Di bulan Desember yang dianggap sebagai bulan Gus Dur ini alangkah baiknya jika kita mengenang sekelumit perikehidupan Gus Dur, sang guru bangsa yang sangat mengayomi kalangan kecil dan kaum minoritas. Karena itu beliau dijuluki sebagai bapak pluralisme. Pengorbanan besarnya adalah rela kehilangan jabatan Presidennya demi menghindari pertumpahan darah. Tercatat pula dalam sejarah bangsa sebagai pendobrak pintu demokrasi yang tertutup rapat di zaman rezim Suharto yang kaku dan otoriter sehingga kita merasakan kebebasan berpendapat, berekspresi dan berdemo di masa sekarang. Siapapun yang pernah hidup di masa Orde Baru pasti merasakan bagaimana orang yang berani menentang atau mengkritik penguasa Soeharto, maka resikonya babak belur oleh aparat, merasakan dinginnya hotel prodeo atau dihilangkan tanpa diketahui kuburnya.
Cucu pendiri NU ini dikenang sebagai penggagas kembalinya NU kepada khittah 26, sekaligus yang mengangkat citra kaum santri dari stigma kaum sarungan yang out of date, ketinggalan zaman menjadi kaum pemikir yang diperhitungkan di pentas nasional dan dunia. Bahkan saking banyak yang menyaksikan dan merasakan kejadian ajaib seputar pribadinya, maka beliau diakui sebagai salah satu kekasih ALLAH (waliyullah).
Yang tidak boleh dilupakan lagi adalah jasanya membela habaib di saat Ketum MUI Pusat, KH.Hasan Basri mendiskreditkan mereka. Keturunan Rasulullah Saw dianggap tidak ada dan sudah habis pada peristiwa Padang Karbala. Lalu tampillah Gus Dur yang notabene memiliki garis keturunan mulia dari Nabi Muhammad Saw, membela eksistensi para habaib yang berjasa besar dalam penyebaran Islam, perjuangan merebut kemerdekaan RI, dan menjadi benteng moral. Kendati ada habib yang menghinanya sebagai kyai yang buta mata dan buta hati. Namun putra KH.Wahid Hasyim ini terkenal ikhlas dalam berjuang. Beliau rela dihina dan tidak takut dicaci maki oleh pihak yang berseberangan dengannya demi memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diyakininya dan demi kepentingan bangsa.
Alfatihah teruntuk Gus Dur. Annalloha yarhamuhu wa yuqoddisu sirrohu wa yunawwiru dhoriihahu wa yu’lii darojaatihi fil Jannah wa yu’iidu’alainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihi wa’uluumihi wa nafahaatihi fid diin wad dunya wal aakhiroh lahulfaatihah

No responses yet