Sebelumnya, matur nuwun atas semua doa dan ucapannya, mbah. Semoga doa njenengan pada saya, meluber hingga memenuhi njenengan juga. Barokallahu lanaa wa lakum, mbah. Aamiin.
Nah, balik mbahas qudroh, mbah.
Qudroh adalah mashdar ghoiru mim dengan ta’ marbuthoh dengan makna marroh atau senantiasa terus menerus tanpa henti. Sehingga qudroh bermakna kewenangan dan kekuasaan yang bersifat senantiasa abadi terus menerus tanpa henti dan tanpa putus, dalam mengatur, memperhitungkan, menimbang dan memutuskan segala hal yang tampak wujud. Qudroh gak mungkin dimiliki makhluk yang ada expired-nya. Sehingga sifat qudroh ini mutlak hanya dimiliki oleh Gusti Allah saja.
Setelah akal mampu memastikan keberadaan Gusti Allah dengan segala sifat-Nya, maka akal harus kita tundukkan di bawah Qudroh-Nya. Keyakinan tentang Qudroh Gusti Allah harus di atas akal. Karena kadang Qudroh tidak selalu sejalan dengan akal, sehingga akal yang harus menyesuaikan Qudroh. Lha wong Qudroh itu kewenangan absolut Gusti Allah, jadi ya terserah Gusti Allah.
Dawuh Gusti Allah dalam surat Al Baqarah ayat 197
وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Bertakwalah kepadaKu, duh orang-orang yang berakal”
Mbah Imam Sahal At Tustary menafsiri, ulil albab bermakna orang yang punya pemahaman dan logika akal sehat. Sehingga ayat ini bermakna bahwa Gusti Allah memerintahkan kita untuk menjunjung tinggi ketaqwaan kepada-Nya di atas akal. Akal tentu punya keterbatasan kemampuan dalam memikirkan dzat-Nya. Sehingga akal harus tunduk pada sifat Qudroh Gusti Allah. Akal harus terikat dan membenarkan yang haq dari Gusti Allah sehingga terwujud akal yang sehat.
Mungkin dawuh Mbah Mahrus Ali bisa memberi ilustrasi tentang hal ini. Bahwa Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 th dan umatnya banyak. Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 th tapi umatnya segelintir. Tetapi di dalam Al Quran yg disebut ulul ‘azmi adalah Nabi Nuh. Inilah Qudroh-Nya.
Dari Bib Dodi ElHasyimi, diceritakan oleh Mbah Yai Maimun Syafi’i, ada cerita 4 orang santri Lirboyo yang mendapatkan ijazah doa Ibnu Alwan (orang Jawa bilang Ajian Lembu Sekilan) dari Mbah Mahrus Ali pada waktu peristiwa 10 November 1945, dimana di akhir doa tersebut ada lafadz :
لا يموت 3x إلا بإذن الله
“Tidak akan mati (dibaca 3 kali) kecuali dengan kehendak Gusti Allah”
Dan Alhamdulillah, qodarullah mereka semua selamat saat terjadi pertempuran, tidak ada satupun peluru dan senjata yang nembus bahkan nyerempet tubuh mereka. Namun salah satu di antara 4 orang tadi, akhirnya ada yang meninggal karena infeksi sehabis tertusuk duri. Ternyata benar, sesuai mantranya, Laa yamuutu illa bi idznillaah.
Akal yang ruwet dengan pikiran materi pasti akan fokus melihat sesuatu secara perhitungan kuantitas. Sedangkan akal yang sehat dan tunduk pada Qudroh Gusti Allah akan melihat sesuatu secara non materi seperti kualitas, kesinambungan dan hikmah di balik peristiwa.
Sehingga Imam Ghozali dawuh
وأنه حيّ قادر جبار قاهر
“Dan sesungguhnya Gusti Allah itu Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Absolut”
Gusti Allah Maha Hidup yang selalu mengurus dan mengatur makhluknya tanpa henti (Al Hayyul Qoyyuum). Sehingga Gusti Allah berhak disebut Al Qodir, Maha Berkuasa. Kekuasaan Gusti Allah bersifat absolut dan memaksa.
Misal ada orang gak pingin nikah sama orang kelahiran Surabaya, tapi karena Gusti Allah Maha Memaksa, lha kok tiba-tiba jadinya nikah sama orang Surabaya. Kalo ini cerita istri saya. Hahaha.
Jadi, tidak ada sama sekali kekuatan yang bisa menghalangi kekuasaannya, karena yg namanya “kekuatan” sendiri itu milik-Nya. Maka pantas Gusti Allah disebut Al Jabbar Al Qohir.

No responses yet