Dalam al Qur’an ada 2 ( dua ) jenis keikhlasan. Yaitu ketika kita berupaya untuk ikhlas, ini dibahasakan dengan ‘mukhlis’, dan sebuah karunia dari Allah terhadap orang-orang yang mukhlis yaitu keikhlasan yang datang dari-Nya

yang dibahasakan dengan ‘mukhlas’. 

Al Qusyairy berkata: “Jika Allah menghendaki untuk memurnikan keikhlasannya, Dia akan menjadikannya tidak meyadari keikhlasannya sendiri dan jadilah dia ikhlas oleh Tuhan, (mukhlas), bukan ikhlas karena dirinya sendiri, (mukhlis)”.

Orang-orang yang mukhlas inilah yang iblis tiada sanggup untuk menggodanya.Iblis menjawab:”Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan merreka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka. (QS. 38:82-83)

Al-Junayd mengatakan, “Keikhlasan adalah rahasia antara Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk bisa dituliskannya dalam catatan amal seseorang. Syaithan tidak mengetahuinya hingga dia tak merusaknya, nafsu pun tak menyadarinyasehingga ia tidak bisa mempengaruhinya”.

Al-Fudhail menyatakan, “Menghentian amal-amal baik karena manusia adalah munafik, dan melaksanakannya karena manusia adalah musyrik. Ikhlas berarti Allah menyembuhkannya dari dua penyakit ini”.

Perkataan ini benar-benar mengisyaratkan bahwa keikhlasan terjadi ketika Allah telah menyembuhkan hati kita dari menghiraukan apa-apa yang dikatakan oleh manusia. 

Yang terpenting adalah ketika kita telah mempertimbangkan sebuah amal akan tujuannya untuk Allah serta maslahatnya, maka lakukanlah hal itu, dan janganlah pedulikan cemoohan atau pujian manusia. 

Dan jangan sedikit pun terbesit dalam hati kita melakukannya untuk mendapatkan pujian manusia. 

Yang tak.mukhlis, Muflis.

Yang tak mukhlas…. Ah, jangan memelas !

Ihdina ash shiraath al mustaqiem….

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *