Oleh: Mohammad Zainul Wafa
Siapalah yang tidak mengenal almarhum kyai Sya’rani Ahmadi, seorang ulama karismatik asal Kudus yang selalu didengar nasehat-nasehatnya, selalu memberikan pencerahan bagi seluruh kalangan masyarakat khususnya masyarakat Kudus baik dalam majlis ta’lim atau melalui saluran radio yang bisa didengarkan oleh banyak orang.
KH. M. Sya’rani Ahmadi atau sering disapa mbah Sya’rani sapaan akrab beliau lahir di Kabupaten Kudus 17 Agustus 1931 tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia dan wafat pada hari selasa, 27 April 2021 di usia 90 tahun. Beliau putra dari pasangan Kyai Ahmadi dan Nyai Hj. Masnifah. Sejak kecil beliau menempuh pendidikan di pondok-pesantren, salahsatunya di Muawanatul Muslimin.
Pada usia 13 tahun kyai Sya’rani memutuskan untuk belajar, mengaji, dan menghafal Al-Qur’an kepada Kyai Arwani Amin (w.1415 H/1994 M) yang dikenal sebagi ulama ahli Al-Qur’an dan qira’at sab’ah asal kudus, dan mengaji ilmu ushuluddin lainnya dengan beberapa kitap kepada Kyai Turaichan (w.1420 H/1999 M) ulama ahli ilmu Falak atau Astronomi, serta berguru kepada ulama lainnya seperti KH.R. Asnawi, KH. Turmudzi, dan KH. Ma’ruf Asnawi.
Kyai Sya’rani Ahmadi tergolong ulama ahli tafsir dan ilmu al-Qur’an, serta menjadi kyai yang multi talent, banyak ilmu yang beliau kuasai, bukan hanya pandai membaca kitab namun juga produktif dalam menulis kitab. Kerap kali beliau men-syarah, men-terjemah, bahkan menulis gagasan baru yang bisa dikonsumsi oleh para santri. Tidak jarang kitab-kitab beliau digunakan sebagai buku ajar di madrasah dan menjadi sumber rujukan. Kitab atau karya-karya tersebut adalah Faidl al-Asani (membahas tentang teori qira’at sab’ah), Al- Tashrih al-Yasir fi ‘Ilmi al-Tafsir (menjelaskan dasar-dasar penafsiran al-Qur’an), Tarjamah Tashil at-Turuqat (terjemah nadzm Waraqat fi Ushul al-Fiqh), Qira’ah al-Ashriyyah (menjelaskan cara-cara dasar membaca kitab kuning), dan kitab Al-Faraid al-Saniyah wa al-Durar al-Bahiyah yang akan dibahas dalam topik kali ini.
Penulisan Kitab Al-Faraid al-Saniyah
Kitab ini mengupas tentang amalan-amalan dan doktrin ahlussunnah wal jamaah terutama an-nahdiyyah yang diambil dari dalil-dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan pendapat para ulama ahlussunnah wal jamaah, sehinga tidak heran jika kitab ini digunakan sebagai buku ajar mata pelajaran ASWAJA di madrasah-madrasah dan juga digunakan di pengajian atau majlis ta’lim kalangan NU.
Beliau kyai Sya’rani menulis kitab ini konon menurut para tokoh ulama dan santri beliau termotifasi oleh kitab Bariqat al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah karya KH. Muhammadun (w.1981 M) salah satu ulama berpengaruh di Pati tepatnya di desa Pondowan kecamatan Tayu kabupaten Pati. Beliau juga mengatakan dalam muqadimahnya bahwa ia mendapatkan dalil-dalil dari para gurunya kemudian beliau menulisnya untuk para santri sehingga dinamai dengan kitab Al-Faraid al-Saniyah wa al-Durar al-Bahiyah.
Kitab ini terdiri dari 33 bab dan 43 halaman dengan diawali muqadimah, setiap bab terdiri dari hadis, kadang disertai dengan ayat al-Qur’an dan pendapat ulama. Diantara bab tersebut membahas tentang ciri-ciri ahlusunnah wal jamaah yang terdapat pada bab ke-2.
Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamaah
Kita sering mendengar hadis Nabi yang menjelaskan kelak umatku (umat Islam) akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu yaitu kelompok ahlusunnah wal jamaah. Namun semua golongan atau kelompok dalam Islam mengaku sebagai ahlusunnah wal jama’ah. Lantas seperti apa ahlusunnah wal jama’ah itu sebenarnya.

Dalam kitab ini kyai Sya’rani menuliskan hadis yang diriwayatkan Ibn Umar r.a yaitu:
ما رواه ابن عمر رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من كان يؤمن بالله ومن كان على السنة
والجماعة كتب الله تعالى له بكل خطوة يخطوها عشر حسنات ورفع له عشر درجات فقيل له يارسول الله متى يعلم الرجل أنه من أهل السنة والجماعة قال إذا وجد في نفسه عشرة أشياء فهو على السنة والجماعة ان يصلي الصلوات الخمس بالجماعة ولا يذكر أحدا من الصحابة بسوء ومنقصة ولا يخرج على السلطان بالسيف ولا يشك في إيمانه ويؤمن بالقدر خيره وشره من الله تعالى ولا يجادل في دين الله تعالى ولايكفر أحدا من أهل القبلة ولا يدع الصلاة على من مات من أهل القبلة ويرى المسح على الخفين جائزا في السفر والحضر ويصلي خلف كل بر وفاجر
Dari sahabat Abdullah bin Umar r.a dari Rasulullah saw beliau bersabda: “barang siapa beriman kepada Allah dan mengikuti sunnah (nabi Muhammad) dan sahabat nabi maka Allah menjadikan setiap langkahnya mengandung 10 kebaikan, dan diangkat derajatnya, seorang bertanya kepada Nabi: wahai Rasulullah bagaimana mengetahui seseorang bahwa ia bagian ahlussunnah wal jamaah?, Rasulullah berkata: ketika didalam diri orang tersebut terdapat 10 ciri maka termasuk ahlussunnah wal jamaah,yaitu ia shalat lima waktu dengan berjamaah,tidak berkata tentang kejelekan dan kekurangan satupun dari sahabat, tidak menentang atau keluar dari pemerintah yang sah, tidak ragu keimanannya dan iman terhadap takdir baik maupun buruk, tidak berpolemik/mendebat agama Allah, tidak mengkafirkan sesama muslim, tidak meninggalkan do’a untuk orang Islam yang telah meninggal, berpandangan baha membasuh khuffain hukumnya boleh, tetap melaksanakan shalat dibelakang orang baik atau buruk.
Ahlussunnah wal jamaah ialah mereka yang berpegang kepada sunnah Nabi Saw, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ahlussunnah wal jamaah bukan identik kepada sekelompok atau madzhab tertentu, tetapi siapa saja yang memiliki ciri-ciri atau klasifikasi tersebut diatas.

No responses yet