- Catatan Singkat Ngaji Kitab “al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk” Karya Imam al-Ghazali (450-505 H) dengan Naskah Pendamping “Politics” Karya Andrew Heywood (2007)
Ilmu politik menarik karena bersinggungan dengan ketidaksetujuan (disagree). Kita tidak mudah menyetujui bagaimana seharusnya hidup bersama. Siapa seharusnya mendapatkan apa. Bagaimana seharusnya kekuasaan dan sumber daya didistribusikan. Haruskah masyarakat dikembangkan dengan prinsip kerjasama atau kompetisi. Dan seterusnya.
Kita juga tidak mudah menyetujui bagaimana sebuah masalah diselesaikan. Bagaimana kebijakan kolektif dirumuskan. Siapa yang seharusnya menyuarakan. Seberapa besar pengaruh yang harus dimiliki oleh masing-masing. Dan seterusnya.
Bagi Aristoteles (385-323 SM), hal inilah yang menyebabkan ilmu politik disebut sebagai “master of science”. Tidak lebih, karena ilmu politik adalah pengetahuan dan aktivitas anak manusia untuk berusaha meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya mewujudkan masyarakat yang baik (good society). Dari titik ini, politik tidak lain adalah aktivitas sosial yang meniscayakan dialog, bukan monolog.
Meniscayakan interaksi dan komunikasi. Satu orang yang hidup sendirian, semisal Robinson Crusoe (tokoh novel karya Daniel Defoe, 1719) mungkin bisa mengupayakan kecukupan diri sendiri, membuat karya seni, bercocok tanam, atau melaut. Namun, tetap saja, ia tidak bisa mewujudkan kehidupan yang “politis”.
Selain itu, problem “ketidaksetujuan” yang menjadi jantung kajian ilmu politik di atas juga merembet pada ketidaksetujuan para pengkaji ilmu politik. Mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan sisi ontologis ilmu politik itu sendiri. Mereka berbeda pendapat dalam menentukan cara bagaimana seharusnya ilmu politik dikaji dan dikembangkan. Mereka berbeda pendapat dalam merumuskan cara bagaimana seharusnya aktivitas dan interaksi politis dianalisa dan dijelaskan.
Karena itu, setidaknya ada enam isu kunci dalam ilmu politik.
- Pertama, definisi seperti apa yang tepat untuk merumuskan pengertian politik?
- Kedua, bagaimana ragam tradisi pemikiran telah (dan akan) mengkaji ilmu politik?
- Ketiga, apakah politik senantiasa hadir dalam semua institusi sosial, atau hanya di sebagiannya saja?
- Keempat, pendekatan seperti apa yang tepat untuk mengembangkan ilmu politik sebagai salah satu disiplin keilmuan?
- Kelima, mungkinkah ilmu politik dikaji secara scientifik?
- Keenam, fungsi dan manfaat seperti apa yang diperankan oleh ragam konsep, model, dan teori dalam upaya menganalisa peristiwa politik?
Lantas, tertarikkah anda?

No responses yet