Oleh: Wahyu Nur Fatimah (Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta)
Siapa sih sosok K.H. Bisri Mustofa itu?
Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Beliau lahir pada tahun 1914 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia pilih sendiri setelah kembali menunaikan ibadah haji di kota suci Mekah. K.H. Bisri Musthofa wafat pada 16 Februari 1997.
***
Sejak usia tujuh tahun, ia masuk Sekolah Rakyat “Ongko Loro” di Rembang. Namun, ia tidak menyelesaikan sekolahnya karena diajak ayahnya pergi haji ke tanah suci. Setelah menunaikan ibadah haji, di pelabuhan Jeddah, ayahnya jatuh sakit hingga wafat. Karena ayahnya wafat di Jedah, ia dimasukkan oleh kakak tirinya, Zuhdi, ke Holland Indische School (HIS). Ia juga tidak menyelesaikan pendidikannya di HIS, karena ia dipaksa keluar oleh Kiai Cholil. Kiai Cholil beranggapan bahwa sekolah HIS tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Selain itu, Kiai Cholil memang khawatir kelak K.H. Bisri Mustofa akan mewarisi sifat-sifat Belanda. Sehingga K.H. Bisri Mustofa pun meneruskan sekolahnya di “Ongko Loro” dalam masa pendidikan empat tahun.
Perjalanan K.H. Bisri Mustofa
Pada 1930, K.H. Bisri Mustofa menimba ilmu di Pesantren Kasingan di bawah bimbingan Kiai Cholil. Bisri juga mengaji kepada Syaikh Ma’shum Lasem. Tak hanya itu, Bisri juga tabarrukan kepada Kiai Dimyati Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Saat umur 20 tahun, Bisri dinikahkan dengan putri Kiai Cholil yang masih berusia 10 tahun. Dari pernikahannya itu, Bisri dianugerahi delapan anak. Setahun setelah menikah, Bisri melakukan ibadah haji ke Mekah dan melanjutkan pendidikan disana selama dua tahun. Di Mekah, pendidikan yang dijalani Bisri bersifat non-formal. Ia belajar dari satu guru ke guru lain secara langsung dan privat. Dan pada tahun 1938, K.H. Bisri Mustofa pulang ke Kasingan atas permintaan Kiai Cholil yang setahun kemudian meninggal dunia.
Karya-karya K.H. Bisri Mustofa
Jumlah tulisan KH. Bisri Mustofa yang ditinggalkan mencapai lebih kurang 54 buah judul, meliputi: tafsir, hadis, aqidah, fikih, sejarah Nabi, balaghah, nahw, sharf, kisah-kisah, syi’iran, doa, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah dan lain-lain. Karyanya yang paling monumental adalah Tafsir al-Ibriz, di samping kitab Sulam al-Afham. Karya-karya K.H. Bisri Mustofa yang lain adalah sebagai berikut: Tafsir Surat Yasin, al-Iksier, al-Azwad al-Mustafawiyah, al-Manzamat al-Baiquni, Rawihat al-Aqwam, Durar al-Bayan, Sullam al-Afham li Ma’rifat al-Adillat al-Ahkam fi Bulugh al Maram, Qawaid Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji, Islam dan Shalat. Akhlak/Tasawuf, Wasaya al-Aba’lil Abna’, Syi’ir Ngudi Susilo, Mitra Sejati, Qasidah al-Ta’liqat al-Mufidah, Tarjamah Sullam al-Munawwaraq, al Nibrasy, Tarikh al-Anbiya’, Tarikh al-Awliya’.
Tafsir al-Ibriz li Ma’rifat Al-Qur’an al-‘Aziz
Tafsir al-Ibriz dicetak tiga puluh jilid, sama dengan jumlah juz dalam al-Qur’an. Ayat al-Qur’an yang diberi makna gandul ditulis di dalam kotak segi empat, bagian pinggirnya (biasanya disebut hamish) dipakai untuk menulis tafsir bahasa Jawa, yang ditulis dengan huruf Arab pegon. Walaupun kitab ini dibuat dalam tiga puluh jilid, tapi penomeran halamannya menyambung terus pada setiap jilidnya. Halaman pertama jilid ketiga dimulai dengan nomor 100 (karena jilid kedua selesai dengan 99 halaman), sedang jilid keempat dimulai dengan nomer 145 (karena jilid ketiga cuma sampai halaman 144) begitu pula seterusnya sampai jilid ke tiga puluh, yang diahiri dengan nomer 2347.
***
Kitab Tafsir al-Ibriz li Ma’rifat Al-Qur’an al-‘Aziz secara umum (ijmali) menggunakan metode bi ar-ra’y. Ditulis selama kurun 6 tahun antara 1954 sampai 1960. Memiliki corak penafsiran kombinasi antara qiraat, fiqih, dan tasawuf. Di samping itu, digunakan pula huruf Arab-Pegon dan bahasa Jawa dengan langgam dan genre “Pantura”, bahasa pantai utara pulau Jawa yang bernuansa otentik, blakasutha. Kendati demikian memiliki kekuatan referensial yang dapat dilihat dari latar belakang pendidikan K.H. Bisri Mustofa sendiri dan beberapa referensi kitab tafsirnya seperti Tafsir al-Jalalain, Tafsir al-Baidlawi, Tafsir al-Khazin, dan lain-lain. Secara sistematis, Tafsir al-Ibriz cenderung literal tidak mengadakan perbandingan antar pendapat ulama-ulama tafsir otoritatif. Tafsir al-Ibriz juga menggunakan metode tahlili, karena dilakukan secara referensial mulai dari surah al–Fatihah hingga an-Nas.

No responses yet