Categories:

Oleh : Nurul Azizah (Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Seiring berjalannya waktu, berkembangnya ilmu pengetahuan, dan mempesatnya teknologi, pembahasan tentang emansipasi wanita tidak pernah berhenti barang sesaat. Semakin hari para wanita semakin cerdas, intelektual, mandiri, dsb. Ternyata bibit pergerakan wanita yang mulai hitz di Indonesia saat Kartini mencetuskannya berhasil menarik para wanita untuk keluar dari gelapnya lorong yang bernama ‘keterbelakangan’.

Saat ini para wanita menggandeng erat emansipasi. Belajar setinggi – tingginya, berkarir seluas – luasnya, berkarya sebanyak – banyaknya. Semua dilakukan semata-mata untuk kemajuan diri, agar tidak terbelakang oleh para lelaki.

Lalu pertanyaan nya adalah setujukah Islam dengan hal tersebut?

Menilik dari QS. Al Mujadallah ayat 11 yang mengatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan menuntut ilmu beberapa derajat. Artinya adalah tidak ada batasan untuk eksplor diri, baik pria maupun wanita.

Namun yang kerap kali mulai dilupakan wanita adalah kodrat mereka sendiri yakni sebagai wanita. Yang mana wanita adalah sebagai makmum daripada seorang imam yang notabene nya adalah pria. Para wanita mulai kalap dan rakus hingga melupakan batasan-batasan mereka. Ini tidak dibenarkan oleh Allah.

Baik pria maupun wanita memiliki hak yang sama untuk mencapai kesuksesan dunia. Tapi di masa ini, tak jarang ditemui wanita-wanita yang membanggakan pencapaiannya dan memandang rendah para lelaki yang berada di bawahnya. Padahal seharusnya semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin bijak pula perilakunya.

Lantas bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi?

Hal seperti itu bisa terjadi ketika ilmu yang diserap oleh otaknya tidak memiliki keberkahan. Misalnya ilmu itu di dapat dengan uang haram atau syubhat, bisa juga karena ilmu itu tidak diiringi oleh amal. Sebenarnya hal ini berlaku untuk seluruh umat manusia, tidak hanya wanita. Namun pada zaman ini, para wanita seakan-akan berlomba untuk menjadi nomor satu. Padahal jika di ulik lagi, tujuan belajar dan bercita-cita tinggi itu untuk mendapatkan berkahnya ilmu bukan pencapaian nomor satu.

Mendapat nomor satu adalah bonus dari Allah. Sering kali kita melupakan hal tersebut. Parahnya lagi, tak jarang para wanita berbangga diri hingga tinggi hati. Emansipasi yang digadang-gadang untuk kesejahteraan wanita justru menjadi boomerang untuk para wanita itu sendiri.

Para muslimah haruslah mengkritisi hal ini. berhati-hati untuk senantiasa menjaga niat nya dalam mengerjakan apapun. Jangan sampai hal-hal yang kita kerjakan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Jangan sampai pula hal-hal yang kita kerjakan membawa kita pada bangga diri dan tinggi hati. Ingatlah bahwa diatas langit masih ada langit.

Kita tidak perlu berusaha melampaui pencapaian para lelaki. Luruskan niat dalam bermimpi tinggi bukan untuk semata-mata menjadi orang yang diakui, namun untuk mengambil hikmah dan pelajaran selama proses mimpi tersebut diwujudkan. Hidup di dunia ini bukan pencapaian dunia yang terpenting karena amalan hari kebangkitan kelak jauh lebih penting.

Tetaplah bermimpi tinggi. Jadikan semua semangat juang sebagai wasilah untuk bertemu Allah dengan keadaan terbaik. Teruslah belajar dan beramal. Para pemimpin lahir dari rahim ibu yang cerdas. Karena sebaik-baik pemimpin bukanlah yang memiliki banyak pengikut, namun justru yang mampu menciptakan lebih banyak pemimpin.

Junjung tinggi emansipasi selayaknya Aisyah Radiyallahu ‘anha yang tak henti belajar sehingga menghasilkan banyak riwayat hadits.

Junjung tinggi emansipasi selayaknya Khadijah Radiyallahu ‘anha yang tak lelah berkarir sehingga hartanya mampu bermanfaat bagi banyak orang.

Junjung tinggi emansipasi tanpa membanggakan diri dan meninggikan hati.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *