Dalam jiwa manusia yang kosong ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup. Ia terombang-ambing dalam ketidakmengertian. Tidak tahu kemana arah hidupnya. Ia tidak mengerti tentang siapa dirinya yang sejati.
Kekacauan dan kemerosotan moralitas pada jaman sekarang tak lain adalah karena jiwa manusia yang kosong. Kosong di dalam, sehingga menyebabkan kekacauan di luar.
Dalam pengetahuan manusia memang pintar luar biasa. Dengan kepintaran, tanpa adanya jiwa yang berisi, maka kepintaran yang ada hanya digunakan untuk kejahatan.
Karena pintar, namun jiwanya kosong, maka manusia kemudian lebih berlomba-lomba mengejar kenamaan dan kekuasaan serta memupuk harta yang dianggapnya paling berharga. Padahal semua itu palsu belaka.
Dalam jiwa yang kosong, manusia tidak mengerti mana yang asli dan yang palsu. Yang asli dianggap palsu dan yang palsu dianggap asli. Dalam jiwa yang kosong timbullah kesesatan berpikir. Yang salah dijadikan teman setia, yang benar dijadikan sebagai musuh besar.
Lihat di dunia ini, banyak manusia yang pintar, namun jiwanya kosong. Karena itu ia selalu mencari keuntungan bagi diri dan tak sungkan mencelakakan orang lain, bahkan mengibuli Tuhan.
Banyak manusia kaya, namun jiwanya kosong, sehingga tak mendapatkan kebahagian dalam hidupnya. Sebab itu mencari pelarian dengan menyalahgunakan obat terlarang dan mencari hiburan yang tak pantas.
Bahkan karena kekosongan jiwanya tak sedikit orang-orang kaya ini harus bunuh diri yang dikiranya akan membebaskan hidupnya dari tekanan.
Banyak juga kaum agama yang tampak religius, tapi sesungguhnya jiwanya kosong. Karena belajar agama tak sampai mengisi jiwanya. Ajaran agama hanya sampai ke kepalanya dan disimpan di bibirnya. Sekadar omong-omong agar orang lain tahu ia beragama.
Biar lebih tampak religius lagi, maka simbol-simbol agama yang ada digunakan untuk menghiasi tubuhnya.
Indah dan meriah. Namun di kedalaman jiwanya kesepian. Kosong melompong.
Dari pada banyak mikir, mending banyak zikir. Banyak mikir bisa banyak waktu terbuang, banyak zikir… Penuhlah waktu tanpa luang.
“Aku bersama hamba-Ku selama dia berzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban).
Dalam hadis lain disebutkan:
“Golongan yang selalu berzikir kepada-Ku adalah golongang yang selalu beserta-Ku di majlis-Ku. Golongan yang bersyukur kepada-Ku adalah golongan yang Aku tambahi nikmat mereka. Golongan yang taat kepadaku adalah golongan yang mulia di sisi-Ku. Dan golongan yang durhaka kepada-Ku adalah golongan yang Aku tidak menghalangi mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertobat kepada-Ku, niscaya Aku akan mengasihi mereka. sesungguhnya Aku mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri. Jika mereka tidak bertobat, maka Aku adalah ibarat tabib bagi mereka. Aku akan menguji mereka dengan beragam musibah, sehingga Aku mensucikan mereka dari kesalahan-kesalahan mereka.” (H.R. Ahmad).
Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang senantiasa berdzikir adalah kebersamaan yang tidak serupa dengan kebersamaan apa pun. Kebersamaan itu lebih khusus dari kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat baik dan bertakwa. Kebersamaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata dan tidak bisa dikatakan. Dia hanya dapat diketahui dengan perasaan atau intuisi.
Ya, kebersamaan dengan-nya tak bisa diungkap dengan kata-kata. Terima kasih cinta,! Aku tak sekadar…
Makin banyak yang pintar, namun jiwanya terlantar.
Iqra, bismirabbikalladzi kholaq. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Maka bacalah apa saja, asalkan bismirabbika.
Jika kita membaca dengan semangat bismirabbika, berarti kita memulai dari sesuatu yang dekat terlebih dahulu. Mendekati Tuhan, untuk kemudian membaca kehidupan ini, atau kembara keilmuan ini, dengan namaNya. Maka Allah yang akan menuntun kemana ilmu semestinya kita jelajahi.
Maka kita temukan ada orang desa yang tak perlu sekolah tinggi-tinggi tetapi “menemukan” pengaturan Tuhan dalam liuk-liuk batang padi di sawahnya yang menguning. Dan ada pula seperti Al Ghazali, yang “menemukan Tuhan” justru setelah kembara keilmuannya mentok.
Ilmu, itu kebendaan. Menelusuri belantara ilmu berarti menelusuri alam kebendaan. Pengertian-pengertian akan keTuhanan, ternyata, menurut orang-orang arif, ialah melampaui kebendaan.
Hanya jika kita menemukan diri kita sebagai yang tidak berdaya, maka barulah pandangan kita akan melampaui kebendaan dan menemukan fakta bahwa DIA-lah yang maha berdaya.
Ibnu Athoillah menyederhanakan ungkapan ini dengan mengatakan “jangan bersandar pada amal,” karena bahkan amalpun kebendaan. Atau singkat kata, persandaran kepada Allah mesti dimulai sejak awal. Bismirabbika. Latihan meloncati kebendaan.
Jebakannya adalah, orang yang menelusurui belantara keilmuan, tanpa sikap bismirabbika maka tak akan dia temukan apapun pada belantara keilmuan itu selain dari dirinya semata.
Semakin dia mengembara keilmuan, semakin tidak dia temukan Tuhan dalam kehidupannya. Karena yang dia temukan hanyalah keteraturan pada hukum-hukum alam.
Yang tak memulai kembara keilmuannya dengan bismirabbika, dijamin tak bisa IQRA dengan benar. Pintar boleh jadi, tetapi semakin pintar dirinya, semakin hanya dirinya saja yang dia temui dalam pengarungan ilmunya.
Mari, membaca diri dan mengaca dari.
Masuki ruang angkuh mu !
Bagaimana mau tidak mengaku kalau selama ini kita diajarkan untuk mengaku-ngaku. Ini milikku, ini tanganku, ini dadaku, ini hartaku, ini pintarku, ini bisaku, ini seribu pengakuanku… Dan semua pengakuan kita itu sudah karatan berada didalam ceruk-ceruk memori otak kita. Anehnya lagi, semakin kita tidak mengaku, malah sebaliknya pengakuan kita itu semakin pekat muncul didalam pikiran kita. Saat kita mengaku tidak hebat, maka yang muncul didalam pikiran kita malah kita yang hebat. Saat kita mengaku tidak sombong dan angkuh, maka yang muncul didalam pikiran kita malah saya sombong dan angkuh. Cobalah kalau tidak percaya.
Ya Insya Allah, kalau kita mencoba untuk tidak mengaku itu dengan pikiran kita. Untuk tidak mengaku itu, kita masuk kedalam alam memori pikiran kita. Bahwa untuk mengaku tidak hebat itu caranya begini dan begitu, untuk mengaku tidak sombong itu kita harus begini dan begitu. Hanya sekedar definisi-definisi saja kesemuanya itu.
Padahal sombong itu adalah rasa. Rasa sombong. Begitu juga dengan rasa-rasa yang lainnya, seperti rasa hebat, rasa angkuh, rasa bisa, rasa hidup, rasa kaya, rasa ada…
Dan jadilah kita menjalankan rasa itu dalam setiap langkah kehidupan kita. Saat dada kita dilekati oleh rasa angkuh, maka kita akan menjalankan keseharian kita dengan rasa angkuh itu. Kepada siapa saja kita akan angkuh. Malah semakin lemah dan rendah orang lain yang ada dihadapan kita, maka rasa angkuh itu akan semakin kental dan pekat pula munculnya. Dan kita sangat-sangat terbiasa masuk dan terikat dengan rasa angkuh itu. Kita dililit oleh rasa angkuh itu, seperti lilitan seekor ’ular python’ yang super besar. Kita terengah-engah seperti kesulitan bernafas.
Semakin dalam kita masuk kedalam ruangan rasa angkuh itu, semakin sesak pula nafas kita. Malah sesak nafas kita itu akan lebih parah lagi kalau ada orang lain yang ‘menggemai’ (menyentuh) rasa angkuh kita.
Ah… sombong itu bikin tersiksa dan sesak dada !!!
Astaghfirullaah…
Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim… tuhibul ‘afwa fa’fu ‘annii…
Suluk kami, suluk taubat. Bukan untuk jadi hebat.
Tidak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah SAW, tidak ada yang terlambat sebelum ajal menjemput sebagaimana firman Allah:
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Az-Zumar: 53).
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110).
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Asy-syuura: 25).
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf: 153).
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 104).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).
Siapapun engkau wahai sahabatku, seburuk apapun masa lalumu… Aku akan menyambutmu dengan penuh kasih. Aku akan menjabat dan memelukmu tanpa risih. Dan kan kubawa kau bersamaku untuk menjadi jiwa yang bersih. Sebab “Aku mencintaimu…”

No responses yet