Oleh : Sofyan Tsauri
Wahabi apapun variannya (Wahabi Rasmiyah dan Jihadi Takfir atau kebanyakan kecuali yang di rahmati), itu gembira jika ada kaum muslimin yang mati yang mana dia pernah jadi rivalnya.
Kematian seseorang itu menjadi benarnya manhaj mereka, menjadi indikasi salahnya manhaj rivalnya, padahal mati merupakan hal lumrah bagi siapa saja, bisa jadi tidak ada hubungan nya Sam sekali.
Alih2 mendoakan mereka yang terkena musibah, justru menjadi kesempatan untuk menghinanya, dahulu rakyat Palestina di hina oleh mereka karena alasan jauh dr Sunnah, dan itu menjadi asbab di jajah Y4hud1, padahal imigrasi Y4hud1 Eropa tidak lepas dari main mata antara Abdul Aziz bin Su’ud dan penjajah Inggris.
Berbeda sikapnya dengan Ibnu Taimiyah
Ibnul Qayyim pernah bercerita perihal meninggalnya musuh terbesar Ibnu Taimiyah…
وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه
Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).
Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati . Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.”
Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.
(Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H)

No responses yet