Dengan membaca kitab ulama salaf, kita bisa mempelajari model fatwa, baik dari kaidah, dlowabit, dan asas kontruksi dari pendapat tersebut. ‘Malakah fikhiyah’ (kemampuan menjiwai fikih) tidak bisa terbentuk, tanpa mendalami model atau cara penetuan hukum ulama terdahulu. Karna dari pembacaan kaidah tersebutlah, persoalan-persoalan kontemporer yang pelik bisa dipecahkan dan diselesaikan.

Dengan membaca kitab ulama salaf, bisa diketahui permasalahan-permasalahan yang serupa, sehingga bisa dimanfaatkan untuk diimplementasikan dan dijadikan dasar fatwa permasalahan kontemporer. (baca : Ilhaq al-Mas’ail bi Nadzairiha, bahasa LBM-nya). 

Bolehkah mengutip kitab fikih begitu saja?

Perlu adanya dasar-dasar pemahaman fikih secara umum (pola penulisan, metode, dan istilah madzhab tertentu), dan harus ada pembacaan secara komprehenshif dalam suatu teks fatwa (histori sebelumnya, kejadian dan efek yang ditimbulkan). Setidaknya, minimal pernah baca madkholnya (pendahuluan) sejarah madzhab-lah.

Tapi, kalau hanya sekedar kutipan sederhana, dan perakara umum, sudah dimaklumi, seperti halnya masalah ibadah makhdloh itu ada 5 waktu. Tentu tidak masalah. Kecuali sudah masuk ke dalam permasalah yang pelik.

Keunggulan Belajar Kitab Salaf

قال سيدنا الإمام أحمد بن حسن العطاس : “من أراد التقدم فعليه بكتب المتقدمين، ومن أراد التأخر فعليه بكتب المتأخرين.”

Sayid Ahmad bin Hasan al-Athas berkata : “Barang siapa yang ingin berpikiran maju (progresif), maka hendaknya membaca kitab-kitab ulama terdahulu, dan barang siapa yang ingin berpikiran terbelakang (stag), maka hendaknya baca kitab-kitab ulama kontemporer.”

وقال أيضا : جردوا القراءة في كتب السلف، لأنهم جمعوا بين العلم والعمل والإخلاص والصدق، واما اعراض بعض الناس عن كتب السلف المتقدمين في الفقه وغيره فهو من الحرمان، والتحكم في الدين واتباع الهوى.

Tekunlah membaca kitab-kitab salaf, karena mereka (ulama salaf) mengumpulkan ilmu, amal, ikhlas dan kejujuran. Adapun sebagian manusia yang berpaling dari kitab salaf terdahulu, dalam fikih atau yang lainya, ia termasuk orang yang terhalang dan menghakimi agama dan mengikuti hawa nafsunya. 

 ومن المصيبة العامة ان اكثر المتأخرين يعتقدون انهم أعرف من المتقدمين وأحوط منهم، مع انهم ما عملوا الا ان جمعوا كلام المتقدمين وضموا بعضه الى بعض، وحذفوا الأدلة والعلل واقتصروا عليه، وقال : هذا حاصل العلم.

Sebagian dari musibah yang umum terjadi adalah ketika banyak ulama kontemporer berkeyakinan bahwa ia ‘lebih mengerti’ dan lebih komprehenshif daripada ulama terdahulu. Padahal, sejatinya yang mereka (ulama kontemporer) lakukan hanya mengumpulkan pendapat-pendapat terdahulu, dan mengkombinasikan satu dengan yang lain, menghapus dalil-dalil, illat, dan meringkasnya, dan kalau sudah selesai mereka berkata : “ini hasil jerih payahku”.   

Dikutib dari Kitab al-Manhaj al-Sawi : 246

Semakin kita tarik busur panah lebih jauh ke dalam, maka akan lebih cepat dan jauh anak panah itu melesat. Semakin kita tarik keilmuan Islam dari yang paling dekat dengan Rasulullah, niscaya progresifitas kita akan lebih melesat. 

  • Terakhir, jika kita hanya modal kutip saja, apa bedanya dengan para penyeru kembali al-Qur’an dan Sunah? hanya mengutip saja

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *