Oleh: Muhammad Fajrul Izat Rusdi
Rasulullah -shalallahu alaihi wa- bersabda :
Sungguh aku diberikan al-Kitab (Al-Qur’an) dan serupanya (Hadits) bersamanya. (HR. Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud)
Hadits yang saya tulis ini menunjukkan bahwa nabi diberikan as-Sunnah (Hadits) sama sebagaimana diberikan Al-Qur’an. Sama-sama penting dalam martabatnya sebagai salah satu pilar penting islam. Jadi, keduanya tidak terpisahkan. Maka as-Sunnah juga termasuk dalam janji Allah pada ayat yang menjelaskan keterjagaan Al-Qur’an.
Allah berfirman di surat al-Hijr ayat 9 yang artinya : “Sungguh telah aku turunkan ad-dzikr (Al-Qur’an), dan aku yang akan menjaganya”.
Ayat ini jelas memberikan arti bahwa Allah akan menjaga kemurnian Al-Qur’an. Dan juga as-Sunnah termasuk dalam cakupan janji mulia ini, atas dasar hadits yang tadi saya kemukakan diawal.
Nahh, Diantara bukti penjagaan Allah terhadap as-Sunnah adalah Allah menyiapkan khair qurun (sebaik-baiknya masa), yakni para sahabat yang mulia, Allah memberikan kepada mereka himmah (kesemangatan) untuk bertalaqqi, menerima as-Sunnah, memperhatikan langkah demi langkah yang nabi Muhammad -shallahu alaihi wa sallam- lakukan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka dan menghafalnya dalam dada, yang kemudian disampaikan kepada Tabi’in (periode setelah sahabat) dan dilanjutkan mereka dengan penuh tanggung jawab dan amanah, sehingga mereka masuk dan berjalan dijalan yang benar.
Dengan berjalannya hari, silih bergantinya waktu serta keberlangsungan hidup manusia, masuk pada hal besar ini (as-Sunnah) orang-orang yang bukan ahlinya, mereka jatuh dalam kesalahan dan kekeliruan dalam riwayat hadits, bahkan bermunculan banyak kebohongan atas nama nabi Muhammad -shallahu alaihi wa sallam-.
Disaat itulah, Allah juga menunjukkan kuasanya dan membuktikan pada dunia akan kebenaran janjinya bahwa as-Sunnah akan selalu terjaga kemurniannya sebagaimana terjaganya Al-Qur’an. Dalam hal ini Allah menjadikan sekelompok dari para imam al-huffadz (hafal hadits-hadits nabi), yang mana mereka mencurahkan segala kemampuan dan keterampilannya untuk menjaga as-Sunnah.
Mereka bersusah payah berjuang dalam mengumpulkan hadits-hadits nabi, sehingga ditulislah as-Shihah (kitab yang mengumpulkan hadits-hadits shohih), al-Masanid (kitab hadits yang urutannya sesuai nama perawi), as-Sunan (kitab hadits yang urutannya sesuai bab-bab fiqh), al-Jawami’ (kitab hadits yang mencakup seluruh aspek agama), serta al-Ma’ajim (kitab hadits yang urutannya sesuai nama guru penulis) dan yang lainnya.

No responses yet