Makam Mbah Kyai Menggung dan Nyai Menggung. Di Dukuh Menggungan, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Di administrasi pemerintahan, dukuh ini dieja menjadi Temenggungan. Di lisan masyarakat dilafalkan Tumenggungan.

Makam ini dianggap sebagai pepunden di sini. Dulu, kata warga, makam ini berjirat bata merah (kuno).Lalu oleh warga dibangun hingga berbentuk seperti ini. Di sisi barat makam ini ada tiga sendang. Ketiganya dipakai oleh masyarakat untuk mandi, mencuci, dan terutama untuk anak-anak berenang.

Tidak ada yang tahu siapa jejuluk dan atau nama Mbah Menggung dan istrinya serta siapa mereka sebenarnya. Riwayat paling mungkin masih pada tuturan bahwa keduanya adalah santri Sunan Bayat atau Ki Ageng Pandanaran. Warga sekitar hanya tahu bahwa keduanya adalah pepunden pembabat alas dukuh tersebut.

Sekali lagi, tidak penting apakah sahibul makam itu wali atau bukan wali. Yang terpenting adalah koneksi atau ketersambungan dan kemenyambungan kita pada para pendahulu iman-islam dan pembuka peradaban sebelum hari ini. Hak mereka atas kita adalah dimintakan ampunan atas dosa-dosa mereka dan didoakan semoga mereka dimasukkan sebagai ahli surga berkat syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Linnabi walahumul fatihah…

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *