Oleh: Mochammad Brian Luberizky, Universitas Marsekal Suryadarma, Fakultas Teknik Industri.
Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dyah Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dyah Dwarawati. Dyah Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bergelar Bhre Kertabhumi.
Sunan Ampel memiliki dua istri, Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Istri pertamanya memiliki 2 anak, Dewi Murtasiah, istri Raden Fatah (raja pertama kekhalifahan di Demak Bintaro) dan Dewi Murtasima, istri Raden Paku (Sunan Giri). Sedangkan dari istri keduanya Sunan Ampel dengan 5 orang anak, Siti Syare’at menjadi istri Raden Umar Haji (Sunan Madalika), Siti Mutmainah menikah dengan Raden Mukhsin (Sunan Wilis), Siti Sofiah menikah dengan Raden Ahmad (Sunan Malaka), Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, dan Syarifuddin atau Raden Kosim yang dikenal dengan Sunan Drajat..
Menurut Babad Gresik, Raden Rahmat berhasil mengubah wilayahnya yang berawa dan berair menjadi makmur. Raden Rahmat mendirikan pesantren pertama di Ampel Denta, Surabaya. Dari pemikiran inilah beliau mendidik banyak pemuda muslim untuk menyebarkannya ke setiap pelosok pulau Jawa.
Di antara murid-muridnya yang kemudian muncul sebagai tokoh agama Islam adalah Raden Paku yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri, Raden Patah pendiri kerajaan Islam pertama di Demak yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah, Raden Makdum Ibrahim ( putra Sunan Ampel) dikenal sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin (anak tiri Sunan Ampel) dikenal sebagai Sunan Drajat, dan Maulana Ishak, yang pernah diutus untuk mengubah penduduk lokal dari Blambangan ke Islam.
Usaha Sunan Ampel dalam mendirikan pesantren tidak sia-sia karena pemuda-pemuda dari penjuru tanah air datang ke Ampel Denta dengan tujuan untuk menimba ilmu agama dari Sunan Ampel. Di pesantren ini, pemuda muslim didorong untuk bekerja sebagai petugas dakwah untuk menyebarkan Islam ke seluruh nusantara. Bahkan Raden Fatah adalah salah satu murid Sunan Ampel, berkat ilmunya Raden Fatah telah dipercaya oleh Sunan Ampel sebagai wakil Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam kepada santri lainnya.
Moh limo Mohlimo atau Molimo, Moh (tidak mau), limo (lima), adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu:
- Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamar dan sejenisnya.
- Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.
- Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
- Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
- Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Masjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro). Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
Referensi dan Sumber :
- Retna Dwi Estuningtyas, S.Kom.I, M.Kom.I
- Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara

No responses yet