Categories:

Oleh: Gus Ahmad Gholban Aunirrahman

Nabi Muhammad pernah bersabda

العلماء ورثة الا نبياء

“‘Para ulama adalah ahli waris para nabi”

Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa masing masing ulama memiliki ciri khas sesuai masing masing nabi. Sebagaimana masing masing nabi memiliki keistimewaan sendiri sendiri, maka masing masing ulama pun memiliki keistimewaan sendiri sendiri mewarisi keistimewaan masing masing nabi.

Ada Ulama yang diberi Allah kekuasaan mewarisi kekuasaan seperti nabi Daud dan nabi Sulaiman. Ada ulama yang diberi Allah keistimewaan bisa menyembuhkan segala penyakit mewarisi keistimewaan nabi Isa. Dan seterusnya.

Mengamati beliau KH Muhammad Shiddiq, beberapa kiai saat ini yang kami dengar langsung seperti dari kh Mustofa Bisri dan kh Ali Masyhuri mengutarakan bahwa keistimewaan KH Muhammad Shiddiq adalah dianugerahi Allah memiliki keturunan yang sebagian besar dijaga dan dipelihara oleh Allah. Keistimewaan ini persis seperti keistimewaan Nabi Ibrahim yang memiliki keturunan banyak para nabi. Semua nabi Bani Israil dan juga pemimpin nabi adalah keturunan nabi Ibrahim.

Hal ini bisa terjadi persis seperti digambarkan Allah dalam firmanNya Ketika Allah  memberitahu kepada nabi ibrahim:

انى جاعلك للناس اماما

“Aku jadikan engkau pemimpin para manusia”

Menariknya nabi ibrahim tidak menjawab “baik ya Allah” atau kalimat senada. Nabi Ibrahim justru menjawab 

قال ومن ذريتى

“Anak keturunan saya Ya Allah”.

Dari dialog di atas, kita bisa mengetahui Nabi ibrahim adalah tipikal nabi yang sangat sayang kepada anak keturunannya. Oleh karena itu nabi ibrahim sampai diuji Allah untuk  menyembelih putra tersayang nabi ismail sebagai ujian lebih sayang mana nabi ibrahim, apakah kepada tuhannya atau kepada putranya. Bahkan dalam riwayat nama ibrahim adalah singkatan dari abun rahim atau ‘ayah penyayang’. 

Begitu pula KH Muhammad Shiddiq yang diberi Allah karomah mendapatkan emas batangan di dalam ember ketika menimba sumur maka kh muhammad shiddiq mengembalikan emas itu dan berdoa “Ya Allah bukan emas dunia yang saya inginkan, saya hanya memohon diberi putra putri yang baik Ya Allah”.

Di Indonesia, KH Muhammad Shiddiq adalah kiai yang putranya satunya pernah menjadi ketua tanfidz PBNU yakni KH Mahfud Shiddiq dan satunya menjadi Rais ‘Am PBNU yakni KH Ahmad Shiddiq.

KH Muhammad shidiq juga dianugerahi Allah memiliki cucu yang senang bersholawat seperti kh ali mansur yang akhirnya menciptakan sholawat badar dan seorang cucu yang senang mendalami dunia sufi seperti kh abdul hamid pasuruan. Dan seterusnya.

Pertanyaannya kini, bagi kita para orang tua, apa yang sudah kita korbankan kepada Allah untuk kebaikan masa depan anak anak kita. Sungguh, sebaik baik warisan orang tua kepada anak keturunannya bukanlah harta dan tahta melainkan tirakat panjang dan doa yang disertai air mata untuk kebaikan masa depan anak anaknya. Karena orang tua yang berakal pasti lebih tenang menitipkan anak keturunannya kepada Allah dibanding menitipkannya kepada harta dan tahta.

Mari kita menjadi ‘abun rahim abun rahim’ selanjutnya. Dan semoga anak keturunan kita menjadi ‘ishaq’ dan ‘ismail’ selanjutnya

الى كياهى محمد صديق رحمه الله 

الفاتحة

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *