Inilah sebagian para pejuang Muhammadiyah itu — namanya tak pernah disebut dalam kartu undangan, tapi kecintaan dan amal salehnya terhadap Muhammadiyah tak berkurang, meski hidup di lingkungan telogis yang ketat dan tak bisa sempurna mengamalkan pemahaman agama menurut tarjih —- mungkin belum kafah menjadi Muhammadiyah, sebab masih aktif yasinan, tahlilan dan selamaten dan tak pernah di openi karena tidak ‘dianggep’.

^^^
Ini hanya perjalanan biasa tak ada yang istimewa— pulang rutin jam 8 atau 9 malam selepas isya— pada warung sate faforit di depan masjid jamik, di bangun besar dan indah di sebuah desa dekat perkotaan—-

Kali ini saya pulang agak sore dan mampir di warung sate selepas maghrib menjelang isya— saat menunggu pesanan, terdengar sayup mu’adzin merdu mendayu—saya menunda pesanan mendekat ke masjid mengambil air wudhu,

Tak dinyana di dalam masjid jamik yang megah itu, saya dijemput tiga orang yang mendekat mengucapkan salam, dilanjut pelukan tipis-tipis, seorang sahabat yang sudah lama tak sua — bercengkerama sebentar menunggu iqamah — saya mengikuti semua prosesi shalat dari takbir hingga doa bersama imam yang diaminkan bersama, saya punya kebiasaan tak pernah meninggalkan jamaah yang sedang bermunajad dengan alasan apapun, terlalu eman dilewatkan doa-doa indah orang-orang sederhana dan tulus itu.

^^^
Usai shalat, kami bertujuh membentuk halaqah tanpa janjian — hanya saling berkabar baik. Diantara mereka ada yang menjadi ketua takmir, wakil sekretaris, wakil bendahara, bagian pembangunan dan yang membanggakan ‘mereka semua adalah warga Muhammadiyah yang berkhidmah di masjid sebelah.

Mereka fasih bicara tentang pidato pengukuhan guru besar Mas Mukti barusan — mengabarkan Prof Malik yang gerah, kabar terakhir Pak Amien di PAN dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah di Kota Batu, mereka juga sudah bersiap menjadi penggembira muktamar di Solo yang ditunda. Kami bicara banyak hal tentang Muhammadiyah malam itu.

Kaget bercampur haru —saya tak pernah meragukan ke Muhammadiyahan mereka walau dalam banyak hal masih mengamalkan tradisi karena sesuatu hal— Yasinan, tahlilan dan selamaten adalah hal lain yang tak bisa ditinggal dan saya sangat mafhum.

^^^
Di tempat lain di sebuah kantor pemerintahan kota, saya juga menyaksikan banyak kader yang mencintai Muhammadiyah dalam diam—dia turut membesarkan Persyarikatan dengan cara yang dia bisa, mungkin tidak terdengar apalagi terlihat. Tak sedikit pengurbanannya untuk Muhammadiyah, baik harta, tenaga, pikiran dan kekuasaan yang ia miliki, meski tak diminta dan tak berharap ucapan terimakasih dari pengurus.

Dengan kata lain — Persyarikatan ini besar bukan karena seseorang, atau sekelompok keluarga yang mengaku paling memiliki, dan berhak menjudge ideologi, antum Muhammadiyah atau bukan, atau memilah-milah sekehendak hatinya. ‘Ini rumah besar’ Buya Syafi’i Maarif ngendikan— ‘ini federasi pemikiran, gagasan dan amal’ tutur Prof Din. Intinya jangan menyempitkan pandangan ‘ini rumah besar — ‘
Kepada mereka yang mencintai Muhammadiyah dalam diam, saya mengucapkan salam—

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *