NU maju karena menjadikan Muhammadiyah sebagai model gerakan pemajuan, pemodernan dan inklusifitas.
Muhammadiyah berada di zona nyaman sebagai Islam berkemajuan, modern dan eksklusif.
Keduanya sepasang harakah saling menggenapi.
^^^^
Modernis dan tradisionalis agaknya sudah tak lagi bisa dipatok. Atau dikurung dalam definisi yang rigid. Apalagi jika ukuran modern dan tradisional bertumpu pada simbol-simbol fisik dan gerak mekanik. Menafikkan yang substantif bahwa modem dan tradisional lebih pada cara berpikir, cara pandang atau state of mind.
Seratus tahun yang lalu mungkin: celana, pentalon, dasi, sepatu vantovel bisa disebut modern berbanding terbalik dengan sarung, surban, terompah atau kopyah. Atau buku putih dengan huruf tulisan Latin Eropa lebih modern dibanding kitab kuning bertulis Arab gundhul disebut tradisional.
NU pun disebut kaum tradisionalis sebab mengenakan sarung, surban, terompah dan ‘atribut ndeso’ lainnya yang kemudian identik dengan ‘kaum ndesit’ yang dianggap kolot, jumud dan tidak mau berubah. Tapi benarkah stigma ini ?
^^^^
Batasan simbolik itu sudah berubah seiring dengan gerak dialektik — sunatullah tak bisa dibendung. Yang dulu di sebut modern dan tradisional telah berubah dan menghapus garis batas. Sementara yang menabalkan diri sebagai modern bisa saja berubah tradisional, kolot dan jumud karena mengusung semangat eksklusifitas.
Belum ada kata pasti siapa pertama sebut NU tradisional atau Muhammadiyah modern — Nakamura dan Greg Barton pun juga tak bisa jelaskan kenapa kedua gerakan Islam ini seakan mengambil posisi saling berhadapan.
Batas-batas modernitas dan tradisionalis itu sudah diterabas— NU sudah punya puluhan universitas, rumah sakit atau boarding school sebagai silmbol modernitas — sebaliknja Muhammadiyah tak kalah gesit dengan membanngun puluhan pesantren dengan berbagai variannya yang dulu dianggap tradisional.
Muhammadiyah sukses menjadi model gerakan Islam modernis —membuka cakrawala pemikiran Islam yang luas dan menyandingkan pada budaya modern. Dengan begitu Islam menjadi setara. Tidak dipandang sebelah mata seperti sebelumnya. Gagasan dan ide Kyai Dahlan dinikmati banyak orang. Proses Dialektik sedang berlangsung natural sebab begitulah yang seharusnya.
^^^*
Perbedaan fisik dan gerak mekanik makin menipis — lantas apa yang tersisa dari perspektif modernitas dan tradisionalis itu ? Bukankah keduanya sudah sama-sama pakai celana, dasi dan sepatu vantouvel dengan merk yang sama, keduanya sudah sama-sama membaca buku putih dengan tulisan Latin Eropa ? Bahkan Gadget nya juga sama-sama dari produk kafer yang sama ?
Jadi apa yang di perdebatkan ? Tentang nawaitu, qunut subuh, bacaan sayyidina atau tentang peringatan maulid ? Kemudian saling membangun identitas sebagai atribut untuk membedakan. Yang baca ushali, qunut subuh yang memperingati maulid disebut tradisionalis ? Dan sebaliknja yang meninggalkan disebut modern ?
Dulu sekali —pelajar modern disebut ‘student’ — pelajar tradisional disebut ‘santri’ — tapi bisa saja sekarang malah berbalik, menyebut ‘student’ dianggap kemaruk atau kem-Inggris
No responses yet