Menikmati buku baru, “PBNU: Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama,” karya Katib ‘Am PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, sebuah buku tipis namun sarat ma’na yang memuat 5 bab utama: Islam di Tengah Dunia yang Berubah, Merintis Peradaban Baru, Mengenali Jati Diri dan Kehendak Organisasi, Menuju Pemerintahan Nahdlatul Ulama, serta Makrifat Organisasi dan Takdir Peradaban.

***

NU lahir pada 31 Januari 1926 atau beberapa tahun setelah keruntuhan peradaban Kekhalifahan Turki Usmani, akibat Perang Dunia I. Padahal, saat itu Kekhalifahan Turki Usmani merupakan representatif dunia Islam. Meski demikian, Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia, waktu itu) tidak ikut mengalami kekalahan, karena negeri ini bukan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmani, meskipun kondisinya juga tidak sebaik era sekarang karena Nusantara masih dalam masa imperealisme Belanda.

Dalam kondisi demikian, umat Islam Nusantara pun mencari-cari peradaban baru seperti apa yang harus bisa dibuat. Maka dari itu, muncul lah usulan dari KH. Abdul Wahab Hasbullah untuk mendirikan sebuah jam’iyyah, sebuah organisasi, –kelak bernama: Nahdlatoel ‘Oelama (NO),– sebagai solusi dari runtuhnya peradaban lama.

Namun, usulan tersebut tak langsung disambut. Guru dari Kiai Wahab, Hadratusyyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari perlu meminta persetujuan dari gurunya, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. 

Setelah beberapa waktu berjalan, dengan proses istikharah dan mujahadah, akhirnya Syaikhona Khalil memberikan petunjuk dan perlambang kepada KH. M. Hasyim Asy’ari berupa “tasbih dan tongkat Musa.” Dari situlah, Umat Islam, yang berbasis pada tradisi pesantren, diberikan izin untuk mendirikan sebuah jam’iyyah, sebagai organisasi yang dipersiapkan untuk menyongsong peradaban baru, menggantikan konstruksi lama. Karena ya, organisasi ini diberi nama Nahdlatoel ‘Oelama’: Kebangunan para ulama’.

Menurut Gus Dur, Nahdlatul Ulama diilhami oleh kalimat Ibnu Atha’illah dalam al-Hikam yang berbunyi: “La tash-hab man la yunhidluka ilallahi haaluhu wa laa yadulluka ilallahi maqooluhu,” “Janganlah engkau jadikan sahabat atau guru orang yang amalnya tidak membangkitkan kamu kepada Allah.” Lebih lanjut, menurutnya, kata ‘yunhidlu’, artinya membangkitkan, dan yang bisa membangkitkan adalah seorang ulama, maka lahirlah Nahdlatul Ulama. Usulan kata ‘Ulama’ memang dari banyak kiai, tapi yang merangkum menjadi kata-kata Nahdlatul Ulama itu adalah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. (NU Online, 12/2012).

Dengan demikian, nama NU memiliki arti yang sangat mendalam, yakni kumpulan para ulama dan pengikutnya yang bangkit dan bergerak untuk merintis, merespon serta memberi tanggapan terhadap berbagai perubahan peradaban yang terus berkembang.

Maka dari itu, NU bertugas untuk mencari peradaban baru untuk umat Islam pasca runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani. Bahkan, hingga saat ini NU telah menjadi rujukan bagi umat Islam global dalam mewujudkan peradaban baru yang lebih mulia, dan harmonis yang memiliki kesetaraan hak dan martabat dalam bingkai Islam washatiyyah!

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *