Oleh : Nur Fitriani
Naskah ialah menjadi bukti sebuah identitas Budaya, berbagai macam cara agar naskah kuno tidak cepat mengalami kepunahan yakni dengan mendigitalisasi naskah-naskah yang tersebar di Indonesia. banyak filolog yang sudah mendigitalisasi naskah, dan kita bisa dengan mudah membaca di berbagai sistus website yang telah disediakan. Seperti naskah berikut ini yang tersimpan di Lektur Kemenag berisi tentang kumpulan doa yang menjadi budaya dari warga naskah ini berasal.
Naskah kuno ini diberi judul kumpulan doa yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist. Judul tersebut tidak dijumpai pada cover naskah atau dalam teks naskah, tetapi diprediksi dari isi kandungan naskah itu sendiri yang banyak berisi ragam doa. Adapun bahasa yang dipakai meliputi tiga jenis bahasa, yaitu bahasa Sunda dipakai ketika penulis memberi penjelasan, tetapi sekali-sekali disisipkan juga bahasa Jawa Sedangkan bahasa Arab dipakai ketika penulis mencantumkan doa-doa dari Al Qur’an atau Hadist. Sedangkan tulisan naskah seluruhanya mengunakan huruf Jawi, Pegon atau huruf Arab Melayu, tulis tangan dengan tinta warna hitam.
Ketebalan naskah seluruhnya 30 halaman, ditemukan di Ciamis pada tahun 2013, dimana setiap halaman terdiri dari 12 baris dengan tidak mencantumkan nomor halaman, tetapi menggunakan tanda sambung ke halaman selanjutnya dalam bentuk tulisan. Jenis kertas sejenis HVS yang sudah agak usang, warna coklat muda dan pada sebagain kertas sudah sobek, sebagian tulisan tidak terbaca.
Pada halaman pertama tertulis: ”Ieu solawat baca hareupeun sitrahna mayit di astana ….Ieu dua paranti ngaraksa nu reuneuh supaya salamet anakna jeung indungna jeung supaya alus rupana, waja hareupeun indungnaa atawa di asupkeun kana kndi paranti nginumna: Allahumahfiz waladayi anu ma dama fi batniha… suratun hasanatun kamilatun jamilatun wa sabbit fii qalbiha… yang artinya: ini solawat dibaca di depan mayit di kuburan…. ini dua doa untuk orang hamil agar selamat anak dan ibunya dan juga agar bagus rupanya….
Terbukti dari naskah itu kita bisa melihat budaya membacakan solawat kepada mayit yang masih sering dipakai umat muslim hingga sekarang. Membacakan solawat dan doa guna untuk mendoakan kebaikan-kebaikan mayit serta menjadi kelapangan bagi si mayit melalui anak-anak soleh yang mendoakannya. Membaca bacaan doa kepada wanita hamil agar selamat kandungannya. ini juga bisa kita jumpai di masa sekarang yang lebih sering menyebutnya 4 bulanan atau 7 bulanan, konteksnya masih sama yaitu agar janin dan ibunya selamat dan anak yang dilahirkan memiliki kecerdasan dan rupa yang indah.
Naskah ini berisi kumpulan doa antara laian 1) doa orang yang sedang mengandung agar supaya selamat yang mengandung dan yang dikandung; 2) doa selamat lahir an batin yang dibaca setelah shalat lima waktu; 3) niat mandi bagi perempuan yang batu melahirkan atau mandi nifas, niat mandi melahirkan, niat mandi janabah, mandi memasuki bulan Ramadan; 3) niat puaas bulan Ramadhan, niat puasa zulhijjah, puasa Rajab,, doa buka puasa; 4) doa ba’da sholat shubuh; 5) Doa ketika menghadapi banyak masalah; 5) Doa minta diampuni dari segala doa; 6) beberapa bacaaan sholawat kepada Nabi Saw; 7) doa untuk orang yang meninggal dunia atau doa Arwah; 8) dan sebagainya
Naskah kumplan doa ini ditutup dengan sebuah doa yang kalimat belumnya tidak terbaca: ” … Wa mulki Sulaemana minal Masyriki wal Magribi wa Insan wa Raihan wa Gomaman wa Salamatan…. fasubhanahu wa Ta’ala Jalla Jalāluhu… Ya Iblisa wasy Syaiṭāna…. wan Nuri Rabbanā taqabbal Sulaimāna biraḥmatika ya Arḥamar Rāḥimīn Amīn. Tammat Wallāhu Aʽlam Biṣawāb Insya Allāh…. Waṣallallāhu ‘alā Sayyidina Muḥammadin wa a‘lā ālihi Waṣaḥbihi Wasallam Walḥamdu Lillāhi Rabbil ʽĀlamīn. Pentingnya merawat naskah kuno, banyak dari mereka yang menjual naskah kuno karena harganya yang sangat menggiurka. Menjual naskah berarti menjual identitas budaya negara kita sendiri, maka itulah perlunya pelestarian agar semua generasi kita merasakan dan bisa melihat secara langsung naskah Nusantara.

No responses yet