Imam Ghozali dalam Kitab Arbain Fi Ushuliddin membagi pembahasannya per sepuluh bab. 10 bagian pertama tentang sifat-sifat ketuhanan Gusti Allah. 10 bagian kedua tentang syariat2 dzohir. 20 terakhir tentang tazkiyatun nafs yang dibagi dua. Terdiri dari 10 bab tentang akhlaq buruk dan 10 bab tentang akhlaq mulia.

Diantara 10 akhlaq buruk adalah banyak makan, banyak omong, amarah, hasud, bakhil, gila hormat, cinta dunia, sombong, ujub dan riya’. 10 macam akhlaq buruk tersebut banyak terjadi dan penyebab utama rentetan akhlaq buruk lainnya.

Harus dipahami bahwa semua akhlaq buruk itu saling berkaitan dan saling berkelindan. Misal bermula cinta dunia, bikin kita pelit, lalu jadi banyak makan, lalu hatinya jadi riya’, ujub, sombong lalu hasud dan rentetan akhlaq buruk lainnya.

Maka untuk menyembuhkan semua penyakit hati itu, pengobatannya tidak bisa satu persatu, namun harus serentak semuanya dan bertahap. Agar tidak terjadi rentetan akhlaq buruk lainnya. Perlu juga dengan bimbingan guru agar lebih terkontrol dan konsisten. Dengan begitu, baru bisa diharapkan hati bebas penyakit.

Logikanya kalau kita infeksi parah, maka butuh paracetamol buat penurun panas, asam mefenamat buat obat nyeri, vitamin untuk imun, antibiotik untuk membunuh kuman dan lain-lain. Dan semua obat itu harus diminum serentak dengan dosis tertentu dgn kontrol seorang dokter, agar tidak terjadi sakit turunan yg jadi rentetannya. Dengan begitu, bisa diharapkan tubuh bebas penyakit.

Walau kesehatan qolbu itu gak lepas dari pertolongan Gusti Allah, kita tetap harus berusaha secara amaliyah lahir batin sebagai upaya menjaga anugerah Gusti Allah berupa qolbu, sebagai wujud takut dan syukur kita pada Gusti Allah. Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri juga terus menjaga hatinya lewat berbagai amal lahir batin.

Imam Sahal At Tustary dawuh

التوكل حال النبي، والكسب سنته، فمن بقى على حاله فلا يتركن سنته

“Tawakal itu watak Kanjeng Nabi, dan kasab (melakukan usaha) adalah sunnah (adat, kebiasaan) Kanjeng Nabi, siapa saja yang ingin menetapi watak Kanjeng Nabi, maka wajib baginya melakukan sunnahnya tersebut (melakukan usaha)”

Semua manusia itu dibekali Akhlaq yang terbagi jadi dua, Kholq dan Khuluq. Kholq adalah jasad kasar dan Khuluq adalah batin yang halus. Kholq bisa dilihat dengan bashor (pandangan bola mata), Khuluq hanya bisa dirasakan dengan bashiroh (mata batin).

Maka, tidak masuk akal kita berharap terjaga kesehatan lahir batin tanpa ada upaya menjaga kebaikan anugerah dari Gusti Allah berupa akhlaq tersebut. Gusti Allah selalu melihat kesungguhan upaya kita dalam menjaga lahir batin demi terjaganya kebaikan akhlaq. Dan hal itu yg nantinya jadi pertimbangan di mahkamah Gusti Allah di akhirat.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

أثقل ما يوضع في الميزان خلق حسن

“Yang bisa memberatkan timbangan akhirat adalah akhlaq yang terjaga kebaikannya”

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga dawuh

الدين الخلق الحسن

“Agama adalah terjaganya kewarasan akhlaq”

Maka, selain berharap pertolongan Gusti Allah, kita juga harus berusaha lewat amal sebagai tanda takut dan syukur pada Gusti Allah. Di sanalah ada agama yang hakiki.

Kenapa penting untuk menjaga khuluq?

Karena khuluq atau jasad halus atau roh atau jiwa manusia adalah inti penggerak kholq atau jasad kasar yg diibaratkan wadah. Bahkan Gusti Allah sendiri dalam Al Qur’an selalu menyatakan jiwa dan ruh adalah urusan-Nya langsung.

قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي

“Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku” (Al Israa’ 85)

Sementara jasad kasar atau badan itu dalam Al Qur’an selalu dikaitkan sesuatu yang rendah seperti sperma dan tanah, karena bakalan hancur.

Ketika jiwa itu kembali pada pemilik-Nya, kita sebagai yang dititipi, harus mengembalikannya dengan keadaan yang paling bagus. Paling tidak, tidgak bolong-bolong banget lah, biar tidak malu-maluin.

Logikanya kalau kita dipinjemi barang, ya jangan sampai rusak. Nanti kalau ada rusak dan cacat pas pengembalian, tentunya ada perhitungannya. Nah, kita nanti juga akan mempertanggung jawabkan keadaan jiwa kita saat jiwa kita kembali ke pemiliknya ruh.

Ruh itu dibekali 4 mesin sebagai alat produksi untuk menghasilkan akhlaq yang baik atau buruk, antara lain:

  1. Quwwatul Ilm. Mesin yang punya kemampuan untuk memahami dan membedakan kejujuran dan kebohongan dalam perkataan, kebenaran dan kejahatan dalam niat, kebaikan dan keburukan dalam amal berdasarkan informasi berupa syariat dan hokum-hukum. Saat kekuatan ilmu ini bisa mendominasi, maka hasilnya hikmah yang merupakan puncak kemuliaan.
  2. Quwwatul Ghodhob. Mesin yang punya kemampuan dan kepekaan untuk menciutkan amarah dan menjadikannya seimbang sesuai dengan isyarat hikmah dan syariat.
  3. Quwwatusy Syahwah. Mesin yang punya kemampuan dan kepekaan untuk menciutkan syahwat dan menjadikannya seimbang sesuai dengan isyarat hikmah dan syariat.
  4. Quwwatul ‘Adl. Mesin yang jadi operator yang mengatur, mengontrol dan mempertimbangkan amarah dan syahwat dan menjadikannya sejalan sesuai dengan isyarat agama dan akal sehat.

Akal sehat tempatnya berada di manzilatun naashih atau kesadaran murni dalam sanubari yang jadi kesadaran jiwa. Akal sehat ini menjadi salah satu sumber informasi sebagai bahan pertimbangan quwwatul ‘adl dalam mengontrol segala keputusan kita.

Kalau akhlaq itu diibaratkan seperti sebuah sajian kuliner, marah dan syahwat merupakan bumbu yang  menjadikan kita nyaman terhadap sesuatu. Quwwatul ‘adl yang berfungsi mengatur keduanya.

Cara kerjanya begini menurut Imam Ghozali. Contoh kasus kita tertarik oleh seorang wanita, syahwat merespon ingin memiliki, amarah merespon ingin menyingkirkan semua penghalang. Lalu akal sehat menangkap informasi, berbicara realitanya dan mengukur kemampuan kita. Ilmu memberi catatan peringatan konsekuensi jika terlalu menuruti syahwat dan amarah. Ilmu juga memberi solusi yang bisa ditempuh secara syariat, bisa nikah atau menahannya dengan segala konsekuensinya. Maka segala keputusan mau zina, nikah atau puasa aja, berada di tangan Quwwatul ‘Adl yang menjadi pengatur keputusan terakhir.

Semua perangkat jiwa ini harus bekerja dengan baik sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Setiap hasil racikan bumbu dari perangkat jiwa itulah yang nanti akan menghasilkan akhlaq itu bagus atau tidak.

Segala keputusan kita tentu tidak selalu berdampak baik atau buruk saja. Selalu ada efek samping entah baik atau buruk juga. Maka dari itu, kita kudu selalu mengupayakan semua perangkat ruh itu bekerja dengan baik dengan maintenance berupa ibadah lahir dan tazkiyatun nafs. Agar semakin tajam dan peka sehingga segala keputusan itu bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Gusti Allah. Terutama tentang bagaimana kita mengontrol amarah dan syahwat kita. (Bersambung)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *