Tawakal itu bisa diartikan optimis pada rahmat Gusti Allah. Optimisme ini mustahil kalo cuma diam atau ibadah aja di rumah gak ngapa-ngapain. Karena Gusti Allah meniscayakan sebab2 (asbab) sebagai perantara datangnya rahmat-Nya. Misalnya bekerja.
Ketika kita melakukan asbab, dibarengi rasa yakin dan optimis akan rahmat Gusti Allah, di situlah tawakal. Kalo cuma diam gak ada usaha, dengan apa rahmat itu turun?
Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh
لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا
“Andai kalian bertawakal pada Gusti Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Dia akan memberi rizki seperti Dia memberi rizki pada seekor burung, ketika pagi perutnya kosong dan pulang sore berperut penuh”
Di sini Kanjeng Nabi SAW mencontohkan tawakal secara gamblang. Beliau mencontohkan seekor burung yg pergi mencari makan di pagi hari dan kenyang di sore hari. Artinya, tawakal ya harus ada sebab2 atau amal. Tawakal tanpa amal itu berarti tidak tau apa yg dioptimiskan, tawakalnya palsu.
Bahwa tawakal itu berarti menyadari dirinya butuh rahmat, lalu beramal semampunya sembari sadar bahwa amalnya terbatas. Namun ada rasa optimis bahwa rahmat itu akan datang.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang merupakan makhluk paling tawakal pun bekerja, memakai baju besi saat perang, menyewa pemandu jalan, bersembunyi saat dikejar. Semua itu bukti bahwa tawakal itu butuh asbab sebagai perantara rahmat.
Asbab ini bisa berupa beramal fisik maupun doa. Maka orang yg tidak beramal atau tidak berdoa itu tidak bisa disebut bertawakal.

No responses yet