Allah memerintahkan pada manusia agar bershalawat pada kekasih-Nya, Muhammad Rasulullah. Mahar Nabi Adam pada Ibu Hawa juga berupa shalawat. Ini menunjukkan bahwa shalawat mempunyai keistimewaan tersendiri. Oleh karenanya, sejak dulu dikenal ribuan redaksi shalawat yang disusun oleh ulama’. Pada abad yang lalu, Syaikh Yusuf an-Nabhani mengkondifikasikannya dalam beberapa kitabnya, termasuk Afdlalus Shalawat ala Sayyidis Sadat.

Di Madura, salah satu ulama yang menyusun shalawat adalah Hadratussyaikh KH. Abdul Wahid Khudzaifah (1929-1990 M. / 1411 H.), Pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal, Omben, Sampang.

Sebagai mursyid dalam Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah, Kiai Abdul Wahid terinspirasi dari para pendahulunya yang telah menyusun nama-nama mursyid dalam sebuah nazham. Sebut saja seperti Syaikh Muhammad Muzhar al-Ahmadi.

Shalawat yang beliau susun berbentuk nazham dan diberi nama as-Shalawat at-Tawassuliyah fi al-Istimdad li Arwah Masyayikhina an-Naqsyabandiyah atau lebih dikenal dengan nama Shalawat Tawassuliyah. Dari namanya, kita dapat menebak konten dari shalawat tersebut.

Dalam shalawat ini, sang muallif bertawasul dengan nama Allah, Malaikat Jibril, Nabi Muhammad, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Fatimah putri Rasulullah, Hasan, Husain, Keluarga, Sahabat, Tabi’in dan para wali Allah.

Selanjutnya, beliau bertawasul pada ahli Naqsyabandiyah, masyrab beliau. Seperti kita ketahui, Naqsyabandiyah adalah tarekat yang dinisbatkan pada Syaikh Muhammad Bahauddin Syah Naqsyaband. Saat ini, Naqsyabandiyah mempunyai dua cabang; Khalidiyah dan Muzhariyah. Pada Muzhariyah inilah, jalur silsilah Naqsyabandiyah Kiai Abdul Wahid.

Tokoh Naqsyabandiyah yang secara khusus disebut oleh Kiai Abdul Wahid adalah Syaikh Ahmad Syabrawi bin Alimuddin Prajjan. Silsilah Naqsyabandiyah beliau adalah sebagai berikut: Syaikh Ahmad Syabrawi, dari Syaikh Zainal Abidin Kwanyar, dari Syaikh Abdul Azhim Bangkalan, dari Sayyid Muhammad Shalih az-Zawawi Mekah, dari Syaikh Muhammad Muzhar al-Ahmadi, dari Syaikh Ahmad Said al-Ahmadi lalu Syaikh Abu Said al-Ahmadi, guru utama Naqsyabandiyah Muzhariyah.

Kedua adalah Syaikh Khudzaifah, ayahanda beliau sendiri. Syaikh Khudzaifah adalah Pengasuh PP. al-Bustan Sumber Papan, keponakan sekaligus khalifah Syaikh Syabrawi Prajjan.

Ketiga adalah Syaikh Ali Wafa Ambunten, Sumenep. Beliau adalah khalifah Syaikh Khudzaifah. Di kemudian hari, Syaikh Ali Wafa menunjuk Kiai Abdul Wahid sebagai khalifahnya bersama Nyai Thabibah binti Syaikh Khudzaifah dan Kiai Sa’duddin bin Syaikh Khudzaifah.

Tak lupa, Kiai Abdul Wahid juga bertawasul pada guru syariatnya yang dijulukinya sebagai matahari Allah, KH. Siradjuddin (Pendiri PP. Bettet, Pamekasan). Di pesantren kakek mertuanya inilah, Kiai Abdul Wahid memulai karir menulisnya hingga akhirnya menghasilkan puluhan karya dalam pelbagai macam fan keilmuan; mulai Nahwu- Sharaf, Fiqih-Ushul Fiqih, Balaghah-Mantiq sampai Fiqih Perbandingan Mazhab.

Pada bait selanjutnya, RKH. Saifullah Ja’far (cucu Syaikh Abdul Wahid) menambahkan empat bait yang didalamnya disebutkan dua nama; nama Kiai Abdul Wahid sendiri, lalu Kiai Ahmad Ja’far, putra sekaligus khalifah Syaikh Abdul Wahid. Dengan tambahan empat bait tersebut, nazham Shalawat Tawassuliyah berjumlah empat puluh enam bait.

Setelah menyebut nama-nama di atas, Syaikh Abdul Wahid merangkai nazham shalawatnya dengan banyak doa. Beliau memohon pada Allah agar selalu mendapat ampunan, keselamatan dan tetapnya iman sampai saat menghadap-Nya.

Beliau juga berdoa agar dikaruniai keistiqamahan dalam bertarekat sampai ajal menjemput. Beliau menulis:

و اجعلنا من مستقيمين # على طريقك المبين

حتى يأتينا اليقين # و افتح بنور ذكر الله

Kini, kitab Shalawat Tawassuliyah menjadi materi pengajian yang diampu oleh RKH. Saifullah Ja’far di beberapa tempat di Madura dan luar Madura. Beliau menjelaskan secara detail bait perbait nazham shalawat susunan kakeknya tersebut.

Shalawat Tawassuliyah juga menjadi bacaan para ikhwan Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah Gersempal sebelum acara Khatmil Kwajakan, menunggu kedatangan guru mursyid, acara SITQON (Silaturahim Ikhwan Akhwat Muhibbin Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal), setelah adzan di beberapa masjid dan mushalla, Hadrah Al-Banjari, dan lain-lain.

Kambingan Barat

Sabtu, 19 September 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *