Jika ada keberpihakan waktu inilah mimpi saya di komunitas Padhang Makhsyar —-

Sudah cukupkah hanya mengetahui bahwa Kyai Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah — di tengah realitas ber-Muhammadiyah perlukah pikiran-pikiran Kyai Ahmad Dahlan digali, dirawat dan dijaga sebagai sandaran moral dan etics ?  

*^^^^*

Sudahlah semua tahu, Pikiran maju yang ditawarkan Kyai Dahlan cukup menghentak— umat Islam yang kala itu sedang lengah bagai di sengat lebah. Sontak kaget. Tidak sedikit yang melawan bahkan menuduh Dahlan, kyai kafer karena banyak gagasannya yang di-tasyabuhkan. 

Banyak peneliti menyebut bahwa Kyai Dahlan bukan hanya sekedar ulama tapi juga seorang ‘pragmatikus’ agama bertangan dingin. Carel Whyterington seorang peneliti senior menyebut bahwa Muhammadiyah adalah pergerakan yang diberkati— terlalu banyak untuk dikemukakan sebagai penanda bahwa pegerakan ini bukan hanya pandai bersilat kata tapi nyata ada.

Gagasan maju yang ditawarkan banyak menginspirasi pergerakan Islam di paruh pertama abad 20— meski teramat sulit merangkum pikiran Kyai Dahlan dalam satu konsep atau rumusan yang rigid. Sesuatu yang menurut saya amat dibutuhkan sebagai sandaran moral dan ethics bagi penggiat Persyarikatan pada kemudian hari. Kyai Dahlan sebagai pikiran hidup seharusnya menjadi kredo meski bukan bermaksud menuju sakral. 

*^^^*

Tapi keprihatinan terus meruak berbanding terbalik dengan prestasi yang banyak diraih—- banyaknya amal usaha tak cukup membuat jamaah Persarikatan mengenal dekat Kyai Dahlan, bahkan banyak sebagain besar yang hanya tau nama. Sebuah paradoks ditengah riuh modernitas. 

Pikiran-pikiran Kyai Dahlan tak banyak dirawat — hanya ‘lamat-lamat’ terdengar, berserak diantara manuskirip yang patah-patah, karena tak cukup bisa disambung dalam satu pikiran utuh. Hal mana bisa saja disebabkan karena kyai Dahlan tidak meninggalkan karya tulis yang bisa dijadikan dokumen. Diperparah karena di Muhammadiyah tidak ada tradisi mengenang jasa. Sehingga sebesar apapun jasa akan lewat karena dianggap telah ‘iklas’ dalam konteks tak perku lagi di sebut-sebut lagi bagi yang sudah usai. Sesuatu yang bagi saya kurang patut. 

Sayang nya para peneliti di Persyarikatan juga banyak yang tidak tertarik dengan pikiran-pikiran Kyai Dahlan di awal berdiri. Dan lebih sibuk dengan urusan amal usaha. Dikhawatirkan terjadi distorsi pemikiran, ide atau semangat dengan amal, yang sangat mungkin disebabkan karena ‘etika maju’ kerap tidak menghargai masa lalu. Tradisi masyarakat ‘urban’ kerap memutus benang merah masa lampau, akibatnya banyak hal yang tidak bersambung atau bersanad. 

*^^^^*

Padhang Makhsyar akan terus berikhtiar mengumpulkan manuskrip, suhuf, hasil riset tentang Kyai Dahlan baik peneliti dari dalam atau luar negeri yang punya konsentrasi atau terpikat dengan pikiran-pikiran Kyai Dahlan — sebab itu pula sangat berkepentingan terhadap dokumen, manuskrip atau apapun yang berhubungan dengan pemikiran Kyai Dahlan. 

Pikiran-pikiran Kyai Hadji Ahmad  Dahlan harus senantiasa digali, dirawat dan di implementasikan dalam pergerakan —  jujur saya belum menemukan satu buah karya yang bisa dijadikan rujukan pasti, selain yang berserak dan tidak terkumpul rapi dalam sebuah kodifikasi. 

Ini pekerjaan berat dan tidak populair, mungkin pula akan dianggap tidak urgen atau tak perlu — tapi Padhang Makhsyar sudah berkomitmen betapa pun itu — 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *