Awali segala sesuatu aktifitas yang baik dan berguna dengan membaca basmalah dan hamdalah, serta mengakhirinya dengan hamdalah lagi.

Banyak bersholawat kepada Rasulullah Saw. Karena sholawat itu punya keistimewaan yaitu ikhlas atau tidak ikhlas membaca sholawatnya, tetap dapat pahala. Juga khusyuk atau tidak khusyuk membaca sholawat, tetap saja dapat ganjaran bersholawat.

Jangan lupa bersyukur kepada ALLAH SWT, dan manusia (terutama orang tua, guru, dan mertua), serta siapapun yang menjadi wasilah nikmat/rezeki/pertolongan. Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti sama saja tidak bersyukur kepada ALLAH.

Lafadz Tahmid (Alhamdulillah) itu dalam ilmu balaghoh (sastra Arab) termasuk Khobar bimakna Insya = informasi tapi maknanya perintah. Sehingga bukan saja memberitahu bahwa segala puji itu milik ALLAH, tapi sekaligus juga kita harus banyak memuji ALLAH, terutama setiap mendapat nikmat. Minimal dengan mengucapkan : Alhamdulillah atau lengkapnya alhamdulillahilladzi binikmatihi tatimmush sholihaat. Adapun kepada orang lain, minimal jangan lupa mengucapkan terima kasih.

Yang dimaksud segala puji bagi ALLAH itu adalah bahwasanya puji-pujian itu semua ada   empat dimensi yaitu :

  1. Qodimun li qodimin, puji ALLAH kepada dirinya, misalnya ALLAH menyatakan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kaya atas sekalian alam, sehingga tidak membutuhkan apapun atau  siapapun. dan masih banyak lagi contoh lainnya. 
  2. Qodimun li haditsin: puji ALLAH kepada makhlukNya. Seperti ALLAH memuji para Nabi dan Rasul-Nya juga para sahabat Nabi.
  3. haditsun li qodimin, puji makhluk kepada Tuhannya Yang Qodim (Terdahulu). Seperti kita memuji ALLAH setiap kali mendapat nikmat. 
  4. Haditsun li haditsin : puji makhluk kepada sesamanya. seperti kita memuji anak, saudara,  teman, atau siapa saja karena kepintarannya, kesalehannya, kecantikannya dlsb. Maka ketika kita dipuji seseorang, janganlah “ge-er” (lupa diri) atau mabuk pujian. Semestinya kembalikanlah semua pujian orang lain itu kepada ALLAH sebagai pemilik segala puji.

Pengertian Keluarga Nabi Muhammad Saw itu bisa ditinjau dari dua sudut yakni :

  1. maqom zakat, dari sudut larangan menerima zakat, keluarga Nabi Saw itu adalah yang berasal dari keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Jadi para keturunan Nabi tidak boleh menerima zakat. Mereka hanya boleh menerima sedekah, hadiah, hibah.
  2. maqom do’a, dari sudut mendapat keberkahan do’a, yang dimaksud keluarga Nabi itu adalah setiap yang bertaqwa. Jadi, siapa saja yang bertaqwa, maka mereka mendapatkan keberkahan do’a dari setiap sholawat yang dilantunkan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sahabat Nabi adalah orang yang bertemu dengan Nabi, beriman kepada beliau dan wafat  dengan membawa iman dan Islam. Maka orang yang bertemu dengan Nabi tapi tidak beriman, tidak bisa disebut sahabat. contohnya Abu Jahal dan Abu Lahab. Begitu juga yang bertemu dan beriman kepada Nabi namun matinya kafir atau murtad, maka tidak dikategorikan sahabat Nabi. Misalnya golongan munafiqin,  Nabi palsu dan para pengikutnya.

Sholawat jika berasal dari ALLAH bermakna Rahmat. Maka jika ALLAH bersholawat kepada Nabi, berarti ALLAH mencurahkan Rahmat kepada Nabi. Sedangkan jika berasal dari malaikat, sholawat bermakna istighfar. Maka jika malaikat bershalawat kepada Nabi, berarti Malaikat memohomkan ampun untuk Nabi. Adapun sholawat yang berasal dari umat Nabi, bermakna do’a. Maka jika kita bersholawat kepada Nabi, berarti kita mendoakan Nabi, agar dilimpahkan anugerah Rahmat, kesejahteraan dan keselamatan dari ALLAH. Di sini bukan berarti Rasulullah Saw ingin didoakan oleh kita. Justeru beliau sudah penuh dengan rahmat, ampunan, keberkahan dan ridho ALLAH, maka bila kita bersholawat, berarti menambahkan lagi anugerah-anugerah tersebut. Pastinya akan luber, karena kepenuhan. Nah luberannya itu yang akan tercurah kepada siapa saja yang bersholawat kepada beliau.

edisi ngaji online 1, 22 April 2020

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *