_”Jikalau tidak ada fakir, sakit, dan mati niscaya manusia tidak akan menundukkan kepalanya dari kesombongan. Karena itu pula manusia berani melakukan maksiat kepada Allah Swt.”_
Hasan Al-Bashriy
Kesombongan mengakibatkan kecelakaaan yang sempurna. Kita ingat kisah Iblis yang sombong, kemudian diusir dari surga. Kita ingat pula kisah Fir’aun yang sombong tenggelam dalam lautan. Belum lagi Namrud yang sombong, berakhir tewas sebab nyamuk pincang sayapnya bersemayam di dalam hidungnya.
Lagi-lagi kesombongan menjadikan duka dan nestapa. Bahkan Hasan Al-Bashriy, menegaskan bahwa dosa yang lahir dari kesombongan tidak dapat diharapkan taubatnya. Contoh rilnya adalah Iblis. Sebab sombong ia menutup telinga atas printah Allah Swt.
Sifat sombong yang sedemikian rupa buruknya layak untuk redam dengan ketawadhu’an. Agar nantinya sombong enyah dari hati manusia. Setelah itu barulah dengan ketawadhu’an seseorang meninggi derajatnya. Sebagaimana Nabi Saw., mengatakan, “Siapa yang tawadhu’ akan diangkat oleh Allah dan siapa yang sombong akan direndahkan oleh Allah.”
Dalam tawadhu’ ini harus dilatih secara konsisten. Sebab tidak mudah seseorang untuk mampu merasa lebih rendah dari orang lain. Apalagi narsis menjadi gaya hidup yang menjadi ciri khas abad ini. Sebab itulah tawadhu’ harus dilatih dan terus dilatih. Paling tidak dengan cara merasa lebih rendah, dari pada orang lain serta merasa sangat kecil di hadapan Allah Swt.
Di samping itu tidak memandang rendah pada orang lain juga dapat melatih ketawadu’an dan melibas kesombongan. Senagaimana sebagian ulama menyatakan bahwa, “Barang siapa memandnag saudaranya dengan padangan merendahkan nicaya kelak ia akan merasakan kehinaan.”
Nah dari uraian di atas, penting untuk terus belajar meredam kesombongan. Mengenyahkan dari lubuk hati yang paling dalam. Jika sombong pantas disebut sebagai oenyakit hati maka tawadhu’ adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati sifat sombong.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 11-02-2021.

No responses yet