Dalam satu kesempatan Paijo bertemu dan berdialog dengan Generasi Muda Islami (GMI) di kampus. Anak-anak muda itu sangat bersemangat  dalam bertanya, meskin ada kesan ingin menguji dan ingin tahu alasan Paijo kenapa dialebih suka menggunakan “analogi” dari pada berdalil dengan ayat al qur’an dan hadist yang pakai bahasa Arab. Dimana menurut mereka hal itu kurang keren karena tidak ada bahasa Arabnya untuk menjelaskan Islam yang lahir di Arab. 

GMI : “Kang Paijo, bicara soal Islam menjadi  kurang seru dan nggak keren kalau nggak pakai dalil  berbahasa Arab. Terutama dari Al Qur’an dan hadits. Kalau cuman pakai analogi itu kurang syar’i .” 

Paijo : “Oooh begitu ya pola pikir anak muda sekarang.  Baiklah tolong jawab pertanyaan-pertanyaan saya berikut ini. Apa sih arti dan makna syar’iat Islam  itu ? 

GMI :  (Dengan  serentak dan bersautan)  “hukum Islam”, “aturan Islam”, “ketentuan Islam”.  (Seorang pemuda yang berjenggot tipis dengan tenang menjelaskan) “Syari’ah itu berasal dari kata syari’ yang artinya jalan. 

Paijo : “Ok kalau begitu mari kita mulai diskusi kita  dengan “syari’-syari” atau jalan-jalan. (Mereka tertawa semua, dan Paijo melanjutkan pertanyaannya).  

Paijo : “Adakah yang tahu Al-Qur,an  itu sumbernya dari mana? 

GMI : (Serempak mereka menjawab) “Ya  dari Allah kang.” 

Paijo : “Siapa yang pertama kali diberitahu jalan menuju sumber itu ? 

GMI : “Ya Nabi Muhammad lha kang, masak kita? 

Paijo : “Lho kenapa bisa Nabi Muhammad?”

GMI : “Ya karena  beliaulah yg dipilih Allah untuk menerima wahyu ( Al-Qur’an)  tersebut.

Paijo : “Kalau hadist atau  As-Sunah siapa sumbernya ?”

GMI : “Ya  Nabi Muhammad kanggg (dengan nada mulai jengkel).

Paijo : ” Jadi menurut kalian Nabi kita Muhammad telah membangun jalan pemahaman kepada Al-qur’an dengan sunnahnya?” 

GMI : ” Betulll. Bahkan Nabi kita sampai diijinkan oleh-Nya untuk melakukan perjalanan (jalan-jalan) menemui Diri-Nya langsung yg dikenal dengan  Isra’ dan Mi’rajd kang”. Tambah  si Thohir anak lulusan pesantren kilat.

Paijo : “Apa kalian tidak bisa jalan-jalan kayak nabi ketemu Allah tanpa melewati jalan yang pernah “dibangun” Nabi?”

GMI :  (Mereka mulai tolah-toleh dan dengan lirih menjawab)  “Tidak bisa kang.”

Paijo : “.Lho  Nabi kan teladan buat kita? Kok kalian bilang tidak bisa? Lha kalian nyotoh siapa ? Mereka tambah tolah toleh saling memandang. Paijo melanjutkan bertanya; “Apa kalian tahu jalan menuju jalan yang dibangun Nabi itu? 

GMI : “Kami  tidak tahu kang?”

Paijo : “Siapa yang tahu menurut kalian ? 

GMI : “Para sahabat Nabi kang.”

Paijo : “Apa kalian tahu jalan menuju jalannya para sahabat Nabi itu?”

GMI : “Tidak tahu kang.”

Paijo : “Siapa yang tahu jalan itu menurut kalian ?”

GMI : “Para Tabi’in kang.”

Paijo : “Apa kalian tahu jalan menuju jalan para Tabi’in itu?”

GMI :  Tidak tahu kang” 

Paijo : “Siapa menurut kalian yang paling tahu jalan para Tabi’in ?”

GMI :  “Para ulama kang.”

Paijo : “Nah sekarang kalian tahu kalau jalan-jalan (Syari’ah) itu sampai kepada kita karena ada membuatkan buat kita semua. Analoginya sama dengan  jalan-jalan  di depan rumah kita. Jalanan itu sudah ada sebelum kita lahir karena ada yang membagun sebelum kita. Kita tidak mungkin mampu membangun jalan kita sendiri mulai depan rumah sampai ke kampus ini tanpa keterlibatan banyak pihak. Jadi kalau kalian mau bikin jalan (syari’ah) sendiri tidak mau melewati jalan yang sudah ada itu ya silahkan saja. Saya do’akan tidak salah arah. Tapi saya jamin kalian tidak akan pernah sampai kampus ini karena saya tahu kalian tidak punya modal dan kemampuan untuk membikin jalan dari depan rumahmu sampai ke kampus ini sendirian. Apa kalian mau merobohkan rumah tetanggamu? Menggusur tanah mereka? Bikin jembatan sendiri?Jadi kalau ada orang mengaku Islam kemudian berteriak-teriak mengkafikan orang lain dan menyesatkan orang lain atas nama syari’at, pasti dia orang yang mau membangun jalan sendiri (jadi belum punya dan tidak tahu jalan (syari’at).  Mereka tidak akan pernah nyampai tujuan, karena mereka samasekali belum berjalan (masih mau buat). Sebab itulah  ayo kita syukuri bahwa kita telah dipermudah dengan adanya jalan-jalan (syari’ah) yang sudah sampai ke depan (rumah) kita ini, kalaupun kita dikasih tahu oleh Allah bahwa ada bagian jalan yang kurang pas atau sedikit rusak ya mari kita perbaiki bersama.

GMI : ( Tiba-tiba ada pemuda cerdas berdiri dan dengan keras bertanya) “Tapi kang, kalau syari’ah itu berbeda-beda  akibatnya ya seperti sekarang ini kita jadi terpecah belah dan perang satu sama lainnya.”

Paijo : ( Terdiam sejenak sebelum kemudian bertanya pada anak yang namanya konon diubah sama murabinya menjadi Abu Jundullah itu). “Rumah kamu sama rumah temanmu si Umi Kulsum jalannya sama nggak kalau ke kampus? 

Abu Jundullah : ” Ya nggak lah kang, masak saya sama si umi satu rumah? Kitakan kan bukan muhrim” 

Paijo : ” Kalau seperti itu, berarti juga sama dengan pemahaman terhadap syari’at Islam. Dimana  masing-masing sahabat Nabi, Tabi’in dan Ulama itu memiliki rumah (tingkat intelektual, latar budaya bangsa, zaman, tingkat peradaban dll) yang berbeda. Jadi mereka membangun jalan terdekat yang memungkinkan mereka bisa mencapai tujuan (Allah) dengan jalan itu. Nah kalau untuk ke kampus kamu cuman butuh jalan kaki apa kamu mau bangun jalan tol  dari rumah kosmu ke kampus? Lha wong jaraknya cuman 50 meter. Kalau temanmu si Ali itu pantas dia lewat jalan tol (naik Bus) karena rumahnya memang di Osowilangun dan dia tidak punya kendaraan sendiri. Masak dia mau jalan kaki ke kampus?

GMI : (Tiba-tiba semua tertawa) “Hahahaha” 

Paijo : “Jadi begitulah Abu, kenapa jalan-jalan itu berbeda karena kita memang berbeda-beda. Kenapa kita bisa terpecah belah, itu karena cara berpikir kita yang terlalu “mencintai” jalan kita sendiri tanpa pernah mencoba dan melihat jalan orang lain. Jadi lain waktu menginaplah kamu di rumah Ali dan berangkatlah dari sana menuju ke kampus agar kamu tahu bagaimana pengalaman Ali. tapi ngomong2 apa ada dari kalian yang tersesat dan tidak sampai di kampus ketika berangkat tadi pagi? 

GMI : (Dari sudut ruangan muncul teriakan)  “Si Badron kang! Dia tidak masuk hari ini pasti dia tersesat karena tadi SMS sedang ada di warkop mak Ijah.” Tetiba semua tertawa dan seorang di antaranya  berujar ; ” Si Badron tidak tersesat kang, tapi niatnya memang mau ngopi di warung mak Ijah, sebab dia memang sedang naksir anak mak Ijah. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *