Categories:

Oleh: Arsya Fadhilah, Fakultas Psikologi Universitas

Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKASuatu kali, seorang sahabat Nabi sedang melaksanakan sholat di medan perang. Tiba-tiba, sebuah busur panah menembus betisnya, namun ia tetap khusyuk dan menyelesaikan sholat hingga tahap salam. Setelah itu, barulah ia menyadari rasa sakit yang teramat pada kakinya. Kisah tersebut pernah dimuat di sebuah buku cerita islami anak yang pernah saya baca. Ada pula kisah tentang Abbad ibn Bishr, yang tetap melanjutkan sholat meskipun dihujani anak panah.

Kisah-kisah ini sangat inspiratif dan sekaligus menyentuh kenyataan kita, yang sering kali dengan sengaja meninggalkan sholat. Namun, selain itu, kita juga bisa memahami bahwa kekuatan khusyuk dalam sholat membuka ruang untuk diskusi: bagaimana mungkin seorang muslim bisa mencapai tingkat kekhusyukan yang tinggi seperti itu? Apa yang bisa kita pelajari dari sisi psikologis mereka?

Sering kali orang-orang di sekitar kita menganggap shalat itu menenangkan. Atau bahkan Anda juga pernah mengalaminya? Perasaan yang lega, sejuk, dan menyebarkan batin memang sarat terasa setelah kita menunaikan shalat, apalagi setelah kita berdoa, berkeluh kesah, dan meminta petunjuk kepada Allah SWT. Pastinya ada alasan psikologis dibalik hal kekhusyukan dan rasa ketenangan jiwa yang kita rasakan setelah, atau bahkan saat sholat.

Khusyuk memiliki beragam macam arti. Di dalam artian sholat, khusyuk berarti fokus beribadah. Menundukkan hati untuk beribadah dan merendahkan diri terhadap Allah SWT. Menyibukkan diri dengan sholat dan melupakan hal-hal duniawi lainnya. Mendekatkan diri kepada Allah. Namun kenyataannya, khusyuk lebih daripada itu.

Dari perspektif psikologi, khusyuk dipahami sebagai kondisi mental yang mendalam di mana seseorang mencapai keseimbangan antara fisik, pikiran, dan hati. Psikologi mengenal konsep ini sebagai keadaan ‘mindfulness,’ yaitu kesadaran penuh terhadap saat ini tanpa terganggu oleh pikiran atau perasaan lain. Ketika seseorang khusyuk dalam sholat, ia tidak hanya sekadar menundukkan tubuh, tetapi juga pikiran dan perasaannya, menyatu dalam kebersamaan dengan Sang Pencipta.

Sholat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dapat menenangkan sistem saraf dan mengurangi kecemasan, seperti yang ditemukan dalam berbagai penelitian tentang manfaat meditasi dan mindfulness. Seperti yang dilansir dari NU Online, ada banyak contoh penelitian yang membuktikan bahwa khusyuk itu menyembuhkan. Anda pasti juga tidak asing dengan cerita spiritual pengalaman berbagai orang beriman terutama hafidz Qur’an yang ketika sakit parah dan sudah kambuh, menjadi sembuh kembali hanya dengan hafalan-hafalan Al-Qur’annya. Seperti itulah manfaat khusyuk termasuk di dalam sholat kita.

Selain mencakup dari psikis seseorang, sholat juga mencakup berbagai aspek terapi fisik yang selama ini mungkin tidak kita sadari. Mengambil air wudhu sebelum sholat dapat dianggap sebagai hydro-therapy (terapi air) yang menyegarkan badan dan otak. Gerakan-gerakan sholat mulai dari takbiratul ihram sampai ke salam, bisa dikatakan termasuk olah raga dan merelaksasi otot (Sentot Haryanto, 2001). Ketika seseorang sepenuhnya tenggelam dalam kekhusyukan sholat, ia menciptakan ruang untuk relaksasi mental dan emosional, yang pada gilirannya berkontribusi pada kesehatan psikologis.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *