Jangan dikira membuat pendahuluan untuk artikel jurnal, tesis, atau hasil riset, gampang. Ketika membuat skripsi dulu, saya pikir perbuatan itu bebas saja seperti memilih kursi di tempat pecel lele. Tak heran kita sering menjumpai banyak tulisan pendahuluan yang ngalor-ngidul tak karuan. Saya masih sering mengalami sulitnya menulis pendahuluan yang baik. Untuk pengingat diri sendiri di kala tersesat menulis pendahuluan, saya menuliskan ini. Siapa tahu berguna pula bagi Anda.

Segala sesuatu memang akan lebih jelas ketika pikiran kita sendiri bening seperti kaca di mal-mal Jalan Sudirman dan Tamrin. Kita sudah mengerti akan melangkah ke mana dan bagaimana menyudahinya. Saya menilai tips dari Patrick O’Connor dan Margaret Cargill dari Universitas Adelaide ini mungkin berguna. Sekurang-kurangnya ada lima langkah yang harus dilakukan. Ia menuliskannya dalam Writing Scientific Research Articles Strategy and Steps  (2013).

Pertama, menyusun pernyataan mengenai area riset agar pembaca mendapatkan konteks masalah yang akan kita kaji dan dasar untuk mengklaim nilai penting riset. Untuk menjalankan nasihat ini, saya biasanya mulai dengan menentukan kata kunci (keywords). Misalnya “intoleransi keagamaan” dan “desain kebijakan”. Inilah area pertarungan saya. 

Kedua, membangun pernyataan lebih spesifik tentang aspek-aspek dari masalah yang sudah dikaji oleh peneliti lain dengan tujuan memberikan dasar-dasar informasi yang sudah diketahui. Rasanya ini tahap paling melelahkan. Sebab untuk sampai di sini, kita perlu membaca cepat hasil riset atau artikel-artikel tentang kata kunci yang sudah kita tetapkan, misalnya saja tentang “intoleransi keagamaan”. Apa yang mereka bicarakan dan apa saja temuannya. 

Untuk memudahkan, seorang dosen menyarankan membuatnya dalam bentuk tabel berisi sekurang-kurang nama penulis, judul, metode, temuan, dan rekomendasi. Dengan cara ini pekerjaan untuk masuk ke tahap berikutnya lebih mudah. 

Ketiga, menyusun pernyataan yang menunjukkan akan kebutuhan untuk investigasi lebih lanjut, menciptakan celah, memperluas cakupan masalah, atau ceruk kajian yang bisa diisi oleh penelitian ini. Dari review bacaan –bagian dalam kajian literatur—saya bisa melihat rupanya kajian tentang kajian terhadap desain pencegahan intoleransi masih sangat minim. Kajian yang berlimpah lebih pada kasus-kasus intoleransi, faktor penyebab, usaha-usaha mengatasinya. Kalau pun membahas kebijakan, kajian yang ada lebih banyak menyorot implementasi kebijakan. Tak banyak yang mengkaji desain kebijakan.

Keempat, membangun pernyataan spesifik tentang tujuan penulisan termasuk temuan-temuan utama. “Ini akan muncul di paragraf terakhir pendahuluan, tetapi akan berguna untuk menulisnya di awal proses penyusunan. Pastikan pernyataan tersebut mencakup semua parameter atau masalah yang menjadikan studi Anda baru dan signifikan,” tulis O’Connor dan Cargill.

Kelima, menyiapkan pernyataan tentang nilai positif atau keuntungan dari studi yang kita lakukan. Ini bersifat opsional. Namun bagian ini jelas penting untuk memberi gambaran pada pembaca apa pentingnya penelitian ini.

O’Connor dan Cargill lalu memberi tips lebih teknis lagi. Baiknya, kita mulai dari langkah keempat, masuk ke langkah ketiga, berikutnya kesatu, dan selanjutnya langkah kedua. 

Pendahuluan yang loyo dan kabur akan jadi cerminan tulisan-tulisan yang tak bertenaga dalam bagian-bagian lain. “Karena audiens pembaca utama dari editor atau juri Anda akan mulai dengan membaca pendahuluan, sebuah pendahuluan yang efektif amat penting”[] 

Kalimulya, 5 Januari 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *