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri. “Kenapa di sini?” tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.

“Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar,” jawab Gus Miek. “Aku tidak mau kalau pakaianmu seperti itu,” jawab Gus Huda sambil memberikan pakaiannya ke pada Gus Miek untuk berganti pakaian.

Mereka bertiga kemudian sowan. Setelah sowan, Gus Miek mengantarkan memilih kamar dan setelah itu hilang entah ke mana dengan meninggalkan pakaian Gus Huda.

Akhirnya, semua memburu Gus Miek karena dianggap telah berbohong perihal wafatnya KH. Dalhar. Tetapi semua menjadi terdiam ketika 25 Ramadhan 1959, KH. Dalhar benar-benar meninggal dunia.

Al Fatihah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *