Ada empat faktor yang kutangkap dari jawaban judul di atas. Keempat faktor ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ia saling berkait berkelindan sangat erat. Pertama, kultur keberagamaan masyarakat Banjar yang sudah Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah), sejak lama ketika awal Islam masuk ke Bumi Lambung Mangkurat dan Tanah Antasari bahkan pada era Kesultanan Banjar saat pemerintahan Tahmidullah, Aswaja menjadi mazhab atau ideologi kerajaan. Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menjadi sumber hukum dan pandangan hidup bagi masyarakat Banjar serta menjadi pedoman bagi para Mufti Besar, Mufti, Qadi Besar, Qadi, Khalifah, Penghulu dan Kaum dalam memutuskan dan menetapkan perkara hukum. Aswaja yang menjadi mazhab kesultanan ini, kemudian diikuti oleh masyarakat Banjar hingga secara perlahan menjadi tradisi hidup (live tradition) dan menjadi adat-istiadat yang diwariskan dari masa ke masa dari generasi ke generasi sampai saat NU pertama kali berdiri di luar pulau jawa. Tepatnya kata Wakil Ketua PCNU Kabupaten Banjar, Ustadz Khairullah Zain, Cabang NU pertama kali berdiri di luar Pulau Jawa adalah di Martapura, Kalimantan Selatan.
Kedua, faktor Tuan Guru H. Kasyful Anwar Sang Pembaharu Pondok Darussalam, Martapura, (1922-1940) yang berperan seperti Syekh Khalil Bangkalan, Madura atas KH. Hasyim Asy’ari. Ketika murid beliau Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha) mau mendirikan NU di Kalimantan Selatan, beliau memberi restu dan mendukung sepenuhnya. Beliau memerintahkan murid beliau berangkat menghadiri Muktamar NU pertama pada 21 Oktober 1926. Sepulang Muktamar, maka berdirilah cabang NU di Martapura, Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha) sebagai Rais Syuriah (ketua) dan Tuan Guru H. Husin Ali sebagai Katib (Sekretaris)nya. Karena masih belum memiliki gedung sekretariat, maka kantor NU disilahkan beliau meminjam tempat di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, sehingga dalam perspektif sejarah, kehadiran NU di Kalimantan Selatan tak bisa dipisahkan dengan Pondok Pesantren Darussalam. Kemudian, atas peran dan pengaruh beliau pula, banyak dari organisasi-organisasi Islam lokal masuk secara massal ke dalam NU. Selanjutnya, beliau sangat aktif dalam kegiatan NU terutama dalam kegiatan Bahtsul Masa’il yang sering berlangsung di rumah Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan dan Tuan Guru H. Husin Ali. Hasil bahsul masail kemudian dibukukan menjadi sebuah kitab Hasil Bahtsul Masail dari tahun 1357 sampai 1358 Hijriah. Berarti Bahtsul Masail, waktu itu sangat hidup, juga Lailatul Ijtima’. Lebih dari itu, beliau ternyata masih seperguruan dengan KH. Hasyim Asy’ari ketika belajar di Haramain (Makkah dan Madinah) terutama pada tiga guru yakni Syekh Habib Ahmad bin Husein Al-Attas, Syekh Sa’id bin Muhammad Al-Yamani dan Syekh Muhammad Saleh bin Muhammad Ba Fadlal. Dari ceritera lisan, konon KH. Hasyim sering surat menyurat dengan beliau ketika ada perkara dalam hasil Bahtsul Masail yang rumit dan mengalami kebuntuan.
Ketiga, faktor Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan (Guru Tuha) dan Tuan Guru H. Husein Ali masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris Cabang NU pertama di Kalimantan. Keduanya merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan saling take and give, saling mengisi dan melengkapi. Mereka sama santri dari KH. Hasyim Asy’ari dan Kyai Khalil, Bangkalan, Madura serta murid kinasih dari Tuan Guru H. Kasyful Anwar, Martapura. Mereka disuruh gurunya Hadratussyekh mendirikan NU di tempat asalnya sebagaimana santri-santri yang lain seangkatan mereka. Mereka berdua bersahabat sejati dan sehati sehingga generasi NU pertama di Kalimantan dan khususnya Kalimantan Selatan tumbuh berkembang dengan sukses, penuh kegiatan-kegiatan yang berkualitas dan demi kemaslahatan umat. Atas kepeminpinan keduanya tanpa menafikan kontribusi Tuan Guru H. Kasyful Anwar dan ulama-ulama yang lain, NU berkembang pesat hingga bertumbuh cabang-cabang di daerah-daerah, wilayah Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin, Kelua, Amuntai, Kandangan, Barabai, Rantau, Alabio, Negara, Pelaihari dan lain-lain bahkan Martapura menjadi basis NU sampai sekarang.
Keempat, faktor Pondok Pesantren Darussalam, Martapura yang berdiri tahun 1914 oleh Tuan Guru H. Djamaluddin, Pimpinan Cabang Sarekat Islam (SI) Martapura. Kenapa beliau mendirikan lembaga pendidikan tradisional tidak lembaga pendidikan modern sebagaimana teman-teman beliau di SI ? Jawabnya waktu itu NU belum berdiri dan SI menjadi satu-satunya organisasi Islam yang lebih berorientasi pada ekonomi tanpa mempersoalkan mazhab dalam Islam. Ia menampung umat Islam apapun afiliasi mazhabnya hingga di dalamnya tergabung Islam Tradisional, Islam Modernis, Islam Fundamentalis, Islam Kiri dan Islam Kanan. Jadi pada awalnya Darussalam milik SI dari kelompok Islam Tradisional. Baru menjadi NU, walaupun bukan milik NU sesudah kepemimpinan Tuan Guru H. Hasan Ahmad (ayah Guru Tuha) atau masa Tuan Guru H. Kasyful Anwar. Sejak berdirinya Darussalam dalam materi ajar dan referensinya menggunakan kitab-kitab standard dari ajaran Aswaja dengan pengajar-pengajar ulama dari Aswaja pula. Bisa dikatakan Darussalam menjadi lembaga kaderisasi paling efektif untuk melahirkan kader NU bermutu baik pada level atas tingkat ulama maupun level tengah dan bawah tingkat aktivis dan simpatisan yang loyalis. Terlihat nanti alumni Darussalam banyak menjadi ulama NU, aktivis NU dan simpatisan di berbagai daerah di Kalimantan Selatan bahkan Kalimantan. Dalam kata lain, NU dan Darussalam itu mempunyai hubungan integral mutual simbiotik. Benar adagium yang mengatakan bahwa pesantren itu sebagai NU kecil dan NU sebagai pesantren besar. Aneh rasanya kalau ada murid Darussalam yang bukan NU.
Dari uraian di atas, nampak gerakan NU pada awalnya di Kalimantan Selatan lebih berorientasi pada gerakan sosial keagamaan seperti dalam bidang sosial, bidang pendidikan, bidang intelektual dan bidang dakwah. Hampir tak terlihat sama sekali semacam orientasi politik dan apalagi gerakan politik. Tidak benar atau kurang pas analisis yang mengatakan bahwa NU luar Jawa, termasuk NU Kalimantan Selatan lebih politis dan tidak punya kultur berorganisasi sama sekali.

No responses yet