Oleh: Parisya Myra Sakanti dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga (Hasnawati, 2013). Salah satu kewajiban dari orang tua adalah memberikan pengasuhan kepada anak yang dilahirkannya. Hal ini dikarenakan orang tua dapat memberikan peran pentingnya dari cara pemberian pola asuh atau parenting. Hal ini seperti yang dikatakan oleh (Fahimah, 2019) yaitu masa depan anak sebagiannya bergantung pada pola asuh dan pendidikan yang diberikan orang tua.
Pengasuhan anak merupakan tanggung jawab orang tua sehingga cukup memainkan peran dalam menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan bagi seorang anak. Menurut Jus’at dalam (Padjrin, 2016) pola asuh adalah suatu sikap dan praktek yang dilakukan oleh orang meliputi cara memberi makan pada anak, memberikan stimulasi, memberi kasih sayang agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik. Sedangkan menurut (Adhim, 2006) pola Asuh (Parenting) adalah sikap orang tua terhadap anak bagaimana orang tua mempengaruhi anak, mendidik dan mengasuh anak, menghadapi perilaku-perilaku anak maupun kenakalan anak. Hal ini tentunya menjadikan pola asuh orang tua sebagai gambaran atas sikap dan perilaku antar orang tua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Dalam kegiatan memberikan pengasuhan ini, orang tua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, , serta tanggapan terhadap keinginan anaknya.
Peran orang tua dalam memberikan pola asuh yang positif menjadikan kunci dalam membimbing anak-anak menuju kesuksesan di masa depan. Dalam keluarga, orang tua tentunya akan selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya. Dengan orang tua yang baik, tentunya menjadikan seorang anak akan tumbuh dalam lingkungan yang baik pula. Orang tua yang baik yaitu orang tua yang dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya, baik kebutuhan duniawi maupun kebutuhan dalam persiapan di akhirat sehingga dapat menghindarinya dari siksaan api neraka. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S at-Tahrim ayat 6:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ
yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Dalam ilmu parenting, Rasulullah memberikan contoh bagi para umat manusia untuk membimbing dan memberikan pengasuhan kepada anak. Orang tua dapat memberikan bimbingan dan pengasuhan dengan upaya berikut, yaitu :
- Dengan memberikan teladan dan mengamalkan pendidikan akhlak sebagai pembelajaran.
Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, hal ini dapat dilakukna dengan memberikan dan mengamalkan pendidikan yang terkait dengan akhlak. Menurut (Padjrin, 2016) orang tua harus mendidik anaknya dengan akhlak mulia. Dengan begitu ilmu akhlak dapat memberikan kaitan yang erat akan ibadahnya kepada Allah Swt.
- Mengembangkan potensi yang dimiliki anak.
Menurut (Padjrin, 2016) , orang tua bertanggungjawab terhadap perkembangan potensi anaknya. Potensi dalam Islam dikenal dengan konsep fitrah. Islam memandang bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi ini memiliki potensi yang harus dikembangkan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda :
“Tiada seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).”
Hal ini mengindikasikan bahwa potensi bawaan yang dimiliki setiap anak merupakan titik awal yang suci dan alami. Pengembangan potensi tidak hanya berkaitan dengan aspek kecerdasan intelektual, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual, emosional, dan sosial. Islam mengajarkan agar orang tua membimbing anak-anak mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan penuh nilai-nilai kebaikan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Memberikan pembiasaan dengan peraturan agama.
Membiasakan anak sesuai dengan perintah agama merupakan tugas yang sangat penting dalam mendidik anak. Pembiasaan aturan agama membawa pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan perilaku anak-anak, sekaligus membangun fondasi moral yang kuat. Pembiasaan yang dilakukan dapat dengan memulai pada pembiasaan beribadah dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi bekal dalam kehidupan akhirat, seperti melakukan ibadah sholat, berlatih puasa penuh di bulan Ramadhan, serta beramal dan bersedekah. Selain itu, dalam berkarakter orang tua dapat dengan melatih anak untuk berkata yang santun, adab berdoa sebelum berkegiatan, serta selalu memberikan contoh yang baik kepada anak
Dengan mempraktikkan ajaran Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, orang tua dapat menciptakan lingkungan keluarga yang penuh cinta, harmoni, dan kebahagiaan, yang pada gilirannya akan membentuk pribadi anak-anak menjadi generasi yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Adhim, M. F. (2006). Positive parenting: Cara-cara Islami mengembangkan karakter positif pada anak anda. PT Mizan Publika.
Fahimah, I. (2019). Kewajiban orang tua terhadap anak dalam perspektif islam. Jurnal Hawa: Studi Pengarus Utamaan Gender Dan Anak, 1(1).
Hasnawati, H. (2013). Pendidikan akhlak dalam pola asuh orang tua. Jurnal Pendidikan Islam, 28(3), 439–454.
Padjrin, P. (2016). Pola Asuh Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Intelektualita: KeIslaman, Sosial Dan Sains, 5(1), 1–14.

No responses yet