Jaringansantri.com – Sewaktu berkunjung ke kediaman sahabat saya di desa Cibeureum Cisarua Bogor, saya diajak mengunjungi suatu tempat yang bersejarah di desanya. Sembari berjalan, ia menceritakan satu kisah yang sangat dipercaya masyarakat lokal desa di sana. Sampai sekarang kisah ini masih diwariskan turun temurun kepada anak-cucu disana.

Kisah yang konon terjadi ratusan tahun lalu ini sudah tersebar luas ke luar daerah. Menjadi potongan puzzle dari sejarah terbentuknya komunitas muslim di sana. Dibuktikan dengan beberapa peninggalan kobong pesantren yang berada di dekat lokasi cerita. Meski masih berdiri namun dengan keadaan yang –bisa dikatakan, butuh perhatian.

Kisah yang itu bercerita tentang terselamatkannya warga kampung dari datangnya air bah yang siap menerjang desa Cibeureum. Volume air dari hulu yang semakin cepat bertambah, membuat warga panik. Warga sudah pasrah air bah susulan semakin besar dan menghancurkan rumah-rumah mereka.

Prediksi warga desa ini semakin menguat dengan melihat letak desa secara geografis. Posisi perumahan warga desa tepat berada di alur lekukan sungai. Secara alamiah tentu akan terkena terjangan air yang mengalir. Apalagi, lagi-lagi dengan volume yang besar lagi cepat.

Di tengah kepanikan warga melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman, mereka melihat hal yang sangat mencengangkan. Air bah yang seharusnya saat itu menghantam desa, tiba-tiba berbelok tanpa menerjang pemukiman.

Warga penasaran dan segera menuju titik persimpangan sungai. Di sana, berdiri seorang lelaki berusia lanjut yang memegang tongkat sembari berdiri di atas batu. Tongkatnya masih tertancap ketika warga datang. Lelaki itu tampak begitu tenang sembari melihat ke arah persimpangan sungai.

Lelaki berusia lanjut itu dikenal warga bernama Tubagus Andung. Lengkapnya bernama Tubagus Andung Alun-alun bin Tubagus Jakar Banten. Seorang tokoh masyarakat yang membuka dan mengajar pengajian di kampung tersebut kala itu. Sesuai gelarnya, Tubagus Andung berasal dari Banten namun berhijrah dan menyebarkan ajaran Islam di desa Cibeureum.

Seiring berjalan waktu kayu patok yang ditancap Tubagus Andung tumbuh menjadi pohon rindang dengan masih terlihat bentuk tongkatnya di antara batang pohon. Tempat pijakan kaki tatkala berdiri menahan air bah tertapakkan bentuk dua mata kaki. Kedua peninggalan tersebut kini masih terjaga di persimpangan sungai tersebut dan diabadikan masyarakat.

Selain pohon dan batu bertuah, di tempat itu juga dibangun semacam petilasan berbentuk makam dan sebuah ruangan kecil mengenang kejadian ini. Adapun makam keturunan dan keluarga dari Tubagus Andung masih dirawat warga. Haulnya diperingati setiap tanggal 11 Maulud oleh para santri dan masyarakat sekitar.

Penguat Identitas

Tubagus Andung hanyalah satu contoh di antara tokoh lokal lainnya yang tersebar di seantero Nusantara. Untuk daerah Bogor saja, kita masih bisa melacak cerita demikian dari Syeh Rosyid di desa Wewengkon Ciampea, Pangeran Sake di Citereup, dan lain-lain.

Sebagai sebuah kejadian luar biasa, kisah di atas sulit dimasuki nalar bagi sebagian kalangan yang hanya menggunakan akal sebagai bahan pertimbangan. Hal yang sering disebut karomah memang sulit untuk diterima jika tidak menggunakan pendekatan iman. Apalagi di zaman modern ini.

Meskipun demikian, perlu difahami bahwa tradisi tutur ke-karomah-an perlu dilakukan dua usaha agar kisah yang disampaikan dapat bertahan dengan baik, meski zaman terus berganti dari generasi ke generasi;

Pertama, Pelestarian. Pelestarian ingatan kolektif tentang suatu kisah lokal selain bertujuan mengenalkan asal-usul suatu hal juga sebagai pengingat identitas masyarakat. Djames Danandjaya pernah menulis, bahwa tradisi tutur kita sangat melimpah dan perlu dilestarikan, sebab dengan itulah masyarakat dapat menyadari identitas kelompoknya.

Identitas kelompok adalah kunci untuk mempererat sinergitas antar individu dalam kelompok masyarakat. Suatu komunitas biasanya terjalin karena adanya kesukaan, kecenderungan, kepercayaan, kebutuhan, maupun resiko yang serupa. Melalui interaksi berbasis kesamaan ini kontribusi bagi lingkungannya bisa mudah dilakukan.

Adanya kisah seperti karomah Tubagus Andung dalam suatu daerah juga dapat menjadikan pengetahuan sejarah dan perkembangan Islam setempat. Kisah-kisah seperti ini sering menjadi rujukan akhir peneliti ketika tidak ditemukan sumber penunjang lainnya (naskah, situs, atau manuskrip) terkait sejarah suatu sejarah Islam lokal.

Cerita tutur memang mendominasi kultur masyarakat luas kita. Karenanya perlu dilakukan pelestarian melalui tahap penulisan.  Kasus demikian mungkin dialami tokoh Ulama lokal di tiap daerah lainnya. Meski memiliki kisah yang berlimpah ilmu, dikarenakan kisah tuturnya tidak diimbangi tradisi tulis, ilmu dan wisdom tokoh tersebut hilang oleh zaman karena berkurangnya ingatan tiap generasi.

Selain itu, keseimbangan antara tutur dan tulisan ini juga bertujuan agar kisah, ilmu dan ajaran tokoh setempat tidak mengalami perubahan. Kemungkinan terjadinya distorsi sejarah juga bisa lebih dijaga. Bahkan kisahnya dapat menjadi bahan acuan analogi, tatkala terjadi masalah internal santri atau keturunannya  di masa kelak (social control).

Kedua, Penelahaan. Karakter masyarakat Islam kita yang berorientasi dengan ‘hal-hal mistis’ membuatnya sering dianggap perkara takhayul/mengada-ada. Padahal karomah bagi seseorang berilmu dengan tingkatan tertentu sangat dimungkinkan. Sebab dengan cara itulah Allah menjaga ‘cahaya’-Nya yang terbenam dalam hati seseorang pilihannya tersebut.

Lagipula, para tokoh ini pun sejatinya tidak mengharapkan kelebihan itu. Hatinya sudah penuh dengan “khauf” (rasa takut) dan “roja’ “ (pengharapan) luhur kepada Allah. Hidupnya sudah terkonsentrasi untuk terus menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan mengawal umat agar selalu ingat kepada-Nya.

Penelaahan yang baik, misalnya, dengan melakukan observasi mendalam terkait tokoh tersebut. Bisa melalui penelusuran keturunannya, tentang nilai dan kebijaksaan apa yang diwariskan turun temurun. Bisa juga dengan proses penelitian lain semisal penelitian naskah/sumber sejarah lainnya. Dengan tentu saja menuliskannya sebagai perpanjangan ingatan (fungsi mnemonik).

Penelaan suatu tokoh lokal, sebenarnya tidak saja sebuah kerja kultural masyarakat setempat, tetapi juga proses mengabadikan tokoh tersebut. Sebab besar kemungkinkan apa yang disampaikan oleh tokoh tersebut tak jauh dari perkara ilmu dan nilai. Akumulasi ilmu dan nilai ini, tentu dapat menjadi pengetahuan lain bagi generasi berikutnya.

Walakhir, Angin boleh saja terus berhembus dan menerjang pohon yang menjulang tumbuh. Namun selama akarnya kuat, pohon tersebut dapat terus bertahan. Akar yang demikian, adalah akar-akar yang erat menghujam bumi dan yang memiliki kemampuan menyerap unsur hara yang baik.

Pun juga, globasisasi bisa saja terus bergerak maju membawa beraneka macam pilihan faham-faham baru untuk menerjang suatu bangsa yang sedang tumbuh, namun selama bangsa tersebut memiliki identitas dan karakter yang kuat, bangsa tersebut akan dapat terus bertahan. Dan penguat dari identitas dan karakter itu dimulai dari kuatnya ‘akar’ pengetahuan tentang daerahnya, pun kemampuan untuk menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *