Oleh:
Siti Nihayatul Fitriah, Faridatul Azna, Ainun Jahrona Dalimunthe
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
fitriahnihayatul@gmail.com faridhatulazna@gmail.com ainunjdthe@gmail.com
Abstrak
Dalam mengatasi masalah kesehatan mental dalam perspektif Islam, penting untuk menghindari perbuatan terlarang dan dosa, karena dapat menimbulkan perasaan bersalah, takut, dan malu, serta mengundang kemurkaan dan hukuman Allah.[1]. Mencari pengobatan dan penyembuhan juga dianjurkan dalam Islam, baik melalui cara herbal, medis, atau ruqyah (penyembuhan spiritual), karena diyakini bahwa penyakit dan penyembuhan pada akhirnya ada di tangan Allah, tetapi upaya manusia dan mencari pengobatan adalah hal yang perlu.[1]. Selain itu, kesabaran dan rasa syukur ditekankan sebagai atribut penting untuk kesehatan mental, karena dapat membantu mengatasi depresi, trauma, dan stres[1].
Perspektif Islam tentang kesehatan mental sejalan dengan pandangan umum para profesional kesehatan mental, meskipun reaksi negatif sering dihadapi oleh individu dengan masalah kesehatan mental karena kesalahpahaman masyarakat dan asosiasi budaya dengan keyakinan lokal.[2].
Beberapa tanda masalah kesehatan mental, seperti menarik diri dari lingkungan sosial dan kurang percaya diri, diakui dalam Islam sebagai indikator potensial masalah kesehatan mental.[3]. Untuk mengatasi masalah ini, praktik seperti membaca dan memahami Al-Qur’an, bersedekah, menunaikan shalat, dan menjaga keimanan kepada Allah direkomendasikan dalam Islam sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan mental.[4][5].
Perubahan suasana hati dan fungsi kognitif, yang merupakan gejala umum dari masalah kesehatan mental, juga diakui dalam Islam sebagai tanda-tanda potensial dari masalah kesehatan mental.[6]. Dalam mengatasi masalah ini, Islam menekankan pentingnya iman, ketergantungan kepada Allah, doa, dan mengingat Allah sebagai sarana komunikasi dan mencari hiburan.[7].
Kata Kunci : Kesehatan Mental dan prespektif islam
Abstract
In dealing with mental health problems from an Islamic perspective, it is important to avoid forbidden and sinful actions, because they can cause feelings of guilt, fear and shame, and invite Allah’s wrath and punishment.[1]. Seeking treatment and healing is also recommended in Islam, whether through herbal, medical, or ruqyah (spiritual healing), because it is believed that illness and healing are ultimately in the hands of Allah, but human effort and seeking treatment is necessary.[1] . Additionally, patience and gratitude are emphasized as important attributes for mental health, as they can help overcome depression, trauma and stress[1].
The Islamic perspective on mental health is in line with the general views of mental health professionals, although negative reactions are often faced by individuals with mental health problems due to societal misunderstandings and cultural associations with local beliefs[2].
Some signs of mental health problems, such as social withdrawal and lack of self-confidence, are recognized in Islam as potential indicators of mental health problems[3]. To overcome this problem, practices such as reading and understanding the Qur’an, giving alms, performing prayers, and maintaining faith in Allah are recommended in Islam as ways to improve mental well-being.[4][5].
Changes in mood and cognitive function, which are common symptoms of mental health problems, are also recognized in Islam as potential signs of mental health problems[6]. In overcoming this problem, Islam emphasizes the importance of faith, dependence on Allah, prayer, and remembering Allah as a means of communication and seeking entertainment.[7].
Keywords: Mental health and Islamic perspective
Pendahuluan
Masalah kejiwaan seringkali dihadapi dengan reaksi negatif dari sekitarnya, karena keterbatasan pemahaman masyarakat terkait gangguan jiwa. Tradisi dan budaya seringkali mengaitkan kasus gangguan jiwa dengan kepercayaan lokal, mengakibatkan beberapa orang enggan menerima penjelasan ilmiah dan memilih mengabaikan perawatan medis dan psikiatri. Meskipun demikian, pandangan Islam terhadap gangguan jiwa sejalan dengan pandangan umum para ahli kesehatan mental.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka.
Prof. Dr. Mustafa Fahmi mendefiniskan terdapat dua pengertian kesehatan jiwa (mental), yaitu: pertama, kesehatan jiwa adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa dan gangguan kejiwaan. Kedua, kesehatan jiwa adalah dengan cara aktif, luas, lengkap tidak terbatas, ia berhubungan dengan kemampuan orang yang menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakat lingkungannya, hal itu membawanya kepada kehidupan yang sunyi dari kegoncangan, penuh vitalitas.
Sementara menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa: “Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.
Secara bahasa, اسلام berasal dari kata سَلَم /سِلْم yang berarti selamat (as-salām), damai dan tentram, (al-shulhu wa al-amān), berserah diri (al-istislām), tunduk (al-khudlū’/al-id’zān), patuh (al-thā’ah). Jadi, Islam berarti keselamatan dan kedamaian karena berserah diri hanya kepada Allah SWT yang tidak ada Tuhan selain Dia. Sedangkan Islam menurut istilah adalah dīn atau agama yang bersumber dari Allah SWT yang di bawah melalui para Rasul-Nya, sejak Nabi pertama: Adam as hingga Nabi terakhir: Muhammad saw untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akihirat.
Dalam prespektif Islam, kesehatan mental merupakan suatu kemampuan diri individu dalam mengelola terwujudnya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya secara dinamis berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pembahasan
- Definisi kesehatan mental bagi manusia, khususnya muslim
Islam memberikan perhatian besar terhadap kesehatan mental, dan menyediakan berbagai cara untuk menjaganya. Beberapa kunci kesehatan mental dalam islam yaitu:
- Keimanan, meyakini Allah sebagai pencipta, pemelihara, dan pemberi petunjuk, yang menciptakan rasa aman, nyaman, dan tentram dalam hati.
- Sholat, ibadah yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, mengingat Allah yang merupakan sumber ketenangan batin.
- Larangan membahayakan diri sendiri, yaitu menghindari sesuatu yang bisa menyebabkan kehancuran bagi jiwa, badan, maupun agama, seperti dosa, maksiat atau hal-hal yang membahayakan.
- Perhatian kepada orang lain, tidak menyakiti hati, ucapan, atau perbuatan orang lain, dan berbuat baiklah kepada sesama.
- Perintah untuk berobat, mengambil sebab kesembuhan dari penyakit fisik maupun mental dengan cara medis, ruqyah, ataupun doa.
- Penyesuaian diri secara resgnasi yaitu, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dan menerima takdir-Nya dengan sabar dan ikhlas.
Jika kita slalu melanggar aturan-aturannya dan kita jauh dengan agama islam makan akan ada kekosogan dijiwanya, selama kebutuhan keseharianya sangat terpenuhi banyak teman, keluarga yang sangat penyayang namun dia tetap merasa hampa dan kekosongan yang menyelimutinya maka itu adalah gangguan kesehatan mental. Al quran adalah salah satu obat atau penyembuh untuk mereka yang memiliki sakit fisik dan rohani. Peran agama islam sangat penting untuk mendorong dan menjaga kesehatan mental dan menyembuhkannya, jika kita inggin menghilanhkan cemas dalam diri kita maka dekatkanlah dirimu dengan Tuhan dan selalu menjalankan kewajibannya, maka kamu akan diberikan suatuku kenikmatan hidup maka semakin dampak kekecewaan terhadap semuan ujian yang Allah berikan. Jika sebaliknya kamu jauh dari agamu makan semakin sulit dia menemukan ketentraman hati dan pikirannya.
- Faktor internal
Faktor Internal dipengaruhi oleh biologis dan psikologis. Seperti fungsi syaraf yang ditur oleh otak, kerja sistem endokrin penghasil hormon, keturunan, sensori atau indra.
Otak terdiri dari 4 macam yaitu otak kecil, otak besar, sumsum lanjutan dan jembatan varol. Bagian otak ini memiliki fungsinya masing-masing. Seperti otak kecil mengatur keseimbangan tubuh, keharmonisan gerak otot, dan posisi tubuh. Otak besar yang mempunyai fungsi sebagai pusat kesadaran manusia, yang berperan dalam proses belajar dan berpikir. Otak tengah berfungsi mengatur kelenjar endokrin, indra pengelihatan dan pusat pendengaran. Sedangkan jembatan varol adalah penghubung otak kecil bagian kiri dengan kanan dan penghubung antara otak besar denga sumsum tulang belakang. Yang harus kita fahami adalah neuron yang merupakan sel di otak dengan jumlah sekitar 5 juta sel. Neuron inilah yang merupakan kunci rahasia dari aktifitas belajar dan fungsi mental manusia. Neuron merupakan saluran penyampai sinyal emosi, materi materi intelegensi dan afeksi (rasa). Proses merekam, menamai sesuatu respon perasaan, emosi dan peristiwa. Ada kesesuaian antara perkembangan fisiologis otak dengan perkembangan mental. Apabila ada kerusakan otak maka kesehatan mental seseorang akan terganggu. Maka dari itu, perkembangan otak yang baik akan meningkatkan kesehatan mental yang baik.
Sistem endokrin merupakan kelenjar dalam tubuh yang mengeluarkan hormon. Hormon yang dikeluarkan diangkut keseluruh tubuh melalui darah. Peningkatan kesehatan mental dan pencegahan terhadap gangguan sitem endokrin dapat dilakukan melalui makanan dan aktifitas sehari hari.
Keturunan (genetik), pewarisan sifat ini diturunkan melalui kromosom yang dibawa oleh kedua orangtuanya. Setiap kromosom terdapat DNA yang membawa sifat-sifat genetik.
Sensori atau indra, orang yang mengalami gangguan sensori akan berakibat bisu, karna tidak pernah mengetahui bunyi suara dan cara bicara. Hal itu akan mengakibatkan gangguan pada kemampuan berpikir dan sosialnya. Selain itu orang yang mengalami gangguan pada indra lain seperti pengelihatannya pun akan mengalami gangguan pada kepribadiannya larena adanya keterbatasan dalam mengenal lingkungan. Maka dari itu keadaan sensori juga dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.
- Faktor eksternal,( interaksi sosial,keluarga, perubahan sosial, sosial budaya )
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang, seperti lingkungan serta keluarga. Faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi seseorang seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pekerjaan dan sebagainya, contohnya dari aspek keluarga ibu, ayah, istri, anak, sepupu dll dapat mempengaruhi kesehatan mental (Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung 2023). Faktor eksternal yang bersifat baik akan dapat membuat kesehatan mental seseorang tetap terjaga, tetapi sebaliknya jika faktor eksternal yang bersifat buruk makan akan mempenggaruhi cara berpikir yang tidak baik.
Ada banyak jenis gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar dan lain-lain. Setiap jenis gangguan kesehatan mental memiliki ciri-ciri dan gejala yang berbeda-beda, tetapi secara umum berikut adalah ciri-ciri dan gejala gangguan kesehatan mental :
- Perubahan suasana hati
Perubahan mood atau suasana hati ini bisa jadi salah satu ciri gangguan kesehatan mental. Akan tetapi jika hal tersebut terjadi karna adanya faktor pencetus tertentu, seperti stres kareba tekanan pekerjaan,masalah keluarga atau ada anggota keluarga yang meninggal, maka hal ini masih tergolong normal. Perubahan mood patut di dicurigai sebagai ciri-ciri dalam gangguan mental ketika sudah terjadi dalam waktu lama dan sulit di kontrol.
- Penurunan fungsi kognitif
Gangguan mental dapat membuat fungsi kognitif seseorang meurun, sulit berpikir jernih, sulit konsentrasi, mudah lupa, dan susah dalam mengambil keputusan. Pada tingkatan yang lebih parah penderita gangguan mental juga bisa mengalami panaroid, delusi, atau halusinasi. Hal tersebut bisa membuat penderita gangguan mental menjadi kurang produktif dan sulit menjalani aktivitas sehari hari.
- Perubahan perilaku
Masalah pada kesehatan mental bisa juga mempengaruhi perilaku seseorang. Ketika mengalami gangguan mental, seseorang bisa menjadi mudah tersinggung, cepat lelah atau merasa kurang bertenaga, kehilangan motivasi atau bahkan menjadi lebih agresif terhadap orang lain.
- Gangguan tidur dan makan
Gangguan tidur juga merupakan salah satu ciri gangguan mental. Penderita gangguan jiwa biasanya akan merasa susah tidur, terlalu banyak tidur, bahkan tidak bisa tidur sama sekali (insomnia). Hal ini bisa membuat mereka menjadi kurang berenergi dan tidak produktif saat menjalani aktifitas sehari hari.
Selain gangguan tidur, penderita gangguan mental juga bisa mengalami gangguan makan, contohnya menjadi tidak nafsu makan atau justru makan berlebihan (stress eating). Hal ini bisa meningkatkan risiko mereka terkena obesitas atau kekurangan nutrisi.
Penderita gangguan mental tertentu, seperti depresi, gangguan bipolar, gangguan cemas, biasanya akan sering menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka juga akan merasakan sulit beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain, tidak percaya orang lain, bahkan memutus hubungan secara mendadak dengan keluarga dan teman-temannya.
Rendahnya rasa percaya diri sebetulnya tidak selalu menandakan bahwa seseorang mengalami gangguan mental. Mungkin ini bisa saja karna sifat pemalu yang normal dimiliki. Namun jika perasaan rendah hati tersebut membuat seseorang sering menyalahkan diri sendiri, menyakiti diri sendiri atau mencoba untuk bunuh diri, maka hal ini bisa menjadi salah satu ciri gangguan mental yang perlu kita waspadai.
- Cara mengatasi gangguan mental dalam perspektif islam
Islam memberikan perhatian besar terhadap kesehatan mental, karena islam mengajarkan bahwa jiwa manusia adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan dibersihkan. Islam juga memberikan pedoman dan solusi untuk mengatasi gangguan mental dengan cara sesuai syariat dan akal sehat.
Ini adalah beberapa cara untuk mengatasi gangguan mental dalam perspektif islam:
- . Ini adalah dasar utama untuk mencapai ketenangan jiwa dan menghilangkan ketakutan, kecemasan, ataupun kesedihan.
- . Ini adalah cara untuk berkomunikasi dengan Allah, meminta doa, memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat dan mengucapkan kata syukur atas semua nikmat-Nya. Doa dan zikir juga bisa membantu mengusir bisikan-bisikan syaiton yang dapat menimbulkan gangguan mental.
- Solat adalah ibadah yang paling utama dan paling bermanfaat untuk kesehatan mental. Solat dapat membersihkan jiwa dari segala dosa, menghubungkan diri dengan Allah akan memberikan ketenangan dan kedamaian.
- . Al-Qur’an ini adalah kitab suci yang berisi petunjuk, hikmah, dan obat bagi jiwa. Membaca dan memahami Al-Qur’an dapat memberikan pencerahan, motivasi, dan solusi bagi berbagai masalah kehhidupan.
- Perbuatan ini adalah cara untuk membersihkan harta, jiwa dan kikir. Bersedekah dan beramal sholeh juga dapat menumbuhkan rasa cinta, empati dan kasih sayang terhadap sesama. Dengan bersedekah kita juga dapat menarik berkah dan rahmat Allah.
- Penyebab utama dari gangguan mental, karna perbuatan itu dapat menimbulkan rasa bersalah, takut, dan malu. Perbuatan terlarang dan maksiat juga dapat mendatangkan murka dan azab dari Allah.
- . Islam tidak melarang umatnya untuk beobat mengambil sebab kesembuhan, baik secara herbal, medis, atau ruqyah. Islam mengajarkan bahwa penyakit dan kesembuhan adalah urusan Allah, tetapi manusia harus berusaha dan berikhtiar.
- . Sifat ini adalah 2 sifat yang sangat penting untuk kesehatan mental. Sabar berarti menerima dan menghadapi cobaan dengan hati yang tenang., tidak marah ataupun mengeluh dan tidak merugikan orag lain. Syukur berarti mengakui dan menghargai nikmat Allah, tidak lupa, tidak sombong, dan juga tidak ingkar. Sabar dan syukur dapat membantu mengatasi depresi,trauma dan stress.
Kesimpulan
Definsi Kesehatan mental, khususnya bagi seorang muslim yaitu kesehatan yang berkaitan dengan kondisi emosi, kejiwaan, dan psikis seseorang. Kesehatan mental berpengaruh terhadap bagaimana seseorang berpikir, merasakan, bertindak, membuat keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain.kesehatan mental juga merupakan salah satu tujuan tertinggi islam, karena ia mempengaruhi ibadah dan akhlak seorang muslim.
Pran agama islam dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental terbagi menjadi dua factor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam faktor Internal dipengaruhi oleh biologis dan psikologis, sedangkan faktor eksternal, faktor yang berasal dari luar diri seseorang, seperti lingkungan serta keluarga. Faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi seseorang seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pekerjaan dan sebagainya.
Terdapat 6 ciri-ciri dan gejala gangguan kesehatan mental, yaitu perubahan suasana hati, perubahan fungsi kognitif, perubahan perilaku, gangguan tidur dan makan, menarik diri dari lingkungan sosial, serta merasa kurang percaya diri atau rendah diri.
Ada beberapa metode dalam prespektif islam untuk mengatasi ganguan mental, antara lain mengimani dan bertawakal kepada Allah, berdoa dan berzikir kepada Allah, menjaga solat 5 waktu dan solat sunnah, membaca dan memahami Al-Qur’an, bersedekah dan beramal shaleh, menghindari perbuatan terlarang dan maksiat, berobat dan mengambil kesembuhan, serta bersabar dan bersyukur.
Daftar Pustaka
Ariadi, Purmansyah. (2013). Kesehatan Mental dalam Prespektif Islam. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 3(2), 119
Noor, A., Tanjung, I., Setiwan, C., Tasawuf, J., Psikoterapi, D., Uin, U., Gunung, S., & Bandung, D. (2022). Peran Agama Islam terhadap Kesehatan Mental menurut Zakiah Daradjat. Gunung Djati Conference Series, 8, 214–225.
Indriati, Sepi. (2020, 24 Januari). Memelihara Kesehatan Mental oleh Dra. Sepi Indriati Psikolog. Diakses dari : https://rsjd-surakarta.jatengprov.go.id/2020/01/24/memelihara-kesehatan-mental-oleh-dra-sepi-indriati-psikolog/.
Aryatama, Aditya. (2022, 15 April). Menjadi Isu Global, Ini Pentingnya Kesehatan Mental Mahasiswa dan Pelajar. Diakses dari : https://www.hotcourses.co.id/study-abroad-info/student-life/ini-pentingnya-kesehatan-mental-mahasiswa-dan/
Superadmin. (2014, 25 November). Islam Sebagai Pilihan Hidup (Materi OSDI 2014). Diakses dari : https://lppi.umy.ac.id/islam-sebagai-pilihan-hidup-materi-osdi-2014/
Bela, Airindya. (2022, 20 April). Memahami Kesehatan Mental dan Cara Menjaganya. Diakses dari : https://www.alodokter.com/cari-tahu-informasi-seputar-kesehatan-mental-di-sini
Hafil, Muhammad. (2023, 05 Oktober). Enam Kunci Kesehatan Mental dalam Islam. Diakses dari : https://islamdigest.republika.co.id/berita/s21og9430/enam-kunci-kesehatan-mental-dalam-islam
Faqih, Muhammad Nur. (2023, 29 Agustus). Perhatian Islam terhadap Kesehatan Mental. Diakses dari : https://muslim.or.id/87277-perhatian-islam-terhadap-kesehatan-mental.html
Maharani, Esthi. (2020, 14 Oktober). Bagaimana Islam Memandang Kesehatan Mental?. Diakses dari : https://islamdigest.republika.co.id/berita/qi66az335/bagaimana-islam-memandang-kesehatan-mental
Nashrullah, Nashih. (2020, 03 April). Kesehatan Jiwa Menurut Imam Ghazali dan 3 Kategori Manusia. Diakses dari : https://islamdigest.republika.co.id/berita/q87u6z320/kesehatan-jiwa-menurut-imam-ghazali-dan-3-kategori-manusia
Ridwan, M. (2023, 05 Oktober). Islam dan Kesehatan Mental, Beserta Dalil dan Penjelasannya. Diakses dari : https://senyummandiri.org/islam-dan-kesehatan-mental-beserta-dalil-dan-penjelasannya/
Lubis, Askolan. (2016). Peran Agama dalam Kesehatan Mental. Diakses dari : https://www.neliti.com/publications/265483/peran-agama-dalam-kesehatan-mental
Jannah, Raehatul. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental: Faktor Internal dan Eksternal. Diakses dari : https://dosenpsikologi.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-kesehatan-mental
Adrian, Kevin. (2021, 24 Agustus). Kenali 6 Ciri-Ciri Gangguan Mental. Diakses dari : https://www.alodokter.com/kenali-6-ciri-ciri-gangguan-mental
Administator. (2021, 01 April). Cara pandang Islam mengenai mental health disorder. Diakses dari : https://muslima.hops.id/gaya/pr-3042153011/cara-pandang-islam-mengenai-mental-health-disorder

No responses yet