Categories:

Oleh: Ratna Pratiwi mahasiswi Fakultas Psikologi UHAMKA

Belakangan ini, kita sering mendengar istilah healing, atau self-healing, yang berarti penyembuhan, cara paling efektif untuk menyembuhkan diri dari luka atau masalah yang telah terjadi. Sebenarnya, dalam agama Allah SWT telah memberikan petunjuk dan menjelaskan hal ini. Lalu, apa yang dimaksud dengan self-healing dalam Islam? dan apakah mungkin dengan self-healing dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT?
Apa itu Self-Healing?
Self-healing berarti penyembuhan diri, proses untuk menyembuhkan diri dari gangguan psikologis seperti trauma, patah hati, dan sebagainya. Dalam psikologi, healing diartikan sebagai pemulihan emosional untuk memperkuat diri. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa proses ini dilakukan oleh diri sendiri (self) yang akan memperoleh hasil untuk diri sendiri pula. Self-healing memerlukan penyembuhan dengan dorongan insting dan kemauan diri sendiri. Bisa dikatakan bahwa metode self-healing inidapat merubah keadaan dari yang negatif menjadi positif yang umumnya dialami oleh orang-orang secara psikologis.
Konsep Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia diturunkan oleh Allah SWT, sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan penjelasan (Ramayulis & Nizar, S., 2010). Istilah kebahagiaan, ketentraman, keselamatan, kejayaan, kemakmuran dan kesempurnaan, dalam istilah kesehatan mental tersebut, al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan uraian definisi kesehatan mental, meliputi hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, lingkungan dan Tuhan, yang kesemuanya ditujukan untuk mendapatkan hidup bermakna bahagia dunia dan akhirat (Hawari, D., 1996).
Tujuan dan Manfaat Self-Healing

  1. Tujuan Self-Healing
    Self-healing sebagai bentuk usaha dalam pemulihan memiliki tujuan untuk menciptakan hidup yang lebih nyaman dengan diri sendiri dan menjadi diri sendiri dalam menghadapi berbagai konflik dan masalah di masa depan.
  2. Manfaat Self-Healing
    Metode self-healing salah satu solusi yang sangat bermanfaat untuk membantu individu menyelesaikan gangguan mental, serta keseimbangan diri menghadapi kondisi mental negatif. Proses self-healing bermanfaat dalam mempercepat pemulihan psikologis yang dialami individu dengan berbagai teknik dan tahapan-tahapan pemulihan
    Metode-metode Self-Healing untuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
  3. Sholat
    Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, pada saat dalam peperangan atau dalam perjalanan yang jauh, Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bilal untuk beristirahat dengan shalat. Shalat dapat mengobati penyakit-penyakit, seperti persepsi yang salah terhadap diri sendiri maupun orang lain, mengobati kesedihan dan juga keputusasaan.
  4. Puasa
    Puasa dapat dijadikan sebagai metode penyembuhan diri, bagaimana bisa?
    Kalimat “niscaya kalian akan sehat” dalam hadist yang diriwayatkan Ath Thabrani dalam Mu’jam al Awsath, merupakan bentuk jaminan kesehatan dari Rasulullah SAW bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan baik. Tidak hanya kesehatan fisik, namun dengan berpuasa dapat menenangkan jiwa dan mental seseorang. Stresor dalam bidang kesehatan merupakan stimulus atau peristiwa yang menimbulkan respons stres pada suatu organisme. Dengan berpuasa, kita dapat stresor kekebalan tubuh, kekuatan saraf, fungsi pencernaan, fungsi jantung, hingga ke tulang-tulang maupun sel organ dalam tubuh.
  5. Sedekah
    Selain mendapatkan pahala dari bersedekah, namun bersedekah juga dapat menyembuhkan kita dari berbagai penyakit, dengan meniatkan kesembuhan ketika bersedekah. Rasulullah pernah mencontohkan jika tak ada obat dari suatu penyakit, maka bersedekahlah.
    Allah SWT pun menjanjikan hati yang tenang kepada orang-orang yang bersedekah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran, orang yang bersedekah akan mendapat sedekah dan tidak ada kekehawatiran serta bersedih hati.
  6. Berdzikir
    Tujuan dari self-healing adalah untuk menentramkan hati, maka dengan berdzikir hati seseorang akan jauh lebih tentram. Dengan rutin berdzikir, seseorang akan lebih mudah mengontrol emosi, menjadi lebih tenang dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, serta dapat menenangkan jiwa. Dalam sejarah menyebutkan bahwa Rasulullah pernah mengalami proses tersebut, pada saat beliau menyepi di Gua Hira dengan bertafakur akan kebesaran-Nya. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, dalam ayat tersebut menunjukkan dalam kondisi apapun kita, Allah akan selalu ada bersama kita. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah, takut, ataupun khawatir.
  7. Bersyukur
    Bersyukur dapat membantu pelepasan dopamin. Hal tersebut dapat membuat kita menjadi bahagia, semakin banyak dopamin yang dilepaskan, otak kita semakin banyak menemukan hal yang bisa disyukuri. Dengan kata lain, semakin sering bersyukur maka kemampuan kita untuk lebih bersyukur kian terasah. Saat bersyukur, kita turut merangsang bagian korteks prefrontal. Bagian otak tersebut mengatur aktivitas saraf untuk mengendalikan stres dan rasa sakit.

Manusia hidup berdampingan dengan alam semesta, tak terlepas dari adanya konflik. Masalah yang dihadapipun beragam, cara penyembuhannya juga berbeda-beda. Dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu berserah diri kepada Allah. Al-quran dan hadis telah menunjukkan bagaimana cara kita umat manusia ketika sedang dalam keadaan terpuruk.
Seburuk apapun masalah yang kita dapati, seputus asanya kita menghadapi cobaan yang sedang Allah berikan, dan banyak hal menyakitkan yang kita rasakan, cobalah lakukan metode-metode diatas sebagai obat penenang hati, self-healing paling ampuh dan sebagai jembatan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Referensi:
Nor, Z. 2022. Menjaga Kesehatan Mental dengan Self-healing (studi analisis tafsir maqasidi). Tesis, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). http://repository.iiq.ac.id/bitstream/123456789/1691/2/217410793-Nor%20Zakiah-Publik.pdf
Afni, M. 2022. Self-healing dalam Al-qur’an (Analisis psikologi dalam surat yusuf). Skripsi, Universitas Islam Negeri Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/64619/1/Afni%20Mulyani%20Harefa_11180340000014.pdf
Samain. 2020. Konsep Kesehatan Mental dalam Al-Qur’an dan Implikasinya Terhadap Adversity Quotien Perspektif Tafsir Al-Misbah. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1-6. https://jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/attadib/article/view/961/695

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *