Paman sekaligus guru saya, KH. Athourrahman Hisyam, adalah sosok yang amat sangat mencintai wali. Tidak cuma diceritakan saat pengajian rutin, beliau jg mengoleksi segudang peninggalan dari wali wali agung, sebut saja sarung/sorban Mbah Hamid Pasuruan (peninggalan ini sangat beliau banggakan, dan sering diceritakan saat pengajian), Syekh Masduqi Lasem, Habib Abdullah bilFaqih Malang dan deretan nama nama lainnya. Beliau pernah ditiup (disuwuk) seluruh badannya oleh Syekh Yasin Padang.
Gus Tour dikenal mempunyai daya ingat yang kuat di mata teman temannya.
Semasa di Lasem, KH. Thoifur Mawardi (mbah Thoifur) pernah mengaji Ibnu Aqil pada Gus Tour. Ia bercerita tentang gus Tour,
“Beliau itu muhaddits. Daya ingatnya luar biasa.”
Dalam sambutannya tadi, Syekh Thoifur juga mengatakan, “saya bisa masuk ke Sayyid Muhammad juga atas berkah Gus Tour.”
Murid murid pengajian rutin beliau banyak yang heran, saat ceramah maupun pengajian, gus Tour bisa cepat sekali menukil ibarat ibarat kitab dan hadis hadis ‘irtijalan’. Itu membuktikan semangat membaca beliau masih sangat tinggi, kemudian pula ditunjang oleh daya ingat yang kuat.
Gus Tour ini akrab dengan Syekh Ali As-Shobuni. Syekh Ali As-Shobuni sering menuliskan dalam secarik kertas maqalah yang Gus Tour ucapkan dari kitab kitab yang beliau baca. Belakangan, Ali Ashshobuni menjadi pakar tafsir terkenal. Kitab karangan beliau yang dikonsumsi oleh kalangan pesantren adalah Tafsir Ayat al Ahkam.
Kitab kitab di perpustakaan beliau melimpah. Saat mengaji Tafsir Jalalain sekitar tahun 2002, di muqaddimah kitab, beliau menyebutkan referensi tafsir yang bagi saya sangat asing di tahun itu. Beliau sebut beberapa tafsir dengan kecenderungan para muallifnya. al-Bahrul Muhith, al-Kasysyaf, Mafatihul Ghaib, dan bahkan Tafsir Thantawi Jauhari, Jawâhir al-Quran. Ucapan beliau yang saya tulis waktu itu (dan masih terdokumentasikan di bagian permulaan tafsir Jalalain), “Imam Razi ahli logika, Imam Abu Hayyan ahli nahwu, Imam Qurthubi ahli fikih.”
Di saat nama nama ulama yang nisbat ke daerah tertentu belum bisa dikroscek cara bacanya (karena dahulu akses kitab belum seperti sekarang), beliau sudah terlebih dahulu sering mengoreksi nisbat daerah yang seringkali salah pengucapannya. Saya ingat betul, sekitar tahun 2002 atau 2003 mengaji Manhal Lathif karangan gurunya sendiri, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, beliau berucap, “Al-Dainuri sering salah dibaca. Yang benar al-Dinawari, nisbat ke satu daerah di Iran.” Dan saat saya buka kitab Manhal, alhamdulillah ucapan tersebut sempat saya tulis.
Kitab kitab baru Gus Tour juga mengikuti. Di kondisi kesehatan yang mulai menurun, beliau membaca rutin sampai selesai tak hanya kitab kitab klasik, kitab kontemporerpun dilahap.
Saya punya copy-an kitab Bhouti dari beliau yang berjudul Kubra al Yaqiniyyat al Kawniyyah yang saya dapat sekitar tahun 2004–tahun dimana kitab kitab Bhouti belum banyak beredar di Tanah Air. Kitab tersebut berisi ta’liq (komentar) gus Tour dari awal sampai akhir halaman.
Suatu ketika keponakan menghadiahkan kitab teranyar anggitan syekh Sa’id Ramdhan al Bhouti. Kitab tersebut diciumi ‘wolak walik’,
“Ini yang kutunggu tunggu,” ujarnya
Rabu malam, sekitar pukul 21.15 beliau dipanggil menghadap Allah, dan bertemu dengan orang orang shaleh yang sering kali beliau ceritakan pada murid muridnya. Beliau diantar oleh ribuan muhibbin ke peristirahatan terakhir. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT

No responses yet