Al-Ghazali pernah berkata, “Kalau loe bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” 

Begitu pun Imam Ali Ibn Abi Thalib krw, pernah mengungkapkan sebuah nasehat indah, “Semua manusia akan meninggal, begitu pun dengan penulis, hanya karya yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.”

Kata Alm. Bang Mamat Tukang Kopi :

“Kalau loe pengen tahu dunia, kudu banyak baca. Begitu juga biar dunia tahu loe tuh siapa, maka menulislah”.

Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanyalah hal yang biasa, tetapi bisa jadi hal tersebut malah menjadi salah satu cara mengungkapkan perasaan diri lewat rangkaian kata. Ketika mulut sudah tak sanggup mengeluarkan permasalahan yang tengah berkecamuk, maka tulisan bisa menjadi sarana yang tepat untuk mencurahkan isi hati. Ya… Mirip2 Jomblo curhat lah di status FB.

Ya…, menulis itu tak semudah membalikkan telapak tangan, banyak hal yang menjadi pertimbangan yang pada akhirnya mempersempit pikiran hingga enggan untuk menulis. Lalu yang dirasakan diri adalah tekanan batin, yang ujung-ujungnya menyebabkan diri sakit, baik fisik maupun psikis.

Padahal, menulis akan menjadi hal yang menyenangkan dan tentunya membuat diri jauh lebih bahagia. Tidak menutup kemungkinan jika rutin menulis bisa jadi mendatangkan keuntungan finansial.

Sering kali ketakutan diri menjadi belenggu utama untuk memulai bercerita lewat tulisan, meski telah berupaya agar bisa menulis tanpa ada bayang-bayang buruk yang belum tentu terjadi. Hingga tidak ada satu kata pun yang tertuang ke dalam tulisan tersebut, hanya menatap layar monitor kosong. Bahkan tak jarang rokok yg sudah disulut untuk menemani pun habis begitu saja.

Menulislah dengan rasa bahagia. Buang semua kecemasan dan keraguan. Jangan takut dengan tata bahasa atau ejaan yg salah. Kalau perlu tanamkan dalam diri bahwa bahasa itu bersifat arbitrer (suka-suka loe).  Menulis tanpa perlu takut salah, karena seiring berjalannya waktu, kita akan banyak belajar terkait dunia li-“terasi” yg bau itu.

Sebagai penutup, Mpok Leha Tukang Kopi pernah berkata : 

“Modal utama menulis itu adalah niat yang kuat, bebaskan diri untuk mengekspresikannya dalam tulisan dan banyak2lah membaca.”

Kalau kata Kipli pacarnya Mpok Mumun yang nakal  : “Menulislah tanpa harus takut KBBI apalagi sampai jadi penyembahnya.”

Jika tertarik buku di cover; hubungi di sini

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *