Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Seingat saya, dan tentu ingatan yang masih jernih, dalam angan-angan hidup saya akan dijalani dengan sangat normatif: (1) tamat kuliah, (2) tinggal di kampung, dan (3) berprofesi sebagai “tukang catat”. Sudah. Hanya segitu yang ada dalam fikiran waktu itu. Tidak ada muluk-muluk, harus jadi apa-apa dan bagaimana. Termasuk mengajar, menjadi guru, yang bagi saya adalah sebuah pekerjaan mulai; mendidik karakter tunas-tunas muda. Apalagi saya tidak yakin memiliki potensi untuk ulung menjelaskan materi di depan kelas, bayangkan (1) anak yang pendiam di masa kecil hingga remaja, tidak banyak bicara, (2) merasa tidak memiliki kemampuan berbicara di depan umum, karena hal no. 1 tadi, dan (3) nakal, pelawan, sejak kecil, serta berhati keras.
Namun, “tangan-tangan” (takwilnya: takdir) Tuhan, berbicara lain. Banyak hal-hal yang tidak pernah terkhatir dalam hati, malah terjadi, dan menjadi hal yang sangat indah untuk dikenang dan direnungi. Di antaranya (1) keras hati, menjadikan diri bertekad kuat, (2) “pelawan”, menjadi kemauan untuk melanglang-buana ke berbagai tempat, istilahnya “pajajo”, tapi dalam hal positif, dan (3) pendiam, yang kadang kala bila bicara bisa jadi menarik untuk didengarkan. Semua berupa nikmat, yang tentunya Allah saja yang punya Kuasa dan Kehendak. Termasuk menjadi guru.
“Menjadi Guru”, menjadi ingatan malam ini, karena dikunjungi oleh santri-santri saya, dengan ceria dan tawa lepas. “Guru pesantren”, maksudnya. Sudah hampir 6 tahun saya mengajar di Kampus, namun saya tetap meluangkan waktu mengajar di Pesantren. Bagi saya, kampus ialah tempat diskusi, sedangkan pesantren adalah tempat membaca kitab dan memahaminya dari satu kalimat ke kalimat lain. Membaca kata perkata, memahaminya satu persatu, perlahan-lahan, bagi saya adalah sebuat kelezatan ilmu, yang sampai saat ini belum saya rasanya di kampus.
Dan ini adalah sebuah nikmat, yang patut dikhabarkan. Adalah sebuah kebahagiaan, dikunjungi oleh murid-murid, bercanda sesuai adab kesopanan, berdiskusi dengan gelak tawa, serta duduk sejajar (bagi saya bukan melanggar adab) tanda sama-sama hamba di hadapan Allah.
Dan kita pun perlu duduk dan berbincang dengan anak-anak muda. Berkawan dengan orang tua-tua menampah kearifan dan ilmu, sedangkan berkawan dengan anak-anak muda menambah semangat dan cita-cita.
*********
Awalnya, malam tadi, kami akan melanjutkan “Pocah Duo Boleh” dalam Silek Oyah Balubuh (yang tidak lain ialah Silek Oyah Kumango). Saya pun sudah siap-siap dengan baju hitam, tanda akan melangkah. Tapi satriwati juga hadir. Maka qashad dirubah, niat diperbaharui. Jadilah malam ini bertabarruk membaca beberapa bagian kitab Idhahul Mubham, Bidayatul Balaghah, mukaddimah Mukhtashar Jiddan, dan Matan Kaelani. Dua jam, ibarat sedetik, tanda anak muda mempunyai “keramat”, kitab mempunyai “tuah”.
Artinya, menjadi “guru” hendaklah lazim disemat dalam fuad nan dalam. Karena disana, kelezatan, kiramat, tuah, kebesaran Allah, diperoleh; larang dijumpai pada yang lain.
Mungka, tadi malam/ 18 Maret 2021
Saya, Apria Putra “Tuangku Mudo Khalis”, al-Khalidi al-Naqsyabandi

No responses yet