Menemukan yang Sejak Lama Terlupakan: Manuskrip Kitab “Bayân al-Qahhâr” Karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan

0
352

Oleh : Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Berikut ini adalah halaman pertama dari manuskrip kitab berjudul “Bayân al-Qahhâr” karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (wafat sekitar 1730 M), ulama besar sekaligus tokoh utama sejarah Islamisasi wilayah Jawa Barat pada abad ke-18 M.

Kitab “Bayân al-Qahhâr” ditulis dalam bahasa Jawa aksara Arab (Jawa Pegon) dan berisi kajian tentang keutamaan hari-hari dan bulan-bulan (dalam sistem penanggalan rotasi bulan [lunar] atau yang lazim disebut hitungan kalender Hijriyah).

Manuskrip kitab “Bayân al-Qahhâr” ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dalam koleksi Abdurrahman Wahid (Gus Dur, dengan kode koleksi AW) bernomor (?). Naskah bernomor kode tersebut sejatinya menghimpun beberapa macam teks, semacam teks kitab fikih, tauhid, gramatika Arab (nahwu), termasuk teks kitab “Bayân al-Qahhâr” ini.

Keterangan identitas kitab (‘unwân al-kitâb) dengan judul “Bayân al-Qahhâr” sekaligus identitas Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan sebagai pengarang atas karya tersebut (ism al-mu’allif) terdapat pada dua baris terakhir halaman pertama teks. Judul kitab secara jelas tertulis dengan redaksi “Kitâb Bayân al-Qahhâr”, sementara nama Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan tertulis dengan nama “Syaikh Haji Abdul Muhyi Panembahan ing Karang”.

Tertulis di sana:

ايك له كتاب دين اراني كتاب بيان القهار. اتاوي أصلي كتاب ايك سكع شيخ حج عبد المحي فنمباهن اع كرع

(Ikilah kitab den arani “Kitâb Bayân al-Qahhâr”. Utawi asale kitab iku saking Syaikh Haji Abdul Muhyi Panembahan ing Karang // Inilah kitab yang dinamakan “Kitâb Bayân al-Qahhâr”. Adapun asal kitab ini merupakan karangan dari Syaikh Haji Abdul Muhyi Panembahan ing Karang [Pamijahan])

Sayangnya, tidak ada kolofon yang memberikan kita informasi kapan kitab ini diselesaikan. Saya sendiri memperkirakan jika naskah ini adalah naskah salinan yang dibuat oleh salah satu murid generasi setelah Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan.

Daerah “Karang”, sebagaimana tertulis dalam keterangan teks di atas, adalah tempat Syaikh Abdul Muhyi mendirikan pusat dakwah keislamannya. Karena itu jugalah, Syaikh Abdul Muhyi bergelar “Panembahan ing Karang”, yang berarti “orang besar yang dikeramatkan di Karang”. Di kemudian hari, nama Syaikh Abdul Muhyi lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, kampung yang berada di bawah wilayah administratif Kecamatan Karang (Karangnunggal). Selain itu, Syaikh Abdul Muhyi juga dikenal dengan julukan “al-Safarwadi” (berasal dari bahasa Arab, safar [pengembara] dan wâdî [lembah perbukitan]) yang berarti “Sang Pengembara Lembah Berbukit”.

Di daerah Karang (Pamijahan) itu juga, Syaikh Abdul Muhyi mendirikan “zawiyah” (pemondokan sufi) yang menjadi pusat penyebaran ajaran Tarekat Syattariyah ke seluruh kawasan Priangan, Cirebon, Banten, dan kawasan Pulau Jawa lainnya. Para mursyid dan murid Tarekat Syattariyah di Jawa secara umum, bisa dipastikan genealogi intelektual (sanad keilmuan) mereka bermuara pada Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan.

Terdapat beberapa sarjana yang mengkaji sosok Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dan perkembangan Tarekat Syattariyah yang diturunkannya di sekitar wilayah Pasundan dan Jawa, seperti Rinkes, Martin van Bruinessen, Tommy Christomy, Oman Fathurrahman, Mahrus el-Mawa, dan lain-lain.

Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan sendiri mengambil sanad Tarekat Syattariyah dari Syaikh Abdul Rauf Singkel (w. 1693), ulama besar kesultanan Aceh yang menulis sejumlah karya berpengaruh bagi sejarah pemikiran Islam di Kepulauan Nusantara abad ke-17 hingga saat ini. Adapun Syaikh Abdul Rauf Singkel, beliau mengambilnya dari dua guru utamanya yang berkedudukan di Madinah, yaitu Syaikh (Mulla) Ibrahim al-Kurani (w. 1690) yang bergelar “Burhân al-Dîn”, dan juga dari Syaikh Ahmad al-Qusyasyi (w. 1660) yang bergelar “Shafiy al-Dîn”.

Di antara salah satu putra Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah Syaikh Faqih Ibrahim yang berkedudukan dan dimakamkan di Cipager, Majalengka (Jawa Barat) yang juga dicatat sebagai salah satu tokoh kunci penerus dan penyebar ajaran Tarekat Syattariyah di Jawa setelah ayahnya. Tomy Christomy dalam bukunya “The Sign of the Wali” (Canberra: ANU Press, hal. 103) mengisyaratkan jika Syaikh Faqih Ibrahim Cipager ini pernah mengajar di lingkungan keraton Katasura. Salah satu murid dari Syaikh Faqih Ibrahim Cipager di Kartasura ini adalah Syaikh Abdurrahman Kartasura. Tampaknya, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan menamakan salah satu putranya dengan “Ibrahim” (Syaikh Faqih Ibrahim Cipager) sebagai upaya “tabarrukan” dan “tafa’ulan” dengan “kakek guru”-nya yang berada di Madinah, yaitu Syaikh Ibrahim al-Kurani.

Keberadaan manuskrip kitab “Bayân al-Qahhâr” sebagai karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan ini tentu menjadi sebuah informasi yang sangat berharga, yang dapat melengkapi dan memperkaya khazanah kajian sosok Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, karya, beserta pemikirannya. Karena selama ini, karya Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan yang dikenal hanya ada satu buah saja, yaitu “Kitab Martabat Kang Pitu” (ditulis dalam bahasa Jawa Pegon) yang berisi ajaran tasawuf martabat tujuh. “Menemukan” manuskrip kitab “Bayân al-Qahhâr” ini seumpama mendapatkan kembali mutiara intelektual Islam Nusantara yang sejak sekian lama terlupakan.

Wallahu A’lam.

Bogor, Akhir Syawwal 1440 Hijri (Juni 2019)
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here