Oleh : Syaiful Arif

Mengkaji sosok, pemikiran serta kiprah Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D amat menarik dan menghadirkan banyak insight mendalam. “ Pak Dur ”, demikian saya memanggilnya, adalah sosok yang mengamalkan ajaran Islam yang paling mendasar, yakni kasih (rahmat). Tentu sebagai seseorang yang menguasai “pranata negara”, tidak sulit bagi beliau untuk mendistribusikan peran dalam rangka pengembangan diri dan ilmu pengetahuan.

Sebagai sesama orang Kudus (Jawa Tengah), saya bisa merasakan serta memahami nilai, tujuan hidup dan prinsip etis dari beliau. Pak Dur adalah bagian dari warga Kudus Kulon: sebutan untuk kalangan elite Islam di Kudus, di bawah naungan otoritas Menara dan tentu Sunan Kudus. Dalam tradisi ini, agama merupakan panduan hidup, tidak terhenti pada rumusan kognitif intelektual, tetapi perilaku personal. Nilai-nilai agama yang sederhana, yang beliau dapatkan sejak pendidikan usia dini di keluarga, pesantren hingga di almamater kami, Madrasah Qudsiyyah, telah beliau bawa, menerangi cita sejak di negeri Barat, AS hingga kini kala beliau menjadi pejabat di Kementerian Agama RI.

Baca juga : Islam dan Barat : Pengalaman Intelektual “Dakwah Islam Ramah” Prof Dur di AS

Oleh karena itu tak mengherankan jika beliau bisa menjadi salah satu wakil terbaik dari dunia santri untuk dunia Barat. Secara sosiologis hal ini tak mengejutkan, sebab di lingkungan kultural beliau, yakni Nahdlatul Ulama (NU), telah banyak wakil-wakil terbaik seperti beliau. Sebut saja almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan “juru bicara” terbaik dunia Islam tradisional, penerjemah nilai-nilai santri kepada dunia modern. 

Atau, Ulil Abshar-Abdalla “pra-politik” yang sempat “mondok” di Boston University, mengabarkan pandangan Islam kepada masyarakat AS. Dari kekayaan tradisi Islam inilah, Pak Dur menjadi bagian dari wakil terpilih tersebut yang mendialogkan kearifan Islam kepada Barat, dan menjelaskan kreativitas Barat kepada dunia Islam.

Peran sebagai jembatan ini memang dimiliki oleh orangorang yang selalu berada di perbatasan. Artinya, mereka mampu berada di dalam sekaligus melampaui. Pak Dur dan juga Gus Dur adalah sedikit “orang dalam” yang mampu melampaui Islam, justru untuk memperluas cakupan wawasan dan perjuangan agama ini. Pada ranah filosofis hal ini disebabkanoleh pemahaman nondikotomik antara Islam dan Barat, tradisi dan kemodernan.

Bagi mereka, keduanya tidak bisa dihadapkan secara dikotomis, sebab tradisi itu sendiriadalah akar modernitas. Apa yang disebut sebagai peradaban modern Barat adalah bangunan peradaban yang terbentuk akibat proses pelahiran kembali (renaissance) tradisi filsafat Yunani Klasik. Oleh karenanya tanpa tradisi, modernitas tidak akan lahir.

Hal ini yang membuat Pak Dur berusaha memilah “mutiara” dari masing peradaban, dengan memahami Timur sebagai kearifan, sementara Barat sebagai kreatifitas. Timur yang beliau maksudkan tentulah Islam, yang memuat kearifan, berupa nilainilai transendental. Kearifan ini sudah lama dicari oleh masyarakat modern sekular, yang mengalami “tuna wisma transendensi” (transcendental homelessness), meminjam istilah pemikir Hungaria, Georg Lukacs. Artinya, kehidupan modern yang instrumental-fungsional-ekonomis, telah menghilangkan transendensi di dalam ruang sosial masyarakat industri yang satu dimensi.

Akhirnya, orang modern tak menemukan makna di tengah hidup yang berkecukupan secara material. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Peradaban Islam, 20 Maret 2004, Pak Dur mengutip ciri-ciri peradaban hedonistik dari al-Farabi, dalam al-Madinah al-Fadilah. Filsuf abad sepuluh ini mengingatkan masyarakat dunia agar menjahui peradaban yang tidak ideal dengan ciri-ciri; 1) Indispensable, peradaban yang lebih mengedepankan pertahanan hidup, pencarian nafkah sebagai tujuan utama; 2) Vile, peradaban yang dipenuhi dengan iklim penumpukan kekayaan, keserakahan materialisme yang berlebihan; 3) Base,peradaban yang penuh dengan hiburan dan petualangan sensasional, dengan ornamen nafsu syahwat; 4) Timocratic, bertujuan popularitas dan kehormatan; 5) Tyrannical, dimana kekuasaan danpenindasan terhadap kelompok lain menjadi tujuan utama, dan 6) semu demokratis yang tidak memiliki tujuan bersama danberbuat sekehendak mereka.

Menarik kiranya, sebagai orang yang selama 8 tahun hidup di AS, namun tetap memiliki kritisisme atas patologi peradaban Barat. Pak Dur dalam pidato tersebut menyatakan bahwa ciri-ciri peradaban tak ideal ala al-Farabi ini telah menjangkiti dunia modern. Dari sini terlihat bahwa beliau mampu menjaga independensi diri, sehingga tidak terbaratkan meskipun belajar di Barat.

Kritik atas patologi modernitas ini kemudian dibarengi oleh apresiasi mendalam atas keunggulan peradaban Barat, yang secara sederhana beliau sebut sebagai kreativitas. Tentu yang dimaksud dengan kreativitas ini adalah kehendak untuk mencipta berdasarkan peran sentral manusia yang secara maksimal mampu menggunakan akal-budinya. Ini yang melahirkan the spirit of inquiry (semangat meneliti), yang selalu beliau dakwahkan, terlebih setelah menjabat di Puslitbang Kementerian Agama, sebelumnya sebagai Direktur Diktis Pendis, Kemudian menjadi Kabalitbang Diklat, serta juga pernah sebagai Plt. Dirjen Bimas Kristen. Menariknya, Pak Dur tidak Westernis dalam menempatkan spirit riset ini dengan memahaminya sebagai tradisi Barat an sich.

Sebaliknya, beliau telah menemukan spirit tersebut di dalam tradisi keilmuan para ulama muslim, semisal Imam al-Bukhari yang meneliti ribuan hadist sehingga melahirkan shahih Bukhari. Dalam kaitan ini, kreativitas Barat yang menurut beliau paling agung adalah nilai kemanusiaan (humanisme). Oleh karenanya, beliau menggagas perlunya humanisme religius sebagai paradigma baru pendidikan Islam. Gagasan yang ditawarkan melalui buku Menggagas Pendidikan Non-Dikotomik: Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam (2002) ini kiranya merupakan produk pemikiran hasil kontemplasinya sebagai muslim yang belajar di Barat.

Pada titik ini, pendidikan Islam humanistik tetap merupakan kesinambungan dari upaya dialog antara Islam dan Barat yang beliau gagas sejak awal. Logikanya seperti ini: kemunduran peradaban Islam yang terjadi sejak abad ke-12 M, ditandai oleh dikotomisasi ilmu agama dan ilmu non-agama. Ini terjadi misalnya, sejak pendirian Madrasah Nizam al-Mulk yang mengkhususkan diri pada pendidikan agama dengan fiqh sebagai ratu pengetahuan.

Pada satu sisi hal ini bagus sebab memaksimalkan pendidikan agama, namun di sisi lain, telah meminggirkan ilmu-ilmu nonagama dari Islam. Karena dikotomisasi, sejak ilmu agama vs. ilmu umum, wahyu vs. akal, wahyu vs. alam, dan juga dikotomi aliran Islam dalam Sunni vs. Syiah, dsb inilah, umat Islam mengerdilkan kebesarannya sendiri yang sempat terbangun agung selama 4 abad awal sejak kelahiran Islam.

Pada ranah paradikmatik, hal ini juga terjadi dalam dikotomi antara humanisme dan agama, atau bahkan antara (kebebasan) manusia dengan Tuhan. Dikotomi ini yang ingin dihapus oleh Pak Dur dengan menawarkan suatu humanisme religius. Nilai humanistik yang religius atau nilai keagamaan yang humanistik tentu lahir dari kesadaran Pak Dur sendiri, sebagai muslim yang mengetahui, bahwa Islam adalah agama humanistik. Sejak awal Allah telah memuliakan Bani Adam (QS. 17:70) dengan menciptakannya dalam sebagus bentuk (QS. 95:4) dan mendaulat manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi (QS. 2:30).

Puncak dari humanisme Islam ini terletak pada penempatan perlindungan atas hak-hak dasar manusia (al-kulliyat al-khamsah) sebagai tujuan utama syariat (maqashid al-syariah). Dari sini terlihat bahwa humanisme religius ala Pak Dur adalah humanisme Islam. Yakni nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalam ajaran Islam. Humanisme religius ini bukanlah the religion of humanism ala August Comte misalnya, yang mendaulat humanisme sebagai agama, pengganti agama-agama tradisional. Hal ini terjadi karena bagi “bapak positivisme” ini, agama tradisional adalah tahapan peradaban manusia terendah setelah mistik dan sebelum ilmu pengetahuan. “Agama humanisme” ini juga lahir dari asumsi bahwa agama dan Tuhan adalah “kerangkeng baja” yang memenjara kebebasan manusia.

Maka, di mana ada agama, di situ absen kemanusiaan; di mana ada Tuhan, di situ redup manusia! Dikotomi agama dan kemanusiaan yang dibangun oleh tradisi humanisme sekular Barat inilah yang berusaha dihapus oleh Pak Dur melalui humanisme religius. Menurutnya, terbalik: agama, terlebih Islam, sangat memuliakan manusia dan menjadikan Anak Adam ini sebagai subjek sekaligus tujuan kesejahteraan bumi (rahmatan lil ‘alamin).

Dengan menempatkan humanisme religius sebagai paradigma pendidikan Islam, maka pendidikan ini dan Islam itu sendiri tidak akan lagi mengalami dikotomisasi. Mengapa? Karena pendidikan Islam humanistik adalah pendidikan yang melingkupi “ranah ketuhanan” dan “ranah manusiawi”. Ranah pertama berada di dalam ilmu agama, sementara ranah kedua berada di dalam ilmu alam, sosial dan humaniora. Tawaran paradigmatik ini sebenarnya lahir dari pemahaman Pak Dur bahwa Islam bukanlah agama dikotomik. Sejak awal, agama ini menempatkan dunia sebagai “medan pengabdian” kepada Tuhan.

Surat Ali Imron : 191 menyebut orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang berdzikir, mengingat Allah, dan merenungkan kebesaran-Nya di seluruh ciptaan jagad raya. Dengan demikian, al-Qur’an jelas tidak membedakan apalagi membenturkan aktifitas fikir dan dzikir, sebab muara dari segenap pemikiran manusia adalah puja-puji kepada Allah Sang Maha Pencipta: Rabbana maa khlataqta haadza baathila! Oleh karena itu, dikotomisasi ilmu agama dan non-agama adalah kecelakaan sejarah, kreasi umat tertentu akibat kepentingan politik tertentu. Maka tawaran dedikotomisasi oleh Pak Dur, merupakan upaya untuk kembali pada bangunan peradaban Islam yang integral.

Pada ranah pedagogis, pendidikan Islam humanistik ini juga berdampak pada pola pendidikan yang menempatkan anak didik sebagai manusia. Bukan hanya objek pendidikan yang pasif. Sebagai manusia, anak didik memiliki potensi kemanusiaan yang harus dikembangkan, sehingga tujuan pendidikan tidak hanya aktivasi pengetahuan kognitif melalui metode hafalan, melainkan penyentuhan kesadaran hingga ranah afektif dan psikomotorik. Akhirnya anak didik tidak hanya belajar tentang “apa saja sifat sesuatu?” tetapi juga “bagaimana sesuatu seharusnya bersifat?”

Pedagogi Islam humanistik juga tidak hanya menempatkan anak didik sebagai umat beragama yang menjadi objek indoktrinasi tanpa nalar dan kebijaksanaan; tetapi sebagai calon para wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardli) yang harus digali dan dikembangkan potensi kepemimpinannya. Pendidikan Islam humanistik akhirnya memang memiliki dampak logis yang laten: dari menjadikan ajaran agama sebagai pusat indoktrinasi, menuju penempatan manusia sebagai makhluk bernalar di dalam beragama.

Humanisme religius sebagai paradigma pendidikan Islam merupakan tawaran beliau dalam rangka dialog Islam dan Barat. Pada titik ini, Pak Dur telah mendialogkan dua kutub sekaligus. Atas sifat sekular dari humanisme, beliau mendialogkan sisi religius Islam yang menyempurnakan nilai kemanusiaan Barat. Atas legalformalisme Islam yang dehumanistik, beliau mendialogkan nilai-nilai kemanusiaan yang diagungkan Barat, untuk mengembalikan sifat dasar Islam yang humanistik.

Akan tetapi pekerjaan beliau tidak berhenti di sini. Dalam disertasinya, The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching (1997), Pak Dur kembali lagi pada akar kulturalnya, yakni pesantren. Melalui penggalian dan perumusan model keilmuan para ulama arsitek pesantren seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Mahfudz Termas, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Khalil Bangkalan dan Kiai Nawawi Banten, beliau memaparkan biografi intelektual dari para ulama tradisional. Tentu karya ini merupakan dedikasinya atas dunia yang melahirkan dan membesarkannya.

Menariknya, karya ini tidak hanya penting bagi komunitas pendidikan Islam, tetapi juga urgen bagi umat Islam Indonesia secara umum. Mengapa? Karena Pak Dur menjelma antropolog Islam yang memaparkan proses pribumisasi Islam ke ranah budaya Jawa. Modeling dakwah dari Walisongo menjadi pijakan teoritis bagi perumusannya atas Islam Indonesia yang bersifat kultural. Hanya saja puncak dari budaya Islam ini tidak terhenti di dalam karya seni atau praktik ibadah yang oleh kaum puritan dianggap sinkretik.

Puncak dari peradaban Islam Indonesia adalah tradisi “Islam metodologis” dengan pesantren sebagai pusat “Islam ilmiah”.

Artinya, perumusan biografi intelektual para pendiri pesantren di Jawa merupakan bukti bahwa penempatan Islam sebagai khasanah ilmu pengetahuan merupakan corak umum keislaman di Indonesia. Ini yang membedakan Islam “asli Indonesia” dengan kecenderungan “Islam Arabis” yang menempatkan agama sebagai ideologi. Bagi Islam pesantren, Islam adalah ilmu pengetahuan. Maka dalam penerapan syariat, metodologi hukum Islam yang dikedepankan sehingga penerapan tersebut bersifat kontekstual. Hal ini berbeda dengan “Islam ideologis” yang tidak menempatkan Islam sebagai ilmu.

Alhasil, penerapan syariat tanpa metodologi menghasilkan formalisasi simbolik yang mencerabut muslim Indonesia dari akar kulturalnya. Dalam kerangka dialog Islam dan Barat, karya monumental Pak Dur ini merupakan pijakan dasar dari keislaman beliau yang bersifat tradisional. Mutiara tradisi Islam inilah yang beliau khabarkan di AS sebagai bukti bahwa Islam bukanlah pedang dan terorisme, melainkan kedisiplinan ilmu agama yang tinggi, di tangan para ulama suci.

Pengantar Buku “Auotobiografi Prof. H. Abdurrahman Mas’ud MENDAKWAHKAN SMILING ISLAM : Dialog Kemanusiaa Islam dan Barat.” Penerbit Pustaka Compass. hlm. vii-xiv

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *