Oleh Zia Ul Haq
BUKAN BASA BASI
Kepada tamu yang datang sowan, Mbah Najib jarang nuturi atau menceramahi. Obrolan selalu didominasi ihwal diri si tamu. Mbah Yai akan bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan tamunya itu. Detail dan bukan basa-basi.
Jika Mbah Yai bertanya padamu tentang asal daerahmu, kerabatmu, kegiatanmu, maka itu karena memang beliau betul-betul bertanya dan tersimpan dalam memorinya. Lain kali saat kau sowan lagi, beliau akan menyinggung informasi-informasi yang pernah kau haturkan itu secara tepat dan rinci.
Pernah aku sowan bersama bapak, yang datang dengan satu jenis mobil. Mbah Yai tanya detail perihal bapak dan sama sekali tak ada obrolan tentang mobil. Beberapa bulan kemudian, kami sowan lagi. Bapak sudah ganti mobil. Setelah berratus-ratus orang sowan yang beliau temui, Mbah Yai masih ingat segala hal detail tentang Bapak.
Beliau bertanya, “Masih mengajar di SD dekat Guci itu, Pak?”, “Pensiunnya masih lama ya, Pak?”, dan yang mengejutkan beliau tanya; “Lho mobilnya ganti ya, Pak? Yang dulu itu plat E ya?”
Bahkan sampai ke mobil yang dibawa pun beliau memperhatikan betul. Artinya, setiap pertanyaan beliau betul-betul pertanyaan. Setiap pandangan beliau benar-benar pandangan. Bukan pertanyaan basa-basi, bukan pandangan kosong tak berarti.
SALAM ZIARAH WALI
Rangkaian rihlah ziarah ke Jawa Barat tahun 2012 diawali dengan sowan ke pemakaman Dongkelan. Sekitar 2 kilo dari Pesantren Krapyak. Di sanalah para kiai masa awal Krapyak dimakamkan.
Pagi itu kami -para santri- duduk anteng menghadap ke timur arah Masjid Pathok Negoro. Sedangkan Mbah Yai Najib berdiri sambil memperkenalkan makam kakek, ayah, dan paman-bibinya. Kami menyimak dengan seksama. Suasananya masih terasa bagiku sampai saat ini. Hawa pagi yang segar, sorot matahari yang masih hangat, angin yang berembus semilir, dan getaran suara beliau yang khas.
“Kalau ziarah ke makam wali Allah,” dhawuh Mbah Yai, “Kita membaca salam seperti ini,”
Kemudian beliau mentalqin kami bacaan salam saat ziarah ke makam para wali. Begini:
السلام عليكم يا ولي الله جئناكم راغبين وعلى مقامكم واقفين اودعنا عندكم شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسول الله
Lalu beliau mengajarkan pergantian dlomir (kata ganti) jika yang diziarahi banyak atau tunggal, jika yang ziarah banyak atau tunggal, dan seterusnya. Belakangan, saat sowan ke Popongan Klaten, kami melihat salam ziarag wali ini tertulis di pintu makam Mbah Yai Manshur an-Naqsyabandi al-Khalidi, kakek Mbah Yai Salman Dahlawi, mertua Mbah Yai Najib.
Setelah itu beliau menyampaikan keterangan, “Kalau dhawuh Mbah Arwani, bahwa para ahlul Quran itu juga diziarahi oleh para malaikat, yang mendoakannya sampai hari kiamat.”
Sekarang Mbah Yai Najib sudah berkumpul bersama para leluhurnya di pemakaman Dongkelan. Salam ziarah wali yang dulu beliau talqinkan kini kami haturkan kepadanya pula. Dan kami menyaksikan sejelas-jelasnya bahwa beliau adalah ahlul Quran sejati, dan tentu para malaikat rahmat pun merubung pusaranya hingga hari kebangkitan nanti.
TARTIL
Pernah suatu kali Mbah Yai Hisyam Kudus menggelar simakan Quran. Sosok yang diamanati membaca adalah muridnya, Mbah Yai Najib muda. Sedangkan yang menyimak adalah kawan seperguruannya, Mbah Yai Munawir Tingkir muda.
Sejak pagi hingga siang bacaan Mbah Yai Najib sangat lancar. Hanya ada 2-3 kesalahan dan itupun beliau perbaiki sendiri, tanpa ditegur oleh si penyimak. Waktu zhuhur beliau istirahat. Saat itulah beliau agak ‘mengeluh’ kepada sahabatnya, “Ya Allah, Kang Nawir. Quranku rusak. Dosa apa yang telah kuperbuat.”
Hapalan Mbah Yai memang sangat kokoh, mutqin. Saat mengimami tarawih 1,5 juz tiap malam Ramadan jarang keliru. Bilapun ada kekeliruan, beliau segera menyadari dan mengulangi bacaannya sendiri.
Wajar saja. Mbah Yai Najib sudah menghapal Quran sejak belia. Sudah khatam dan mulai mengimami tarawih dengan hapalan Qurannya saat masih remaja.
Saat mondok di Kudus, kawan-kawannya menyaksikan Mbah Yai selalu nderes hapalannya di saat apapun. Hanya ada dua momen beliau nampak tidak nderes, yaitu saat baca koran dan berada di dalam toilet.
Saat mengantri kamar mandi pun beliau masih komat-kamit nderes. Bahkan saat tidur beliau kerap kepergok ngelindur hapalan Quran sampai berjuz-juz. Perihal ngelindur ini juga pernah diceritakan Bu Nyai kepada santri ndalem, hingga dua juz katanya.
Betul-betul khaliyah yang susah ditiru. Bahkan ada satu hal ‘kecil’ yang masih saja susah ditiru dari khaliyah beliau. Yakni konsistensinya dalam membaca tartil bacaan apapun. Tidak hanya bacaan Quran.
Semua santri Krapyak pasti menyadari hal ini. Bahwa saat membaca bacaan shalat, wirid setelah shalat, tahlilan, doa-doa, fatihah setelah doa, Mbah Yai selalu mentartilkannya. Selalu jelas hak-hak tiap hurufnya, tak ada yang ketelingsut.
Semua bacaan diseriusi. Gesturnya pun demikian, apalagi saat berdoa. Tangan menelungkup, wajah menunduk, betul-betul mengesankan hamba yang sedang memohon. Tak ada kesan malas-malasan atau main-main saat berdoa. Secapek apapun beliau.
Belakangan kusadari bahwa ketartilan beliau tidak hanya dalam urusan bacaan. Tapi beliau juga selalu berupaya menjalani kehidupan dengan tartil. Tiap langkahnya jelas, teliti, tertata, terukur, sabar, dan konsisten.
MUJAHADAH SETORAN
“Kalau kata Pak Hafidh,” tutur Mbah Yai Najib suatu kali, “Santri kok setorannya nDawud, sehari kelihatan, sehari tidak. Tapi ada juga yang tidak hanya nDawud, malah kadang setengah bulan tidak kelihatan.”
Sebelum setoran hapalan Quran kepada Mbah Yai Najib di ndalem, santri musti setoran dulu kepada para ustadz di aula pondok. Bagi santri yang sudah simakan 5 juz di aula, baru dia bisa mulai setoran hapalan Quran kepada Mbah Yai. Belakangan nambah jadi 10 juz.
Santri bisa memilih waktu setoran. Bisa siang, bisa malam. Biasanya santri yang nyambi kuliah memilih setoran malam. Santri takhosus setoran siang. Santri istimewa setoran siang-malam. Kecuali santri putri, waktu setoran hanya pagi hari.
Momen setoran kepada Mbah Yai bukan sekedar melafalkan hapalan. Lebih dari itu, yakni proses ta’dib yang sangat halus dan meresap. Biasanya Mbah Yai tidak langsung memulai, beliau akan duduk-duduk santai dulu di teras.
Saat menunggu inilah santri belajar mengendapkan hati dan menyiapkan batin. Ketika setoran, santri mulai melafalkan hapalan masing-masing. Satu kloter berisi enam santri sekaligus. Semuanya membaca dengan suara lantang. Kalau tidak fokus ya bisa kacau hapalannya.
Sambil setor, kami juga memijat Mbah Yai. Ada yang memijat telapak kaki sampai betis, ada yang memijat telapak tangan sampai pundak. Momen memijat ini sangat menyenangkan bagi santri, sebab bisa berlama-lama memegang tubuh Mbah Yai.
Kalau ada bacaan yang salah, Mbah Yai akan mengoreksi. Kadang beliau juga memberi isyarat panjang-pendek bacaan dengan jari telunjuk. Atau kadang-kadang juga dengan ucapan.
“Kalau ada tasydid dengungnya hati-hati Kang. Ada huruf tersembunyi di situ, jangan sampai hilang,” begitu dhawuh beliau suatu kali yang masih kuingat jelas.
Jika dirasa cukup, beliau akan mengulurkan tangan kanan tanda usai. Lalu si santri meraih tangan beliau dan sungkem, kemudian undur diri. Biasanya beliau sambil dhawuh, “Wis, Kang. Teruskan ya.”
Kalau menurut beliau belum cukup, ya dibiarkan saja, si santri akan terus mengulang setoran hapalannya sampai disalami. Bisa sampai sejam atau lebih, sampai berkeringat, yang kemudian kami sebut: “dimiliter”.
Hampir semua santri pernah merasakan dimiliter. Aku sendiri paling lama dimiliter hanya sejam setengah. Mulai baca jam sepuluh malam, selesai disalami jam setengah dua belas.
Saat mulai sakit-sakitan, aku pindah ikut setoran siang. Tak kuat dengan angin malam. Pernah kucoba ikut setoran malam. Belum tuntas bacaanku, badan sudah gemetar, kaki dan tangan menggigil, keringat dingin bercucuran, wajah memucat. Agaknya Mbah Yai merasa kasihan, lalu segera menyalamiku, “Wis, wis, Kang.”
Kami, para santri, merasakan betul bahwa momen setoran adalah saat-saat melatih nafsu dan mendidik ego. Ternyata anggapan ini tidak meleset. Belakangan, masih kuingat betul Mbah Yai pernah dhawuh, “Mujahadah kalian selama di sini ya saat setoran.”
Yang namanya mujahadah ya jelas berat. Sesuatu yang berat ya jelas ada yang kuat, ada yang tidak. Maka istimewa betul teman-teman santri yang khatam setoran ke Mbah Yai. Karena mereka tidak hanya sudah selesai hapalan Qurannya, tapi juga tuntas mujahadahnya.

No responses yet