Hampir dua minggu–6 Mei 2021–sudah Dr. H. Saifudin Zuhri, M. Ag.–selanjutnya disebut Pak Din, meninggalkan kita semua. Kepergian beliau tentunya menyisakan duka yang amat mendalam khususnya masyarakat kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung. Sosok yang pendiam dan irit bicara ini merupakan salah satu punggawa rektorat IAIN Tulungagung, bahkan sejak masih berstatus STAIN. Dedikasi, kiprah, dan kinerja Pak Din di kampus IAIN Tulungagung tak dapat diragukan. Paling tidak jabatan yang beliau emban sejak kiprah beliau di kantor utama kampus mulai tahun 2002 hingga sekarang cukup sebagai bukti. Sejak tahun itu rektorat tak lekang oleh nama beliau.
Pak Din memang sosok yang banyak dikagumi, terlebih sisi kemurahan beliau dalam hal peruangan. Mungkin tidak sedikit mahasiswa yang mengadu kepada beliau, entah permohonan keringanan uang kuliah dan lain sebagainya. Penulis menyakini bahwa sosok Pak Din tidak hanya mudah mengambil kebijakan terkait mahasiswa yang terdesak oleh tenggat waktu pembayaran biaya kuliah. Lebih dari itu, beliau adalah sosok yang amat dermawan.
Bukti bahwa Pak Din adalah sosok yang dermawan penulis alami sendiri. Kisahnya ketika penulis bersama seorang teman mendatangi beliau dengan maksud untuk mengumpulkan biaya tambahan guna membatu seorang teman yang sedang berbaring di rumah sakit kala itu. Kedatangan kami berdua, disambut ramah oleh beliau Pak Din, tanpa basa basi dengan sedikit mengungkapkan maksud menyowani beliau. Dengan senyum khas beliau yang rada irit dan tanpa pikir panjang dan kata-kata pendahuluan beliau langsung menyodorkan uang dari dompet saku beliau 400.000. Dalam ingatan penulis Pak Din adalah penyumbang dengan nominal paling besar.
Kebaikan Pak Din dalam kedermawanan beliau terlebih pada kasus di atas, akan senantiasa menancap tajam dalam ingatan penulis. Pak Din dalam sosoknya yang dermawan, akan terus ada dalam ingatan penulis. Pribadi yang minim kata banyak aksi. Katanya sedikit namun aksinya banyak.
Penulis meyakini bahwa kebaikan dan kedermawanan Pak Din, terdapat dalam banyak kasus. Tidak pula hanya yang penulis saksikan. Boleh jadi banyak mahasiswa yang merasakan kebaikan dan kedermawanan Pak Din. Bahkan mungkin sisi kebaikan dan kedermawanan beliau telah _mujma’ ‘alaih_ disepakati banyak pihak. Serta riawayat kebaikan dan kedermawanan beliau ini sudah mencapai drajat _mutawatir._
Tidak dipungkiri Pak Din adalah sosok yang tidak dapat dilupakan dalam perjalanan IAIN Tulungagung yang setengah langkah lagi menjadi UIN SATU. Di saat nanti IAIN Tulungagung resmi berganti nama dan logo sosok Pak Din tak lagi menunggui. Disinilah kenangan demi kenangan indah dengan sosok Pak Din akan senantiasa ada dk atara ingatan kolega, yunior, dan mahasiswa-mahasiswa yang mengenal beliau. Pak Din memang telah tiada akan tetapi, pastilah akan muncul Pak Din, Pak Din di UIN SATU pada nantinya.
Uraian di atas sejatinya sangat cukup singkat untuk menggambarkan kedermawanan Pak Din. Sangat pendek untuk mengurai sifat dermawan beliau. Di luar yang penulis saksikan tentu masih banyak kisah kebaikan dan kedermawanan beliau.
Besar harapan penulis kelak UIN SATU akan muncul sosok seperti Pak Din, yang lain. Dengan sifat, dan kebaikan yang kurang lebih mirip. Utamanya masalah peruangan. Sosok yang cerdas, amanah, dan irit bicara banyak aksi.
Sebagai penutup, semoga jasa dan kebaikan Pak Din tetap terkenang. Hingga kelak beliau memperoleh drajat tinggi di surga amien. Amin.
Wallahu A’lam Bisshawab
Kediri, 22-05-2021

No responses yet