Abuya Saifudin atau Guru Handil adalah panggilan populer dari Tuan Guru. H. Saifuddin Marzuki atau KH. Drs. Saifuddin Marzuki M.Pd. Ketua Yayasan dan Pimpinan Pondok Pesantren dan Boarding School Al-Arsyadi, termasuk STEIS (Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Semboja) Al-Arsyadi di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Beliau masih punya garis keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Ranji silsilahnya adalah Abuya Saifudin bin Tuan Guru H. Marzuki bin Muhammad Nuh bin Hasanah binti Abu Na’im bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Kisah Abuya Saifuddin, ayahnya Tuan Guru H. Marzuki lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan. Kemudian, sempat tinggal di Banjarmasin beberapa waktu dan menikah dengan perempuan bernama Siti Kumala dari kampung Teluk Dalam. Tak berapa lama kawin, suami-isteri ini hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur untuk mengadu nasib di sana mengikuti keluarga dari pihak isteri yang sudah lebih dahulu merantau ke sana. Bermula Tuan Guru H. Marzuki dan isteri sempat tinggal beberapa waktu di Balikpapan, kemudian sempat pindah ke Sanga-Sanga dan terakhir mukim di Samboja. Sebagai seorang tamatan Pondok Pesantren Dalam Pagar, Martapura Tuan Guru H. Marzuki sudah barang tentu mempunyai wawasan dan ilmu yang luas tentang keislaman. Suatu yang wajar dan seharusnya, jika ia kemudian membuka majlis pengajian pada tahun 1984 dengan nama Majlis Al-Arsyadi di Samboja, dan pada tahun 1987, ia membangun Madrasah Tsanawiyah di tempat yang sama karena saat itu belum ada sama sekali sekolah agama, yang ada hanya SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ia tidak mau membangun SMP karena tidak mau mengganggu dan bersaing memperebutkan murid dan lebih memilih MTs yang saat itu belum ada. Dalam rencana jangka panjangnya ia bercita-cita ingin mendirikan perguruan yang lengkap dan terpadu. Namun sayang, belum setengah jalan menjalani cita-citanya, ia meninggal dunia, dipanggil Allah Swt.
Abuya Saifuddin sebagai anak Tuan Guru H. Marzuki berkeras hati melanjutkan dan mewujudkan cita-cita ayahnya tersebut sehingga sekarang sudah mulai tercapai tahap demi tahap, apa yang diinginkan meskipun masih belum sempurna. Abuya mengakui bahwa adanya perguruan ini bukanlah gagasannya, ia hanya melanjutkan cita-cita ayah tercintanya yang mempunyai himmah yang tinggi dan komitmen yang kuat terhadap dunia pendidikan.
Abuya lahir pada tahun 1957 di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sejak kecil ia diasuh dan dididik oleh ayahnya sendiri yang alim dan terkenal sebagai ulama yang mumpuni dan berwibawa. Saat usia Abuya dirasa cukup untuk menempuh pendidikan lebih lanjut dari pendidikan informal rumah tangga menuju pendidikan semi formal ke Pondok Pesantren Al-Arsyadi, Dalam Pagar, Martapura yang kala itu dipimpin oleh Tuan Guru H. Abdurrahman Ismail bin Tuan Guru H. Ismail Khatib.
Usai dari pendidikan di Dalam Pagar, Abuya banyak berguru kepada orang perorang secara khusus. Selain, Tuan Guru H. Abdurrahman Ismail (Dalam Pagar, Martapura), Tuan Guru H.M. Zaini Ghani atau Abah Guru Sakumpul (Sakumpul, Martapura), Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani (Makkah), Habib Abubakar (Gresik), Habib Sholeh Tanggul (Jember), Syekh Abdul Karim Al-Banjari (Makkah) dan lain-lain. Di antara guru utama Abuya adalah Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani dan Tuan Guru H.M. Zaini Ghani atau Abah Guru Sakumpul.
Abuya berguru dengan Abah Guru Sakumpul, mungkin cukup lama dan ia menggali berbagai ilmu pengetahuan agama Islam termasuk ikut mengambil Tarekat Sammaniyah yang sanadnya dari Abuya-Abah Guru Sakumpul (Tuan Guru H.M. Zaini Ghani)-Guru Bangil (Tuan Guru H. Syarwani Abdan)-Syekh Ali Al-Banjari-Syekh Zainuddin As-Sumbawi-Syekh Nawawi Al-Bantani-Syekh Syihabuddin Al-Banjari-Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari-Syekh Muhammad Abdul Karim As-Sammani Al-Qadiri Al-Hasani Al-Madani. Abuya bisa dikatakan salah satu murid ring satu Abah Guru Sakumpul bersama-sama Guru Zuhdi (alm Tuan Guru H. Ahmad Zuhdiannoor, Banjarmasin), Guru Bakeri (alm Tuan Guru H. Bakeri, Gambut), Guru Danau (Tuan Guru H. Asmuni, Amuntai), Abah Guru Banjar Indah (Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri, Banjarmasin) dan lain-lain. Lebih dari itu, Abuya berguru juga ilmu bisnis kepada Abah Guru Sakumpul dengan sangat mendalam sehingga Abuya tidak saja menganggap Abah Guru Sakumpul sebagai Ulama Besar atau Waliyullah, tapi juga sebagai Bisnismen yang hebat, sukses dunia, sukses akhirat.
Ketika sudah pulang ke Samboja, dengan ilmu yang sangat banyak (sudah sasak ujar Urang Banjar), Abuya tidak langsung berdakwah dan menyiarkan segala ilmunya. Abuya mungkin sesuai nasehat guru utamanya Abah Guru Sakumpul sebelum berdakwah hendaknya berusaha menjadi orang kaya dulu sampai mapan hingga pada saatnya diizinkan berdakwah niatnya sudah ikhlas lillahi ta’ala dan Li ilai kalimat illah hiyal ‘ulya, tidak ada sebersit sedikitpun kehendak imbalan apapun. Demikian juga, dengan kekayaan itu Abuya dapat melanjutkan dan mewujudkan cita-cita ayahnya untuk membangun sebuah lembaga perguruan yang lengkap, walaupun harus berpindah ke lokasi yang baru karena lebih luas dan lebih mudah merancang serta mendesain tata-ruang, sementara lokasi sebelumnya dimanfaatkan untuk kegiatan lain.
Dalam kegiatan Abuya yang seabrek, ia masih sempat menyisihkan waktu untuk kuliah di IAIN Samarinda untuk memperoleh gelar S1 yang saat itu masih memakai predikat Drs. Kemudian, setelah usai S1 Abuya beberapa lama mengajar di Pondok Pesantren Al-Arsyadi sambil mulai berdakwah memenuhi permintaan masyarakat. Baru sekitar tahun 2014 Abuya kembali melanjutkan kuliahnya di tempat yang sama untuk memperoleh gelar S2 atau saat itu disebut sebagai M.Pd.
Aku sebenarnya tak terlalu tau, bisnis apa yang beliau jalankan. Dalam sebuah perbincangan pada pertemuan yang singkat Abuya konon banyak mempunyai tanah sehingga Abuya ada yang menyebutnya sebagai tuan tanah. Kemudian, Abuya pernah pula, konon punya kawasan batubara yang luas, sehingga Abuya terkenal sebagai penambang batubara yang hebat. Lalu, Abuya sempat pula, punya Travel Haji dan Umrah sehingga seringkali naik Haji dan Umroh. Mungkin masih banyak lagi bisnis Abuya yang lain, belum sempat kuketahui, tapi yang jelas Abuya sekarang sudah menjadi ulama Besar yang dikenal sekawasan Kalimantan Timur dan Abuya tetap kaya dan sangat dermawan. Asikin Nor, temanku menyebut Abuya sebagai Ulama Moderat yang pandai beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Di lingkungan akademis dalam berpakaian, Abuya tidak merasa aneh untuk memakai jas yang parlente, pada saat lain ketika mengajar santri Abuya memakai gamis dan kupiah haji yang dilengkapi dengan surban, dan pada saat santai Abuya hanya memakai baju lengan pendek dan pakei peci hitam saja.
Abuya beristeri perempuan cantik dari Parahiyangan yang membuahkan 3 orang anak, terdiri dari 2 perempuan dan 1 lelaki. Sekarang sudah besar-besar semua, anak sulung merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta dan sudah berkeluarga, mendapatkan suami dari Lampung. Anak kedua merupakan alumni Fakultas Psikologi, Universitas Trisakti, Jakarta dan mau melanjutkan ke jenjang berikutnya S2 di tempat yang sama. Anak bungsu, sedang melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Hadramaut, Yaman, tapi sayang masih belum bisa berangkat karena Covid 19.
Demikian tulisan ringkas dari profil Abuya Saifuddin yang terkenal sebagai Guru Handil. Kalau ada kesalahan, tolong dikeritik dan diusulkan perbaikan.

No responses yet